Thursday, 30 December 2010

Perjalanan cinta Avanda

           Hai. Namaku Avanda Nindya Tasya. Aku duduk di bangku SMA kelas sebelas jurusan IPS. Aku mau curhat nih. Aku sedang suka dengan seorang lelaki anak IPA, kelas dua belas, Tio Herdinata. Anaknya gak terlalu cakep, tapi manis di mataku. Tio cowok berkacamata, tinggi, sawo matang, dan pintar dalam bidang basket.
            Tio yang biasanya kupanggil “kak”, orangnya cuek banget. Bangeeeeeettttt!!! Pernah kusapa disuatu pagi. Kupanggil namanya, “Kak Tio…”. Dia hanya menoleh, tersenyum sedikit. Eh lebih tepatnya SECUIL, lalu ia pergi. Dan di perpustakaan. Aku pernah gak sengaja menjatuhkan buku, eh Kak Tio lewat. Aku hanya memandangnya, dan dia pun begitu. Aku harap ia menolongku mengemasi buku-buku itu. Eh, dia hanya lewat meninggalkan diriku bekerja sendiri. Susah banget deh deketin dia.
            “Jaaahh. Kak Tio kan terkenal karena cueknya itu. Udahlah, cowok seperti dia kok masih diharapkan sih. Tinggalin aja…”
            Nita nih gak tau ya rasanya menyukai cowok bagaimana? Seandainya, kamu sebagai cewek, menyukai seorang cowok. Apa yang kamu lakukan? Kalau aku sih melihatnya terus sepanjang jam istirahat, menungguinya bermain basket, tersenyum kepadanya saat ia melihatku, dan lain-lain.
            Aku geleng-geleng kepala. “Setidaknya, aku bisa mencapai targetku. Smsan sama dia. Bantuin aku dong Nit…”
            “Yaelah. Bantuin gimana Da? Aku aja gak kenal dia. Gimana sih kamu?”
            Aku berfikir sejenak. “Tapi, sepupumu, si Adi itu, deket kan sama Kak Tio?”
            Nita terdiam. “Iya. Memang. Terus? Rencana kamu apa?”
            Aku tersenyum lepas. Kubisikkan rencanaku padanya. Untuk permulaan…
            “HAH?? Nekat kamu!”
            “Plis dong Nit. Aku rela deh ditimpuk bola basket sama sepupu kamu itu. Sepupu kamu itu pandai main basket juga kan?”
            “Iya, tapi kalau kamu pingsan beneran gimana?”
            “Bagus dong! Aku semakin diperhatikan sama Kak Tio. Ya kan?”
            Nita geleng-geleng kepala. “Aku gak mau tanggung resikonya.”
           
            Jam istirahat pun tiba. Nita pergi ketempat sepupunya itu. lalu kembali lagi ketempatku.
            “Udah?”tanyaku.
            “Udah. Ya ampun. Kamu rela abisin uang jajan kamu tiga puluh ribu hari ini demi bayar Adi? Dia geleng-geleng kepala tau gak? Apalagi, dia sedikit gak tega. Kamu tau kan si Adi itu pernah suka kamu? Dan mungkin sampai sekrang dia masih suka kamu.”
            “Trus, kenapa dia mau lakukan rencana aku?”
            “Aku bilang aja yang sejujurnya. Terus dia agak gak suka gitu sih. Tapi akhir-akhirnya dia bilang iya. Demi kamu katanya.”
            “Aneh banget sih. Suka sama aku, tapi mau nyakitin aku. Tapi gak apa-apa deh. Jika mau mendapatkan sesuatu, mesti mengorbankan sesuatu juga.”
            Nita geleng-geleng kepala lagi. “Terserah kamu deh Vanda...”
            Dan para pemain basket pun memasuki lapangan. Yap. Ada Kak Tio. Semoga berjalan lancar!
            Aku duduk dipinggir lapangan. Kali ini  sendirian, tidak bersama dengan Nita. Sambil berpura-pura membaca buku Sejarah dan menghabiskan cokelat Beng-Bengku. Duh. Kok tiba-tiba deg-degan sih? Hmm, caraku ini norak gak sih? Apa aku batalkan saja ya? Aku tiba-tiba takut nih. Takut kalau Kak Tio malah meninggalkanku sendirian saat aku terjatuh nanti. Bikin malu itu namanya! Apalgi di lapangan basket.  Kulihat Adi. Dia sepertinya juga sibuk bermain basket. Namun, aku masih menunggu. Kututup buku Sejarah, dan kulihat ia bermain bola dengan lihainya. Dan, nihil, dia masih belum melihatku. Huft. Ya sudah deh. Aku lebih baik pergi aja…
            BRUUUKKK.
            “AUU!!!”. Kepalaku sakit banget. Aduh kok kepalaku berat banget? Eh kok aku gak bisa lihat?

           
            Aku terbangun di tempat yang empuk. “Duuhh”lirihku.
            “Masih sakit?”
            Aku ternganga. Kak Tio? Waahh. Sepertinya rencana aku berjalan lancar tadi. Baguslah. Terima kasih ya Adi. Hihi. Sumpah, seneng banget bisa sedekat ini sama Kak Tio!!
            “Hmm, lumayan kak…”jawabku dengan sedikit tersenyum.
            Ia mengelus dada. “Syukurlah.”
            “Hmm, tadi aku kenapa kak?”tanyaku pura-pura tidak tahu.
            “Kena bola basket. Maaf, tadi aku yang lempar bolanya. Gak sengaja kena kepala kamu.”jawabnya singkat, padat dan cepat. Walaupun ia minta maaf, tapi aku gak ada lihat wajah bersalahnya. Dasar cowok cuek. Sabar Vanda.... Positif thinking aja. Walaupun cuek, tapi dia mau nungguin aku di UKS. Baik ya dia. Senangnyaaa…
            “Ohh. Gitu.”aku berusaha menyembunyikan rasa senangku. Sambil mengelus-ngelus kepalaku mencoba membuat dia sedikit khawatir. Eh, ternyata tidak. Dia malah meletakkan botol Aqua yang masih penuh didepanku. Lalu pergi.
            “Ehh, ini air siapa kak?”teriakku saat ia beranjak pergi.
            “Udah, minum aja.”
            Dan dia benar-benar pergi. Tanpa mengucapkan maaf, ataupun pamit. Sumpah! Ni cowok bener-bener keterlaluan. Eh, tunggu. Kok yang lempar Kak Tio sih? Bukan Adi? Kalau Adi yang lempar sih gak apa-apa. Ini? Malah Kak Tio. Udah dia yang ngelempar aku pake bola basket, eh dia gak ada ngerasa bersalah lagi. Sebel! Tapi, dia perhatian juga sih tadi. Nanyain kepala aku masih sakit apa enggak. Akupun senyum-senyum sendiri.

            “Hmm, misterius banget ya targetmu itu.”kata Nita setelah kuceritakan apa yang terjadi padanya.
            “Entahlah. Tapi walaupun dia agak jahat, aku enggak bisa ngilangin perasaan suka aku ke dia. Eh, Adi mana? Tahu gak, yang lemparin bola basket tuh Kak Tio, bukan Adi.”
            “Ohh. Hmm, sebenarnya Nda, Adi itu gak tega sama kamu. Pas aku ke kantin, Adi ngembaliin uang kamu. Katanya dia gak butuh. Aku juga gak ngerti. Tapi pas aku cari-cari kamu ada dimana, kata Lisa kamu di UKS. Aku kira dia gak tega karena ngambil uang jajan kamu…”
            Hmm, pantaslah, pikirku. Kuambil uang jajanku yang ditolak Adi itu. Sampai sekarang dia gak bisa menghilangkan rasa sukanya ke aku ya? Aku jadi merasa bersalah. Kau tahu maksudku kan? Begini. Kau suka dengan seseorang yang sangat dekat dengan orang yang menyukaimu. Dan pasti kau juga merasakan bagaimana kecewanya orang yang menyukaimu itu saat tahu kau sedang menyukai teman dekatnya. Awalnya ku pikir sangat bagus kalau Adi tahu yang sebenarnya. Sehingga ia bisa menghilangkan perasaannya terhadapku dengan begitu mudahnya. Tapi, kau lihat sendiri kan? Aku jadi merasa aku adalah orang yang terjahat di dunia. Padahal, Adi tidak pernah berbuat kasar ataupun menghindariku. Dia selalu baik terhadapku. Huft. Maafkan aku Adi…

            Bel pun berbunyi. Waktunya pulang sekarang. Namun aku berbalik arah dari arah rumahku. Aku sengaja membuntuti Kak Tio. Aku penasaran tentang keberadaan rumahnya. Kata Nita, Nita pernah melihat Kak Tio memasuki sebuah rumah yang besaaaarrrr banget yang gak jauh dari sekolah. Maka dari itu, Kak Tio selalu jalan kaki setiap pergi ataupun pulang sekolah.
            Setelah memberitahu ojek langgananku agar tidak menjemputku, aku langsung bersembunyi di balik pohon mangga depan sekolah. Ku dapati Kak Tio sedang membeli air kelapa disana. Setelah itu ia pergi.
            Aku berjarak sekitar 5 meter darinya. Untuk beberapa kali ia melihat kebelakang, namun aku selalu berhasil bersembunyi. Hihi. Sudah delapan menit kuikuti langkahnya. Capek juga. Rumahnya yang mana sih?
            Kali ini ia menyebrangi jalan yang cukup lebar namun sepi. Untungnya bukan jalan raya. Aku paling tidak pandai dalam hal menyebrang. Selalunya yang membantuku menyebrang adalah mama, atau Kak Gina dan Nita.
            Teeeeeeetttt !!! Teeeeetttt !!!!
            “Auwww!”
            Aku tersungkur. Aduuhh, sakit! Sepeda motor yang menabrakku itu malah pergi. “Aduuh”lirihku. Kakiku dan tanganku lecet. Aku rasa aku ditabrak dari belakang deh. Ah! Sial! Disekolah dilempar bola basket, sekarang ditabrak tukang ojek. Huh!
            “Kamu gak apa-apa?”
            Aku sedikit terkejut. Mampus! Kak Tio! Hancur sudah. Kucoba untuk menutupi luka lecetku itu. Aduh, luka lecetnya lumayan gede lagi. sakit banget pula. Aku pun menggeleng.
            Ia membantuku berdiri dan membawaku kepinggir jalan dan kami duduk bangku yang tak jauh dari tempatku ditabarak tadi.
            “Kamu gak bisa pulang sendiri.”
            “Eh, bisa kok kak. Bisa bisaa…”
            “Memang rumahmu dimana? Aku jarang melihatmu disekitar sini.”
            Deg. Bagaimana ini?
            “Hmm, anu, tadi mama suruh ke rumah tante. Rumah tanteku disekitar sini kak…”kucoba mengingat-ingat nama jalan yang kulalui dari tadi. ”….di jalan cempedak…”
            “Jalan cempedak? Kan udah lewat?”
            Iya ya! Aduh bego! “Hmm, tante saya ternyata gak ada dirumah kak. Terus… saya…. Saya lupa jalan pulang. Aduh, sakitt…”lirihku pelan.
            Ia membetulkan kacamatanya. Merogoh tasnya, dan ia mengambil botol yang berisi air putih dan tisu. Setelah ia basahi tisunya, ia bersihkan luka di lututku.
            “Aww aww…”lirihku lagi.
            Ia mendongak. “Ini, bersihkan sendiri.”
            Ia memberikan tisu basahnya. Aduh, perih nih. Lirihku dalam hari. Tapi… gak apa-apa deh, ada hikmahnya juga ditabrak sama tukang ojek sialan itu. Dua kali ditolong sama Kak Tio hari ini… Mimpi apa sih aku tadi malam? Hihi. 
            Kutiup lukaku itu. Masih terasa perihnya. Aduh, mama bisa marah nih kalau liat lukaku. Aku juga gak tau bagaimana caraku untuk pulang kerumah sekarang. Bagaimana ini? Jalanan pun sepi. Ojek terakhir yang lewat jalan ini hanyalah ojek yang menabrakku tadi. Atau aku telefon aja ya ojek langgananku? Tapi aku tidak tahu aku berada dimana. Lagian, masa aku tanya Kak Tio aku berada dimana? Kan tadi aku bilangnya kerumah tante. Impossible banget gak tahu ini jalan apa.
            Hening. Hening untuk sekitar dua puluh menit. Aku sama sekali terdiam sekarang. Tidak tahu apa yang mesti aku ucapkan atau yang mesti aku lakukan.
            “Jadi?”
            Hmm maksudnya? Kupasang raut wajah membingungkan. Kak Tio ngomong apa sih? eh, loh, kok dia ketawa?
            “Hahaha. Lucu.”
            “Lucu?” aku benar-benar bingung.
            “iya, muka kamu lucu banget kalau lagi gak ngerti. Hmm, maksudku, jadi kamu pulang gimana?”
            “Gak tauu…”bisikku.
            “Kenapa?”
            “Eh, hmm samaa…”
            “Biar kuantar. Rumahmu dimna?”
            “Sukarno Hatta kak.”
            “Ohhh. Tunggu disini.”
            Aku mengangguk. Baik banget kakak ini. walaupun ia tertawa, tapi kegagahannya tetap ada. Dan sekarang, dia NGATERIN AKU PULAAAAANGGG !!!! OMG. Baiiikk banget diaaa….
            Dan ternyata rumahnya tuh hanya lima meter dari tempat aku duduk. Dan benar. Rumahnya mirip istana! Temboknya tinggi, sekitar dua meter, rumahnya bertingkat dan halamannya luas, berwarna cokelat, dan mobil berjejer digarasi. Sumpah. Menandingi istana presiden mungkin. Gedeeeee banget! Pernah lihat hotel berbintang lima? Nah rumah Kak Tio seperti hotel berbintang tiga. Bayangkan saja sebesar apa rumahnya.
            Sebuah mobil sport berhenti didepanku. Kak Tio turun dari sana. Masih mengenakan seragam sekolah, namun tidak dengan sepatu, melainkan sandal jepit. Aku pernah melihat iklan mobil sport ini. kira-kira mobilnya seharga delapan miliyar! Tajir banget sih nih orang… Eits, jangan bilang aku buta akan hartanya ya, aku hanya kaget. Dari penampilannya yang sangat sederhana, ternyata dia anak seorang pejabat. Ckckck.
            Ia mngulurkan tangannya. “Sini…”
            Aku mencoba berdiri, dan merangkulnya. Tahukan rasanya sehabis ditabrak orang dan mendapati luka lecet saat berdiri? Nyeriii banget.
            Ia merangkulku perlahan memasuki mobil. Dan kami pun pergi.
            “Hmm, makasih ya kak sudah menolongku hari ini.”
            “Iya, sama-sama. Lain kali nyebrang itu hati-hati…”
            “Hmm, iya kak. tadi sedikit melamun aja.”
            “Kelas berapa kamu dek?”
            “Kelas sebelas kak…”
            Dan sepanjang perjalanan kami tak henti-hentinya mengobrol. Dari topik bagaimana perasaanku saat awal masuk SMA Gempita hingga bagaimana ia bisa menjadi pemain basket yang hebat dikelasnya. Dan hilanglah prasangkaku tetang dirinya bahwa ia adalah orang yang sangat sangat sangat cuek. Ternyata Kak Tio itu orangnya asyik banget. Gak jaim, tapi sopan. Dan dia punya selera humor juga.
            “Kak, kakak nyadar gak sih kalau kakak itu cuek banget?”
            “Hah? Masa? Hmm, lumayan ngerasa sih. banyak yang menjauh sekarang.”
            “Loh, kenapa?”
            “Entahlah. Bahkan gak cuma sekali atau dua kali kakak denger orang-orang bilang kakak sombong. Mungkin karena penampilan kali ya…”
            “Hmm, mungkin. Kak, ini rumahku.”
            Mobilpun menepi. Ia turun dari mobil dan membuka pintu mobil untukku. Aku serasa puteri! Kuberusaha untuk menahan rasa senangku itu. Tapi gak bisa. Tiap detik aku selalu tersenyum.
            Ia mengantarku masuk kedalam rumah. Untuk sejenak, ia seperti mencari sesuatu.
            “Mana mamamu?”tanyanya.
            “Lagi kerja kak.”
            Ia mengangguk. “Terus yang ada dirumah siapa?”
            Kak Gina tiba-tiba keluar dari kamar. Untuk beberapa detik dia melongo. Haha. Pasti dia terkejut aku bisa membawa cowok sekeren Kak Tio ke rumah.
            “Kamu kenapa Nda?”Tanya Kak Gina.
            “Ditabrak kak…”
            “Hah? hmm makasih ya udah nganterin Avanda pulang…”dengan ramahnya Kak Gina tersenyum.
            Kulihat Kak Tio juga agak sedikit kaget dengan senyumannya Kak Gina. Lalu dengan gagapnya ia berkata, “Iya, sama-sama.”
           
            Semenjak kejadian itu, aku jadi lebih dekat sama Kak Tio. Tak jarang ia selalu mampir ke kelasku untuk mengajakku ke kantin, dan mengantarkanku pulang ke rumah. Dan gak heran, satu sekolahku melirik aku dan Kak Tio. Aku juga jadi sering salting sih dilihatin dengan mata-mata yang… hmm, you know right? Bagaimana pandanganmu terhadap cewek yang dekat dengan cowok yang terkenal karena keahlian basketnya dimana cowok tersebut dimata-matai oleh banyak wanita?
           Satu dampak negative yang aku dapatkan. Adi jadi makin menjauh dariku. Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya ia kurang menyukai hubunganku dengan Kak Tio. Ya, walaupun kami masih sebatas teman, tapi aku menginginkan kami bisa lebih dari itu. Hihi.
            “Hey!”
            Aku tersentak kaget seketika orang yang sedang kupikirkan itu menghampiriku. “Kakak bikin aku kaget saja.”
            “Hehe. Ntar pulang bareng ya.”katanya.
            “Oke deh. Tungguin adik ya didepan.”lanjutku.
            “Sip. Kakak pergi dulu ya, tadi mampir cuma karena pengen pulang bareng aja.”
            Aku mengangguk kencang. Ia pun pergi dengan meninggalkan sebuah senyuman termanisnya itu.
            Aku yang sedari tadi duduk dan senyam senyum sendiri, sedikit merasa risih dengan tatapan Nita yang dari tadi juga duduk disebalahku.
            “Kenapa?”tanyaku.
            “Hm, heran saja.”katanya.
            “Heran kenapa?”
            “Hmm, begini.” Ia meletakkan buku catatan biologinya dan menarik nafas sejenak. “Sudah lebih dari delapan kali Kak Tio mengajakmu pulang bareng. Dan kau juga sangat dekat dengannya. Tapi, kau masih belum bisa memenuhi targetmu untuk bisa smsan sama dia. Ya, maksudku dia mungkin terbuka denganmu. Tapi, apa bukan suatu kecurigaan kalau dia masih belum memberi sinyal kepadamu?”
            Aku berpikir sejenak. “Menurutmu aku harus bagaimana?”
            “Entahlah. Mungkin kau perlu menunggu. Barang kali sepulang sekolah hari ini, ia menembakmu.”
            Ucapan Nita yang terakhir itu benar-benar membuatku anganku jauh tinggi melayang. He will? Pikirku. Ku harap begitu.
           
            Aku masih terus memikirkan ucapan Nita saat istirahat tadi. Benar juga sih. Tapi aku tidak pernah jenuh menunggu kak Tio untuk menembakku. Dan, aku juga senang dengan hubunganku dengan Kak Tio sekarang. sebuah mobil jaguar tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Jendela kaca itu terbuka. Yap. Kak Tio duduk di bangku setir mobil itu. “Masuk.”katanya.
            Aku menurut. Tanpa pikir panjang, Kak Tio langsung mengendarai mobilnya menuju rumahku. Aku juga heran sih. Tumben-tumbennya Kak Tio mengantarkanku pulang dengan mobil Jaguar ini. Asal kau tahu, ia biasanya mengantarku dengan motor sportnya yang besar itu.
            “Kenapa kakak mengendarai mobil ini untuk mengantarku pulang?”
            “Oh. Hmm, aku membawa barang.”katanya. aku menoleh ke jok belakang. Waaaahhhh. Kudapati kotak besar dengan hiasan pita diatasnya. Kotak biru itu sangat indah dengan gambar-gambar beruang yang lucu.
            “Hmm, kotak itu untuk apa kak?”
            Sesaat ia tersenyum dan memandangku. “Kamu akan tahu nanti. Hmm, ingat ya Vanda. Apapun yang aku lakukan nanti, kamu akan selalu jadi adik aku.”
            Benarkah?? Benarkah bahwa apa yang dikatakan Nita disekolah tadi akan terjadi? Aduh, aku jadi gerogi nih. Kau tak tahu arti tatapannya kepadaku yang memendam sebuah rahasia. Sungguh, aku sangat tidak sabar saat ia menembakku dan tidak sabar juga melihat isi dalam kotak itu.
            Kami pun berhenti di depan rumahku. Dengan perlahan aku masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. “Kak, aku masuk duluan yah, ganti baju dulu.”tukasku. Kak Tio hanya mengangguk saat ia hendak mengambil kotak biru nan indah itu.
            Aku benar-benar tidak habis pikir. Kak Tio sangat romantis juga ya orangnya. Buktinya, ia rela memberikanku hadiah dengan kotak sebesar itu. Wah, aku sangat gugup sekarang. bagaimana ini? Ingin sekali aku menelpon Nita saat ini juga. Tapi aku tak ingin membuat Kak Tio menungggu.
            Aku pun keluar dari kamar dengan kaos pink dan celana jins selutut dan merapikan rambutku. Mobilnya masih diluar. Untunglah…
            Tapi? Apa-apaan ini? Kulihat Kak Tio tiba-tiba memegang tangan Kak Gina di bangku teras. Ku intip mereka dari dalam rumah. Karena pintu rumah terbuka, aku bisa dengan jelas mendengar perkataan mereka.
            “Jadi, sudah lama kau menyukaiku?”kata Kak Gina.
            “Iya. Aku menyukaimu dari saat kita pertama bertemu. Setiap malam aku selalu memikirkanmu. Dan baru sekarang, aku berani mengatakan kejujuran yang kupendam sejak dulu itu. Mau kah kau menjadi pacarku?”
            Aku menutup mulutku. Air mataku keluar. Aku menangis. Seketika itu aku memasuki kamar dan membanting kuat pintu kamarku. Kenapa Kak Tio? Kenapa?? Kenapa kakak berikan harapan untukku? Kenapa Kak Tio selama ini sangat baik terhadapku? Dan kenapa Kak Tio tega memeperalat aku agar bisa mendekati Kak Gina? Aku tahu, aku sangat kecil jika di banding Kak Gina yang cantik dan dewasa itu. Tapi, apa Kak Tio harus sekejam ini dengan hatiku? Aku menangis lagi.

            Besoknya aku kembali bersekolah dengan lunglai. Kau tahu apa yang terjadi ketika aku selesai menangis? Kak Gina menerima permintaan Kak Tio untuk menjadi pacarnya dan ternyata kotak biru itu berisi boneka beruang berwarna putih dengan bantal hati merah yang bertuliskan “Tio sayang kamu” yang khusus diberikan kepada Kak Gina. Awalnya, ia menanyaiku kenapa mataku sembab. Namun aku tidak menjawab. Aku takut ceritaku tentang perasaanku sebenarnya merusak suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga itu.
            “Ya ampun Vanda ! kenapa kamu gak bilang aja yang sejujurnya sama kakak kamu?”
            “Dia sudah baik sama aku Nit, dia yang nemenin aku pas mama papa kerja. Dia yang menjaga aku. Dia memang pantes dapetin Kak Tio. Dan aku percaya kok, Kak Tio orang yang tepat buatnya…”kataku sambil menghapus deraian air mata yang keluar secara perlahan dari mataku.
            “Tapi apa kamu enggak sakit hati dengan perlakuan Kak Tio yang sudah mempermainkanmu?”
            Aku menggeleng. “Menurutku, Kak Tio gak bermaksud begitu. Ia hanya butuh teman dekat. Dan mungkin ia percaya padaku. Lagian, aku ingat bahwa ia hanya menganggapku adik.”
            Nita menggeleng kepala. “Kamu memang orang baik Nda. Kamu pasti dapetin cowok lebih baik dan lebih perfect dari Kak Tio. Percayalah.”

            Hari ini Kak Tio mengajakku pulang bareng lagi. Walau berat aku untuk menerimanya, tapi ia pacar Kak Gina sekarang. Dan aku juga harus tetap bersikap baik dengannya. Bagaimanapun juga, ia sudah menggapku sebagai adik dan aku harus menghargainya.
            “Dek, kenapa murung gitu mukanya?”sapa Kak Tio ketika aku sampai ditempat parkir.
            Aku menggeleng lesu. “Gak kenapa-kenapa.”
            “Sini, duduk samping kakak.”katanya sambil menarik tanganku ke sebelah tubuhnya dan kamu duduk diatas motornya. Aku masih menunduk lesu. Kak Tio tahu gak sih perasaanku yang hancur ini? Huft.
            Setangkai mawar tiba-tiba muncul dihadapanku. Namun aku masih tak kuat untuk mengangkat wajahku dan melihat siapa yang berdiri dihadapanku. Beberapa menit kemudian, muncul lagi boneka beruang besar yang indah berwarna biru. Seketika itu aku langsung melihat Adi yang muncul dihadapanku. Ia tersenyum sambil menggaruk-garukkan kepalanya.
            “Haha. Avanda, asal kamu tahu ya, selama ini aku deketin kamu cuma pengen tahu, kamu itu seperti apa. Baik atau tidak untuk dijadikan pacar oleh adik tiriku yang satu ini.”
            Aku menoleh kek Kak Tio. ADIK TIRI???
            Sepertinya Kak Tio bisa membaca pikiranku, lalu ia berkata. “Benar Vanda. Adi adik tiri aku. Namun kami sengaja merahasiakannya. Bahkan sahabatmu Nita pun tidak berani untuk mengatakan yang sebenernya sama kamu karena aku selalu mengancamnya.”
            Aku masih ternganga. Ku alihkan pandanganku pada Adi yang sedari tadi berdiri mematung.
            “Hmm, Avanda Nindya Tasya… mau gak kamu jadi… hmm…”
            “Cepet bilang! gue mau ke rumah Vanda nih, ketemu pacar gue.”bentak Kak Tio sambil sedikit tertawa.
            Adi memandangnya dengan kesal. Lalu berkata lagi. “Vanda, mau gak jadi pacar aku? Aku udah lama suka sama kamu. Kamu tahu itu kan? Tapi aku baru berani minta kamu jadi pacar aku sekarang. Eh, sebenernya gak gitu juga sih. Aku mesti dapet persetujuan Kak Tio dulu, baru aku dibolehin nembak kamu. Kamu mau jadi pacar aku gak?”
            Hmm, bagaimana ya? Tapi aku jadi teringat apa yang Nita katakan bahwa aku bakal dapatkan cowok yang lebih baik dari Kak Tio. Dan aku rasa memang Adi orangnya. Dengan senang hati, aku mengambil bunga dan boneka yang sedari tadi dipegangnya itu.
            “Diterima tuh Di! Hahaha, akhirnya adek gue punya pacar juga setelah 16 tahun menjomblo. Hahahaha.” Adi menginjak kaki kakaknya. Kakaknya terdiam merintih kesakitan.  
            “Kamu beneran mau nerima aku Nda?”
            “Kamu gak mau aku terima? Terserah saja…”
            “Eh, tentu dong aku mau. Hmm, kamu pulang sama aku aja deh Nda. Aku gak rela kamu boncengan sama kakak aku.”
            “Hahaha. Baru pacaran aja udah cemburuan gitu. Gue udah punya pacar Di! Heleh heleh.”
            Dan saat itu juga aku tersenyum lega. Pikirkan saja. Jika kau tidak bisa mendapatkan cowok idolamu, kenapa kau harus mengabaikan dan menyia-nyiakan cowok yang selama ini mencintaimu? Bahkan cowok itu lebih baik dari segala cowok yang ada di dunia. Makasih doamu Nita, kau memang sahabat terbaikku!

Post a Comment