Thursday, 30 December 2010

Karena Dia Bukan Dirinya

            Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah wanita yang sangat kusayang, Angelina. Kutunggu ia didepan pintu rumahnya sambil menyembunyikan lima tangkai mawar putih dipunggungku. Hari ini adalah hari enam bulannya kami telah bersama. Dan walau sebagian besar teman-temanku menganggap enam bulan adalah waktu yang sangat lama untuk menjalani sebuah hubungan yang disebut “pacaran”, tapi aku sangat menyayanginya. Melebihi menyayangi nyawaku sendiri.

            Untuk dua bulan terakhir ini, aku merasakan sesuatu yang janggal tentang dirinya. Mungkin karena pengaruh satu bulan diluar negeri. Angelina seorang penari balet yang sangat professional. Ia diberikan beasiswa untuk menuntut ilmu tentang bakatnya itu di Paris selama satu bulan.

            Tapi entahlah. Atau mungkin aku saja yang merasakan perubahan dari dirinya. Tapi, tunggu. Seminggu yang lalu Tarin berkata sesuatu padaku.

            “Angelina kok aneh ya? Saat ku ungkit bagaimana kau jalan-jalan bersamanya di Bali, ia tidak mengingatnya. Padahal, ia sangat terangsang banget kalau aku menanyai tentang perjalanan kalian sewaktu PDKT.”

            “Hmm, ntahlah. Mungkin ia sedang sedikit pusing. Jadi tidak terlalu mengingat hal itu. Lagian, itu udah lama banget kan?”

            “Iya sih. Eh, aku baru ingat. Aku melihat sedikit goresan gitu dijidatnya. Selama tiga tahun aku mengenalnya, aku tak pernah melihat goresan itu sebelumnya. Apa kau pernah?”

            “Hah? Goresan? Seperti apa? Seingatku Angelina mempunyai dahi yang terindah yang pernah kulihat.”

            “Heleh. Goresannya itu seperti jahitan. Namun hanya bisa dilihat kalau kau lihat secara jeli. Entahlah Rom, aku merasa sesuatu tak beres dengannya beberapa bulan ini. aku merasa sesuatu perubahan yang besar terhadap dirinya.”

            Aku memikirkan perkataan Tarin itu. Angelina pernah berkata padaku bahwa ia mempunyai luka di pahanya. Lukanya berbentuk petir. Selain itu, ia juga pernah berkata bahwa ia mempunyai tanda lahir di telapak kakinya. Sebuah tahi lalat. Namun ia tak pernah bercerita padaku bahwa ia pernah menjahit dahinya. Ah sudahlah. Mungkin hanya perasaan Tarin saja.

            Angel membuka pintu. Ia mengenakan long dress dengan motif bunga-bunga berwarna ungu muda, sebuah blazer hitam dan sepatu kesukaannya yang sama sekali tidak mengandung high heels. Ia juga mengenakan kalung pemberian dariku. Kalung bergambar dua ekor burung yang sedang berpelukan. Kalung itu serasa berpadu dengan rambutnya yang ikal sebahu. Perfect. 

            “Happy six months darling…”aku memberikan bunga kesukaannya dan mencium keningnya.

            “Makasi Rom Rom ku. Aku bawa ya bunganya?”

            “Sure honey. Anything for you.”kataku sambil tersenyum. Ia tertawa. Oh Tuhan. Betapa manisnya goresan bibirnya itu.

            Setelah berpamitan dan meminta izin pulang malam kepada tuan rumah, kami pergi.

            “Aku mau dibawa kemana yaa?”katanya sambil menoleh kearahku. Sikapnya yang riang itu sama sekali tidak tertutupi oleh penampilannya yang sangat girly.

            “Ayo dong tebak. Biasanya kan kamu pandai nebak.”balasku.

            Ia terdiam sambil mengulum bibirnya. “Aku nyerah Rom. Kamu sih, selalu ngajak aku ketempat yang berbeda-beda.”

            “Haha. Masa ketempat yang sama terus yang? Nanti kamu lihat sendiri ya…”

            Ia pun mengangguk. Berkali-kali Angelku itu menciumi bunga mawar putih yang kuberikan padanya. Aku tak pernah bosan melihat ia melakukan hal itu. Aku pernah bertanya dalam hati. Kapan aku akan jenuh dengan semua yang kulihat dalam diri wanita tersayangku itu? Lalu, apakah aku bisa melepasnya pergi jika saat itu tiba? Dan Tuhan pun menjawabnya. Sampai detik ini, Angelina masih dalam eratku dan mungkin akan selamanya begini.

            Kuparkirkan mobil putihku diantara pepohonan ditaman itu. Kulihat ekspresi Angel saat kubuka pintu mobilnya. Ekspresi terkesan, senang, dan cinta bercampur disana.

            “Bagaimana?”tanyaku.

            “I’m so impress honey! Oh my God! It’s so beautiful…”

            Aku terdiam. Sejenak aku merasa bingung.

            “Dimana ini?”lanjutnya lagi.

            Untuk tiga detik aku diam. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Angel, orang yang selama enam bulan ini bersamaku melupakan tempat yang paling berkesan ini? Hotel ini adalah hotel dimana kami bertemu untuk yang pertama kalinya saat masih duduk dibangku SMP. Aku seakan tak percaya.

            “Kau tak ingat?”aku menekankan pertanyaanku lagi.

            Ia terdiam. Memikirkan sesuatu sambil menunduk. Dan tertawa.

            “Oh Rom Rom ku sayaangg, bagaimana bisa aku lupa dengan tempat ini? tempat yang sangat berkesan untuk kita. Hahaha. Kena kamu”

            Aku mengelus dada. “Kamu ini. Kalau kamu sampai lupa, aku mungkin bisa pingsan say. Ckck.”

            Ia tertawa. Tertawa lepas. Aku harap aku tetap bisa melihat tawanya itu saat umurku senja, kataku dalam hati. Ia menggandeng tanganku erat. Kami beranjak kepinggir pantai hotel. Disana, telah kusiapkan sebuah meja dengan hidangan makan malam, seorang pianis, dan tentunya aku telah mengabarkan kepada pantai agar ia bisa menepati janjinya untuk membuat malam ini begitu spesial.

            Kutatap mata pacarku dalam. Ia menganga lebar. Terkesima sepertinya. Aku tersenyum. Dan disaat itulah aku berlutut didepannya, memegang sepuluh jari-jarinya yang mungil, dan berkata lembut.

            “Angelku sayang. Sudah enam bulan berlalu kita menghantam ombak. Dan sekarang, kita malah terkapar di pantai penuh cinta. Namun, asal kamu tahu. Cinta seisi pantai itu, kupersembahkan hanya untukmu. Dan sekarang, dengan seluruh kasih yang aku punya, dengan seluruh cinta yang kugenggam, apakah kau bersedia, untuk menjadi pendampingku hingga maut memisahkan kita kelak?”

            Ia terpaku. Matanya berlinang. Namun aku tak melihat senyum indahnya. Ia melepas genggamanku. Matanya menangis. Oh Tuhan. Jangan kau biarkan pipi lembutnya itu penuh dengan cucuran air mata. Aku tak tega…

            “Maaf Romi. Aku tak bisa…”

            Seketika aku berdiri. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Ia terisak. Aku semakin tak kuat melihatnya. Kudekap penuh tubuhnya.

            “Kenapa sayang? It's fine if you can't answer it right now.”kataku.

            Ia melepaskan tubuhnya dari tubuhku. Sungguh. Aku tak mau melihat itu. Pipinya yang basah, matanya yang merah dan berair. Kali ini aku benar-benar kecewa dengan diriku sendiri. Rasanya aku ingin terjun ke laut karna telah membuatnya sebegitu kecewa dengan keputusanku. Dan karna aku telah bersumpah dalam hidupku. Aku takkan rela dan takkan mungkin membuatnya menangis. Namun sekarang? Aku benar-benar ingin menusuk diriku sendiri.

            “Please don’t. Aku tak kuat melihat tangisanmu sayang… Maaf atas kesalahanku. Aku berjanji takkan membuatmu begini lagi. Tolonglah Angel, demi aku. Tolong jangan menangis…”

            Ia menangis kuat. Tuhan, ampuni aku karna telah membuatnya begini.

            “Maaf Romi. Aku bukan Angelmu…”

            Untuk beberapa menit, ia berlari jauh meninggalkanku. Jauh… walau ia masih dalam pengheliatanku, tapi sepertinya aku tak bisa melihatnya lagi.



            Kucoba mengejarnya, tapi terlambat. Taxi telah menjemputnya lebih dahulu. Kutinggalkan malam indahku dipantai itu demi mengejar mimpiku. Angelku, kenapa kau? Kenapa kau tiba-tiba begini sayang?

            Aku coba untuk menelponnya, tapi ia dengan sengaja mematikan ponselnya. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan sekarang? Ku berusaha mengejar taxi yang ditumpanginya. Tapi percuma. Taxi itu menghilang. Dan akhirnya akupun tiba didepan rumahnya. Secepat kilat kugedor pintu rumahnya. Namun kali ini aku kecewa. Kecewa yang mendalam. Panik. Sekaligus marah. Ayahnya mengatakan bahwa ia belum pulang. Tuhan, dimana Angelku? Berilah petunjukMu…

           

            Kuberusaha mencari pujaan hati. Namun kepanikanmu tak kunjung usai. Untungnya Tarin membantuku.

            “Tenang Romi. Udah. Kau sedang kacau sekarang. Aku tak bisa membiarkanmu mengemudi. Biar aku saja yang menyetir. Kita pasti mendapatkannya.”

            Berpuluh-puluh kali kami mengitari kota itu. Namun tak mendapat jawaban. Kali ini aku marah. Benar-benar marah.

            “AAARRGGHHH !!!!!!”       

            Tarin terkejut. Aku mulai menangis. Bodoh-bodoh bodoh!!!! Teriakku dalam hati.  Tarin menepi.

            “Sudah Romi, Tuhan pasti memberi kita petunjuk. Sabar duluu…”

            “Tidak! Ini semua karena aku. Aku memang bodoh! Aku terlalu terburu-buru melamarnya hingga dia ketakutan dan menghilang. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri Tarin!”

            “Tapi semua ini juga bukan salahmu…”

            Handphone ku berdering. Kakakku Ragi menelpon.

            “Rom, Angel lagi dikuburan. Lebih baik kamu kesini sekarang.”

            Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyuruh Tarin menyetir mobil dengan kecepatan penuh menuju kuburan itu. Angel, sedang apa kamu disana? Apa kamu  baik-baik saja?

            Setibanya disana, kulihat Kak Ragi menangis.

            Ada apa ??! Dimana Angel ??!!”

            “Jangan! Dia bukan Angelmu! Kau tak berhak untuk berhubungan dengannya lagi!”

            “Apa maksudmu ????!!!! Aku harus menemuinya sekarang!”

            Kakiku berlari cepat menelusuri jalan beraspal dengan lampu kuning ditepinya. Kulihat sekelilingku. Mataku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk menangis diatas sebuah kuburan.

            “Angel! Oh My God, sedang apa kamu disini sayang? Maafkan aku, aku yang salah, mohon maafkan aku…”

            Aku memeluknya erat. Kurasakan kelegaan yang luar biasa. Tak akan kulepas dirinya dari pelukanku. Tak akan!

            “Romi, aku bukan Angelmu… Angelmu telah meninggal…”

            “Apa yang kau katakan sayang…”

            Kulihat batu nisan didepanku. Aku terpaku. Diam. Kulepas wanita itu dari pelukanku. Aku seakan tertusuk panah-panah yang tajam menghunus jantungku. Punggungku terasa tercambuk dengan beribu tali. Tertulis di batu nisan itu. Angelina Megani Yahya.

            “Tak mungkin. Kau tak mungkin pergi sayang. Kau didepan mataku sekarang…”

            “Romi, biar aku jelaskan…”

            Tubuhku tiba-tiba lemah. Mataku tertutup sudah. Aku pingsan disana.    



            Aku terbaring dikamarku sekarang. Matahari telah terbit. Kucoba mengingat apa yang terjadi padaku semalam. Seketika itu aku berlari keluar, mengambil kunci mobil dan… langkahku terhenti ketika kulihat ruang tamu yang ramai dengan keluargaku dan keluarga Angel. Kulihat mamaku dan mama Angel menangis. Apa-apaan ini?

            “Tante, dimana Angel? Kenapa tante menangis?”

            Ia terdiam. Semakin menangis. Apa sungguh tak mengerti. Namun dipikiranku sekarang hanya Angel. Hanya dia.

            “Romi anakku, Angelina sudah meninggal. Ia telah pergi…”

            Aku kesal. Benar-benar kesal. Apa maksud mereka mengatakan hal itu? Sedangkan selama ini aku bersamanya. Mengerjakan semua hal bersamanya dan tertawa. Aku masih bisa merasakan bagaimana aku menggenggam tangannya yang lembut. Dan bayangan senyumnya yang indah itu masih ada dikepalaku. Bahkan, aku masih bersamanya semalam.

            “Apa maksud mama??! Aku masih bersamanya semalam…”

            Aku bingung. Benar-benar bingung. Lalu papa Angel menghampiriku. Memberiku sebuah kotak yang cukup besar. Ia memukul pundakku.

            “Masuklah kekamarmu. Lihat semua benda didalamnya. Lalu kau akan mengerti…”

            Aku masih bingung. Tapi kakiku menurut perkataannya. Aku kembali ke kamarku lagi, walau hatiku berteriak ingin menemui Angelku sekarang. Dimana dia? Apa dia masih menangis? Apa dia baik-baik saja? Oh Angel, maafkan aku karna tak bisa disampingmu sekarang.

            Kubuka kotak itu. kulihat semua yang ada didalamnya. Boneka pinokio kecil, sebuah buku harian, liontin, dan bola kaca yang didalamnya terdapat foto kami berdua. Semua itu adalah barang-barang yang aku berikan padanya.Aku masih ingat, saat ia berulang tahun ke lima belas, dan aku bingung ingin memberinya apa. Dan akhirnya, mataku tertuju pada boneka pinokio yang ada disebuah toko mainan dan ia sangat senang sekali saat aku memeberika boneka itu. Aku juga masih ingat liontin yang aku berikan padanya saat hubungan kami beranjak tiga bulan. Dan bola salju itu. Hadiah yang kuberikan padanya saat kami berada dipuncak berdua. Foto itu menggambarkan bagaimana kami saling menyayangi.

            Kubuka buku harian yang tersimpan dengan baik di kotak itu. kubuka lembar demi lembar halaman didalamnya. Semua tulisan tangannya. Dan semuanya berisi tentang diriku. Aku tersenyum ketika membaca isi buku diary itu. Angel menamai buku hariannya dengan nama kecilku, little Omi. Aku sedikit tertawa. Sungguh, aku merasakan kehadirannya disini.
            Dear my little Omi,

      Penyakitku sudah diambang kematian sekarang. Aku bisa merasakannya. Merasakan betapa sakitnya aku harus berbohong kepada Romi sayangku tentang rahasia ini. Dan bagaimana sakitnya aku harus menyembunyikan darah yang keluar dari mulutku setiap hari. Kata dokter, umurku tinggal beberapa hari lagi. Namun, aku bisa merasakan malaikat maut menungguku disana. Walau tinggal beberapa hari lagi, tapi aku masih ingin berada di sini. Paris. Tempat dimana aku bebas bertukar rahasia dengan sahabat kecilku Christy. Hanya ia satu-satunya yang bisa kupercaya untuk memegang rahasia gelapku ini. Dan aku masih ingin berada jauh dari Romi. Bukan karena aku tidak menyayanginya lagi, tapi karna aku takkan bisa melihat ia sedih ketika aku pergi nanti. Aku juga takkan kuat melihat kesedihan orang tuaku, dan melihat hilangnya keceriaan aku bersama Tarin nanti. Aku masih ingin disini. Menanti hari-hariku ketika aku benar-benar jauh dari Romi

                                              

            Sedikit demi sedikit, tetes demi tetes jatuh dari mataku. Dan aku benar-benar tak bisa menahan tangisanku ketika aku membaca lembar terakhir di buku itu.
            Dear my little Omi,

      Romiku sayang, apa kabar kamu disana? Semoga baik-baik saja ya. Aku harap, senyummu dan kata-kata romantismu yang setiap hari menyemangatiku takkan pernah hilang bersama dengan jiwaku nanti.

      Romi, andai kau baca buku harian terakhirku ini, aku hanya ingin kau tahu. Ini semua karna kemauanku. Ini semua juga bukan salahmu. Ini semua juga bukan salah Tuhan. Tapi ini semua, karna takdirku. Maaf jika selama ini aku berusaha menutup-nutupi kankerku. Dan aku tak pernah memeberitahumu. Maaf Romi, aku tak mau membuatmu kecewa

      Ingat kan dengan janji kita? Aku masih inget loh. Kita berdua meneriaki sebuah kalimat pendek tapi bermakna dihidupku. Diatas puncak, tempat kau selalu memberikanku bunga mawar putihmu padaku. Kita berdua bersama-sama teriak “kami berjanji akan saling memiliki dan menyayangi hingga akhir nanti”

      Aku masih ingat janji itu Romi. Dan walau kematianku akan menghalangi janji kita, tapi aku telah menyiapkan rencana untukmu. Malaikatmu bukan aku lagi sayang ia akan datang ketempatmu nanti.

      Romi, aku harap, dengan kepergianku, kau takkan melupakanku. Melupakan kebersamaan kita, melupakan bagaimana kau mencium keningku setiap malam, melupakan bagaimana kau merangkai kata-kata dewamu untukku, dan melupakan janji kita.

      Romi, mungkin saat kau membaca seluruh isi hatiku ini, aku telah tiada. Maksudku, aku telah bersama sang Pencipta disana. Asal kau tahu, walau jiwaku lenyap, aku akan terus tersenyum mengintipmu dari atas sana.

      Romi, ingat janji kita. Aku takkan pergi. Akan ada seseorang yang menggantiku nanti. Kamu yang sabar ya sayang..

                                             
   Aku terbaring lemah. Mataku tak berhenti menangis. Pikiranku tak berhenti membayangi wajahnya. Kulihat sebuah surat yang tersembunyi didalam buku harian itu. surat itulah yang menjelaskan semuanya. Semuanya. Semua hal tentang diri Angel yang bukan dirinya…
            hmm, aku bukan Angelmu. Tapi aku berusaha semampuku untuk menjadi Angelmu. Angelina telah menyelamatkanku. Ia mendonorkan hatinya untukku sebelum ia meninggal. Ia menghidap kanker otak yang takkan mungkin dihindari lagi. Jujur Rom, awalnya aku melarangnya berbuat begitu. Tapi ia berkata, lebih baik kuserahkan hatiku untuk teman kecilku dari pada membiarkannya membusuk dibawah tanah ketika jiwaku pergi nanti.
     Dan karena ia, aku masih bisa bernafas hingga sekarang. Dan karena kebaikannya itu, aku berjanji akan menggantikan posisinya dihidupmu. Tapi Romi, janjiku itu, kulakukan karena permintaannya. Angel menyuruhku untuk menjadi malaikatmu. Dan dari situ, aku melakukan operasi untuk mengubah seluruh ragaku menjadi raganya.
     Aku tahu, kau akan marah. Dan aku tahu, semua ini akan terbongkar nanti. Maaf Romi, semua ini untuk Angel. Dan untukmu. Christy. 
                                        

    Tiga minggu semenjak kejadian itu, aku mengalami depresi yang mendalam. Setiap hari, aku hanya makan satu kali. Setiap malam, kumenangis sambil memeluk boneka pinokio milik Angel. Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Malam ini adalah malam ke 21 semenjak saat terakhir aku bersama dengan mlaikatku yang ternyata bukan Angel.
            Aku lemah tanpamu sayang, aku tak pernah bisa konsentrasi belajar hingga papa menyuruhku untuk home schooling. Tapi percuma, setiap kubuka buku yang ada hanya gambarmu. Angel, mungkin kau akan tersenyum dari balik awan sana setiap melihatku. Tapi hatiku akan teriris setiap detik jika aku mengingatmu.
            Malam itu juga. Malam bertaburan bintang. Kuberbaring diatas tempat tidurku sambil memeluk bonekanya. Mencoba terlelap di malam kelamku. Berharap Angel akan datang menemuiku.
            “Romi sayang…”
            Sebuah suara terngiang ditelingaku. Aku menoleh dan terkesima. Kulihat Angelina dihadapanku. Ia memakai dress putih nan elegan.
            “Angel…”
            Aku memeluknya. Hangat. Angel dihadapanku sekarang. Kulihat matanya, kusentuh bibirnya, kuyakinkan diriku bahwa ini nyata. Angel ada dihadapanku. Tuhan, terimakasih…
            Ia melihatku. Tersenyum. Kucium keningnya.
            “Angel, darimana saja kau sayang? Aku menunggumu disini, dan akhirnya kau datang. Kau tahu, aku merasa aku disurga bersamamu sekarang sambil memakai baju bumiku.”
            Ia tertawa lalu menggenggam tanganku. “Yuk ikut aku.”katanya.
            Kami berbincang sambil berjalan melewati pohon-pohon yang indah menghiasi setiap langkah kami. Lalu aku dan dirinya duduk disebuah bangku yang menghadap laut dan matahari yang akan terbenam.
            “Romi, aku akan menemanimu sebentar sebelum matahari itu tenggelam. Sebelumnya, aku ingin kau berjanji sesuatu padaku.”
            “Apa sayang? Aku akan lakukan apapun demi dirimu...”
            Ia mengelus pipiku. “Aku bahagia jika kau bahagia Romi. Namun untuk tiga minggu ini aku menangis melihat kau tidak seperti yang dulu lagi. Aku ingin kau berjanji akan selalu menjadi dirimu yang ceria setiap bersamaku dan berjanji akan bahagia bersama malaikat barumu.”
            “Tapi sahabatmu Christy bukan malaikatku…”
            “Romi, berjanjilah. Aku hanya ingin kau bahagia. Christy yang akan menggantiku untuk memenuhi janji kita. Aku hanya ingin kau bahagia Romi. Asal kau tahu, ia sudah seperti diriku. Ia memahamimu sepenuhnya. Dan ia mencintaimu sama seperti aku mencintaimu. Ia sudah menepati janjinya padaku. Namun jahatnya diriku karna membiarkannya sedih karna kau. Romi, aku mohon. Demi diriku. Tolong kau sayangi dia. Anggap dia sebagai diriku. Anggap dia sebagai malaikatmu.”
            Aku terdiam. Aku tak kuat melihat tatapan matanya yang lembut memelas kepadaku. Demi apapun juga, aku hanya mau Angelina sebagai malaikatku. Bukan Christy…
            “Jika kau berjanji akan melakukan apa yang kupinta, aku akan berjanji takkan menangis lagi disini. Kau ingat kan dengan sumpahmu yang takkan membuatku menangis? Romi, katakanlah. Katakan bahwa kau akan berjanji melakukannya…”
            Aku mencium keningnya. Setetes air mataku keluar. “Aku janji. Semua demi dirimu…”
            Ia tersenyum. Kami berpelukan. Lama sekali. Hingga kudengar Angel membisikkan sesuatu padaku, “Aku mencintaimu Romi, sama seperti dirinya mencintaimu…”
Post a Comment