Saturday, 15 January 2011

It's about friendship

            “Pergi!”bentak Genesha sambil mengacungkan telunjuknya ke pintu.
            “Gen, dengerin kita dulu. Kami tahu kami banyak salah. Kami tahu kami udah ngelupain lo. Kami tahu lo terpukul banget, maafin kami… Kami nggak tahu mesti gimana lagi,”ucap Hesti sambil setengah menangis.
            “Iya Gen, kami tahu kami banyak salah, tolong maafin kami. Kami janji bakal lebih peduliin lo lagi…”ucap Tia sambil memelas.
            “Peduli apa lagi hah?!! Bakal tiap hari ke rumah gue, cerita ini, cerita itu, ketawa ketiwi, pamerin kalau lo tuh sempurna hah?! Lo tuh nggak tau diri!! Lo kira lo siapa hah?!! Seenaknya aja jauhin gue gitu? Emang gue salah apa sih?!”bentak Genesha lagi. Matanya menyimpan amarah yang amat dalam.
            “Gue nggak bermaksud…”
            “GUE SALAH APA!!!!!”teriak Genesha lagi. Seisi ruangan bergeming. Delapan cewek yang dulu sahabat Genesha tersebut menyerah. Mereka nggak tahu mesti gimana lagi. Rasa penyesalan mereka tampak sekali dari wajah yang menunduk sedih. Sebagian dari mereka menangis, tidak menyangka Genesha sejahat ini pada mereka.
            “Pergi lo semua!!!”teriak Genesha dari kursi rodanya. Genesha tak tahan melihat muka busuk para sahabatnya.
            Hesti yang masih menangis melihat Genesha geram. Semua rasa bercampur dalam benaknya. Kecewa, kasihan, sedih, marah, jengkel karena telah diperlakukan buruk seperti ini oleh sahabatnya yang dulu itu.
            Hesti lalu menghapus air matanya. “Denger ya Gen, kami tahu. KAMI SALAH! Dan asal lo tau, lo itu masih beruntung punya sahabat seperti kami…”
            “Beruntung karena gue ditinggal sama kalian gitu hah?!”
            Hesti menahan tangisnya walau air matanya menumpuk di kedua mata indahnya. Tapi ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Hesti dan Genesha hanya bisa berduel mata.
            “Kami pulang dulu deh Nes! Ohya, satu lagi, kami nggak bakal kerumah lo lagi! Tapi kami harap, lo bisa maafin kami. Permisi.”lanjut Rara yang ternyata dari tadi geram dengan perlakuan Ganesha yang tidak terhormat itu. Dengan langkah kaki gontai, mereka meninggalkan Ganesha. Ganesha yang belum bisa memaafkan mereka, hanya bisa memandang sinis dan membanting pintu rumah dengan kuat.
            Ganesha kembali ke kamar. Ia menangis lagi.

-----

Sebulan sebelum kecelakaan…
            Genesha memandangi Tia yang sibuk memainkan notebook barunya bersama Dila. Genesha jadi ingat. Semalam papanya memberitahu bahwa Genesha sudah bisa mendapatkan laptop. Tapi Genesha harus membeli laptop itu sendiri karena papanya Genesha sibuk.
            “Tia, notebooknya beli dimana?”Tanya Genesha ramah.
            Tia memandangnya sinis. “Gak tau. Mamaku yang beli.”jawabnya ketus.
            “Oh. Hmm, kalau boleh tau harganya berapaan ya?”Tanya Genesha lagi.
            “Udah gue bilang mama gue yang beli! Mana gue tau!”jawab Tia.
            Ganesha terkejut lagi. Akhir-akhir ini ia menyadari bahwa ada yang berubah dalam diri Tia. Seingat Genesha ia tidak ada berbuat salah pada Tia. Sama sekali tidak ada. Namun, kenapa akhir-akhir ini Tia jadi ketus dan acuh padanya? Lagipula, aneh sekali. Kenapa hanya dirinya saja yang diperlakukan itu oleh Tia? Tia memandang Dila yang duduk disamping Tia. Dila hanya mengangkat bahu dan tidak berkata apa-apa. Genesha lalu membaca novelnya lagi.
            Selain pada diri Tia, Genesha juga menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Fani, Rara, Hesti dan Ninda. Mereka berempat cukup dekat dengan Genesha. Akhir-akhir ini, wajah Rara terlihat murung sekali. Genesha yang penasaran, dengan hati-hati bertanya,
            Ada masalah dengan pacar lo ya?”
            Rara mengangguk. Tapi matanya memandang lurus ke arah papan tulis. Rara masih melamun.
            “Kenapa?”Tanya Genesha lagi.
            Rara menggeleng, “Masalahnya besar banget. Nanti kalau masalahnya udah selesai gue kasih tau.”
            Aneh, pikir Genesha.  Rara dulu tidak pernah menyembunyikan sesuatu tentang pacarnya. Apalagi, Rasya, pacar Rara, dulu memang dekat dengan Genesha sebelum akhirnya Genesha mencomblangi Rasya dengan Rara. Namun, Rasya dengan cepat sekali melupakan kebaikan Genesha. Ia tidak pernah menghubungi Genesha lagi setelah berhasil mendapatkan Rara. Walau begitu, Genesha tetap ikhlas melihat sahabatnya, Rara bahagia.
            Genesha memaklumi alasan Rara. Ia tahu bahwa ia tidak berhak ikut campur dengan urusan Rara dan Rasya lagi. Ia melanjutkan menulis.
            Saat istirahat, seisi kelas kosong. Hanya ada Genesha dan Desi. Mereka berdua juga saling diam karena kedua-duanya sibuk membaca novel.
            Genesha berpikir sejenak. Ia ingat akan perlakuan Tia yang ketus kepadanya. Barangkali Desi bisa memberitahukannya apa yang terjadi pada Tia. Dulu, Desi dan Tia akrab sekali. Namun akhir-akhir ini Genesha melihat Desi tidak pernah mengobrol dengan Tia lagi, sama halnya seperti Genesha.
            “Lo baru nyadar?”Tanya Desi setelah Genesha selesai bercerita.
            Desi menarik napas, “Gue udah nyadar dari tiga hari yang lalu. Dia juga ketus banget sama gue. Biasanya kan dia mainnya sama gue. Curhat juga sama gue. Tapi gak tau tuh, sekarang malah berubah seratus delapan puluh derajat. Gue juga bingung gue salah apa.”
            “Lo yakin? Terus kenapa cuma kita berdua aja yang dijauhin sama dia di kelas ini?”Tanya Genesha heran.
            Desi mengangkat bahu. “Nggak tau. Hmm, kita kayaknya sabar dulu aja deh. Barang kali Tia berubah nanti. Mungkin moodnya lagi jelek.”
            Genesha mengangguk-angguk. Tanpa sadar ia menguap kuat sekali. Ia merasa bosan. Genesha lalu menutup novel Moonlight Waltz yang dibacanya. Entah kenapa, akhir-akhir ini Genesha rajin membaca novel. Tapi ia suka sekali membayangkan kata demi kata yang ditulis dalam novel. Itu yang membuatnya akhir-akhir ini tersenyum dan tertawa sendiri di rumah.
            Genesha beranjak dari tempat duduknya menuju pintu kelas. Dilihatnya Rara yang sedang duduk berduaan dengan Rasya. Namun tiba-tiba Rasya meninggalkan Rara sendirian. Ia melihat Rara menutup wajahnya. Genesha yakin sekali bahwa Rara sedang menangis. Saat hendak menuju tempat Rara, Genesha melihat Fani, Hesti dan Ninda berlari ke arah Rara. Mereka sepertinya memberikan suntikan pada Rara agar ia tidak menangis lagi. Mereka berempat lalu pergi ke dalam kelas karena merasa sudah menjadi pusat perhatian anak kelas lain.
            Genesha yang sedari tadi berada di pinggir pintu membiarkan mereka lewat. Dilihatnya mata Rara yang merah berair.
            “Lo kenapa Ra? Lo diapain sama Rasya?”Tanya Genesha.
            Rara masih menangis dan tidak menjawab pertanyaan Genesha. Sementara itu segerombolan anak cewek yang sekelas dengan kami masuk ke kelas dan menghibur Rara.  
            “Udah lah Ra, memang masalahnya belum selesai juga ya? Aduh. Kenapa nggak ngomongin baik-baik aja?”Tanya Fani.
            “Gue udah ngomong sama dia tadi. Tapi dia kayaknya nggak terima sama keputusan gue.”jawab Rara sambil tetap menangis.
            “Emang kenapa Ra? Lo putus?”Tanya Genesha lagi.
            Rara mendelik kesal kearahnya. Namun Rara berhasil menahan amarah. Rara kenapa sih? tanya Genesha dalam hati.
            Rara menyenggol-nyenggol lengan Hesti. Seperti memberi tahu sesuatu hal. Tiba-tiba Hesti menarik tangan Ganesha dan membawanya jauh dari tempat Rara menangis.
            “Gen, maaf ya. Tapi hanya gue, Fani, dan Ninda aja yang tahu urusan Rara. Jadi gue harap lo nggak usah ikut campur. Gue tau lo udah sahabat sama Rara sejak dari SMP. Tapi masalahnya ini besar banget…”
            “Emang masalahnya apa? Kok dia ngasih tau ke elo, bukan ke gue?”
            Hesti menggeleng. “Gue nggak tau. Tapi mungkin gue lebih dipercaya.”
            “Jadi, gue nggak dipercayain lagi?”Tanya Genesha.
            “Maaf ya Gen, gue harus menghibur Rara dulu. Kasihan dia…”
            Lalu Hesti pergi. Genesha tidak sadar bahwa ia juga menangis. Ia lalu berlari ke perpustakaan untuk menutupi rasa sedihnya.
            Untungnya perpustakaan kosong, tidak ada orang. Genesha bersembunyi sudut perpus dan tubuhnya tertutupi lorong rak buku. Disana Genesha menangis.
            Kenapa sih? Kenapa semua orang jauhin gue sekarang? Gue salah apa sih? Mereka kenapa? Pertama Tia. Dia tiba-tiba ketus sama gue. Terus Rara. Dia nggak cerita masalahnya dengan Rasya ke gue. Rara malah lebih percaya sama Hesti. Padahal, gue kan udah deket sama dia sejak SMP. Hesti? Rara saja baru kenal dengan Hesti saat masuk SMA. Dan akhir-akhir ini Fani dan Ninda juga jarang ngobrol sama gue. Gue yang berubah apa mereka sih? Gue salah apa? Gue jadi ngerasa nggak penting banget di kelas. Dulu, apa-apa mereka cerita ke gue. Sekarang kok pada berubah begini?
            Genesah merasa kecil, usang, dan tak berguna lagi. Ia merasa sahabatnya berubah. Seingat Genesha, ia tidak melakukan satu kesalahanpun kepada para sahabatnya. Lantas, apa yang membuat mereka menjauh dari Genesha?
            Bel berbunyi. Genesha tau bahwa dia harus segera kembali ke kelas. Ia lalu menghapus air matanya. Setelah pamit pada Pak Kasim, penjaga perpustakaan, ia duduk sambil memasang kembali sepatunya.
            Tak disangka-sangka mata Genesha bertemu dengan mata Kak Yuda. Lalu Genesha cepat-cepat menunduk dan berjalan muju kelasnya. Ia tidak mau bertemu dengan kakak kelasnya yang satu itu. Namun tanpa Genesha ketahui, Kak Yuda melihat mata Genesha yang sembab. Dalam hati Kak Yuda merasa khawatir juga dengan Genesha. Namun ia menahan untuk bertanya lebih lanjut mengingat usaha yang ia lakukan untuk menghindar dari keceriaan Genesha.

-----

            “Gimana kabar Genesha?”Tanya Fera kepada Hesti.
            Hesti menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Loh, emang kenapa dia? Kok lo sampai nggak tahu gitu?”
            “Lo tau kan Genesha lumpuh?”sambung Fani yang sedari tadi menatap Hesti sedih. Fani yang juga sahabat SMP Genesha sebanarnya merasa terpukul sekali melihat keadaan Genesha yang sekarang. Ia sangat menyesal karena selama Genesha sakit, ia tidak menjenguknya. Padahal Genesha yang memberi suport padanya saat Fani kecelakaan dulu.
            “Hmm, itu juga gue udah denger. Kasihan Genesha. Tapi, dia masih beruntung karena lumpuhnya itu hanya sementara. Satu sekolah udah tahu kok. Tapi, gue pengen jenguk dia. Gue kan mantan temen sekelasnya dulu. Sebangku lagi.”lanjut Fera.
            “Fer, sebaiknya lo nggak usah ketemu Genesha dulu. Dia masih belum bisa nerima keadaannya yang sekarang.”lanjut Ninda.
            Fera semakin iba pada Genesha. Padahal, sebelum kecelakaan itu, Genesha masih tegur sapa dengan Fera di tempat les. Namun saat itu ada yang mengganjal pada diri Genesha.
            “Ohya, Genesha juga selama ini pendiam kan? Kenapa ya? Dia juga jarang keliatan di luar kelas.”lanjut Fera lagi.
            “Dia…”namun tangan Ninda disenggol Hesti. Ia tahu bahwa Hesti memberi isyarat agar tidak memberitahukan masalah mereka ke orang lain. Hening. Fera yang menunggu jawaban sepertinya sudah menduga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka.
            “Gue cabut dulu ya. Salam buat Genesha…”Fera lalu pergi.
            Mereka, Ninda, Hesti, Rara, Tia, Dila, Desi dan beberapa cewek kelas X.2 itu masih duduk di bangku yang disediakan untuk bersantai di depan kelas mereka.
            “Kalian emang kelewatan,”akhirnya Desi berbicara. Semua mata tertuju pada Desi.
            “Tapi kan kita udah minta maaf Des…”lanjut Tia.
            “Minta maaf? Lo kira minta maaf itu cukup? Coba lo jadi dia. Sakit tahu nggak digituin sama sahabat sendiri! Lagian, lo lagi. Pakek acting segala jadi orang cuek sama gue dan Genesha. Tau nggak lo, pas kesabaran gue habis, Genesha yang ngelarang gue buat marahin elo. Nggak penting tau nggak acting gitu! Lagian, kalau mau acting tuh yang adil dong. Masa cuma ke gue dan Genesha doang? Genesha tuh sakit hati banget karena dia nggak tau salah dia apa ke elo!”
            Tia terdiam. Ingin sekali ia menangis. Ia menyesal sekali dengan perbuatannya. Ia tak menyangka bahwa perbuatan isengnya itu telah menyakiti hati Genesha. Lagipula, Tia memang jahat. Ia tak berpikir panjang dulu. Genesha kan tidak ada salah apa-apa dengannya. Kenapa ia jadi jutek begitu sama genesha. Tia memukul-mukul kepalanya sendiri.
            “Lo juga satu Ra…”lanjut Desi lagi.
            Rara yang sedari tadi melamun, sadar dengan ucapan Desi lalu menunduk. Ia juga mengakui kesalahannya. Memang, Rara kejam sekali pada Genesha. Genesha adalah sahabat baiknya, teman sebangkunya, tapi tega-teganya ia tidak mempercayai Genesha. Saat itu Rara menganggap bahwa Genesha tidak akan bias mengatasi masalahnya. Tapi sebenarnya Rara salah. Rara lupa akan budi yang telah Genesha lakukan sebelum ia jadian sama Rasya. Ia menyesali dirinya lagi.
            “Dan kalian bertiga juga…”Desi menunjuk Hesti, Fani dan Ninda.
            “Kok gue?”protes Ninda yang merasa dirinya tidak bersalah.
            “Nggak usah ngelak deh lo. Lo itu kan sahabatnya Genesha sejak SMP. Kenapa lo nggak nyadar sih kalau Genesha itu akhir-akhir ini stress karena temen-temennya. Termasuk lo. Menurut lo, Genesha mesti datang dulu ke tempat lo, baru lo peka gitu? Lo itu sahabatnya!”
            Nanda menunduk. Ia sadar. Ia terlalu terbawa masa pacaran dengan pacar barunya sampai-sampai melupakan Genesha.
            “Kalian juga! Kayaknya gue nggak mesti kasih tau kesalahan kalian satu persatu deh.”lanjut Desi lagi.
            “Emang lo nggak ada salah sama Genesha?”Tanya Hesti. Mata elangnya Hesti menusuk tajam ke arah Desi. Angkuh, itulah gambaran Hesti sekarang.
            “Lo nggak tau aja kan? Lo tuh jauh banget dari Genesha. Tiap pagi gue liat matanya sembab.  Dan lo ada nggak nanya kenapa matanya sembab?!”nada Desi mulai meninggi. Hesti pasrah. Ia terdiam. Dulu dia sering sekali berbagi cerita pada Genesha. Tertawa bersama, ngerjain orang, membuat onar di kelas, dan sebagainya. Namun Hesti lupa dengan Genesha semenjak ada Rara, Fani dan Ninda. Hesti juga merasa derajatnya sekarang tinggi sekali karena menjadi orang yang dipercayai oleh tiga sekawan itu. Namun disamping itu ia melupakan Genesha.

-----

            Pagi-pagi sekali Genesha meminta mamanya untuk mengantarkan Genesha ke tempat favoritnya, tepi laut. Berhubung hari ini adalah hari Senin, pastinya tempat favoritnya itu sepi, tidak ada orang. Disana ia bisa sendirian, meratapi nasibnya yang berubah sekarang.
            “Kamu nggak apa-apa sendirian disini?”Tanya mama Genesha kepada anak semata wayangnya itu.
            Genesha mengangguk. “Nggak apa-apa ma. Genesha bakal nelpon mama untuk jemput Genesha nanti.”
            Mamanya mengangguk lalu meninggalkan Genesha pergi. Tanpa sadar, mama Genesha menangis diperjalanan menuju rumah. Ia tak kuat melihat anak semata wayangnya itu sedih terus menerus. Namun ia berjanji pada Genesha bahwa apapun yang terjadi, ia tidak boleh menangis dan menyesali apa yang terjadi pada Genesha. Mama Genesha lalu dengan cepat menghapus air matanya dan tersenyum palsu ke kaca mobil.
            Genesha kembali sendiri. Ia merasa tenang sekali melihat laut, sebuah pulau didepannya, dan memegang kamera kesayangannya. Ia jalankan kursi rodanya ke tempat yang lebih nyaman. Disana ia mulai memotret langit, ombak, kapal, dan burung.
            Namun sesaat sesudah itu, ia menangis kecil. Genesha berkata sesuatu.
            “Aku berubah lagi Dion, menjadi aku yang dulu. Aku yang tidak percaya dengan sahabat, aku yang menyedihkan, aku yang sangat-sangat kesepian. Coba kamu ada disini bersamaku. Aku kangen kamu Dion. Gimana kabar kamu di Bandung ya?”
            Suara Genesha bergetar. Ia menangis lagi. Dilihatnya kaki mulusnya yang tak berdaya itu. Ia lalu memukul-mukul kakinya sendiri. Genesha tampak sekali tidak bisa menerima keadaannya yang sekarang. Lumpuh, tak berguna. Ditambah lagi dengan kenyataan para sahabatnya yang telah jahat padanya. Ia tidak punya teman lagi. Kecuali Desi. Itupun, Genesha ragu, apakah Desi bisa menjadi sahabatnya.
            “Sudah lah! Tak ada sahabat yang benar-benar sahabat didunia ini. Sahabat hanya menusukku dari belakang. Dion, ternyata usahamu sia-sia. Kau pernah meyakinkan aku untuk mencaintai sahabatku sendiri. Tapi hanya kau saja yang aku cinta. Kenapa kamu mesti pindah ninggalin aku sendiri bersama mereka? Aku tidak percaya lagi pada sahabat Dion, aku nggak percaya denganmu lagi…”
            Genesha menghapus air matanya, mencoba untuk tegar. Ia menggerakkan kursi rodanya untuk mendekat ke kumpulan batu-batu. Namun saat hendak mengambil batu-batu itu, kursi rodanya tidak seimbang, dan ia terjatuh.
            Genesha mencoba bangun dan naik ke kursi rodanya. Namun tidak bisa.
            “AARRGHHH!”teriak Genesha sambil setengah menangis.
            Ia mencari-cari orang untuk membatunya. Namun percuma. Tempat itu sepi. Orang-orang sedang sibuk mengurusi urusannya di awal minggu ini.
            Genesha menutup kedua wajahnya. Ia tak henti-hentinya menangis.
            “Kenapa mereka baru sadar setelah aku seperti ini?! Kenapa mereka baru sadar setelah aku lumpuh?! Kenapa mereka baru sadar setelah aku dibuang?! Aku gak berguna lagi sekarang. Yang aku punya hanya mama. Aku nggak bakal bisa berlari lagi, mengejar bintang dan menggapai awan. Aku nggak bisa…”
            Tiba-tiba seorang kakek-kakek tua dengan pakaian kuningnya mendekati Genesha. Ia tersenyum melihat Genesha yang menangis. Ditepuk-tepuknya punggung Genesha.
            “Pergi!”teriak Genesha.
            Namun kakek itu tak kunjung pergi juga. Ia menyandarkan sapu lidinya ke dinding deretan toko kecil yang ada disana. Ia mengunci kursi roda Genesha. Perlahan ia mengangkat Genesha dan membantunya berdiri hingga Genesha bisa naik ke kursinya lagi.
            “Lepaskan! Lepaskan aku!”teriak Genesha ketakutan.
            Namun kakek itu sepertinya mengerti sekali apa yang dirasakan Genesha. Setelah Genesha duduk di kursi rodanya, kakek itu hanya tersenyum dan meninggalkan Genesha yang melongo sendirian. Setelah sadar bahwa kakek itu menolong dirinya, Genesha berteriak kencang, “Makasih!”


            Suara ketokan pintu didengar sampai dapur. Mama Genesha membuka pintu dan melihat seorang anak muda berbadan tinggi dengan seragam sekolah Genesha berdiri dihadapannya.
            “Geneshanya ada tante?”sapa anak itu ramah sambil mencium tangan mama Genesha.
            “Dia belum tante jemput. Maaf, temannya Genesha ya?”
            Cowok itu mengangguk. “Saya Yuda tante.”
            Mama Genesha seakan sadar akan sesuatu. Genesha pernah menceritakan tentang Yuda kepadanya. Dulu Genesha menganggap Yuda sebagai kakak karena Genesha hidup semata wayang.
            “Oh, nak Yuda ya? Aduh, maaf ya. Genesha belum pulang.”
            “Kalau boleh tahu, Genesha kemana ya tante?”
            Mama Genesha diam. Ia berjanji pada Genesha untuk tidak menceritakan tempat kesukaan Genesha pada siapapun.
            “Maaf, tante nggak bisa kasih tau.”lanjut mama Genesha dengan ramah.
            Yuda merasa kecewa sekali. “Kalau begitu, apakah saya bisa menunggunya?”Tanya Yuda lagi.
            Mama Genesha mempertimbangkan permintaan Yuda. Namun ia tidak yakin Genesha akan menerima Yuda dengan ramah di rumah ini.
            “Maaf ya, tapi Genesha terpukul sekali. Tante rasa, ia tidak bisa menemui siapapun untuk waktu dekat ini.”lanjut mama Genesha lagi dengan ragu-ragu.
            Yuda kecewa lagi. “Ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya tante, selamat siang.”
            Yuda lalu pulang ke rumah dengan langkah gontai. Akhir-akhir ini ia tidak fokus belajar. Ia selalu memikirkan Genesha disetiap menitnya. Ia sangat-sangat terkejut saat mendengar kabar kecelakaan Genesha yang sudah tersebar di sekolah. Ia sangat khawatir sekali dengan keadaan Genesha sekarang ditambah lagi kabar habwa Genesha lumpuh. Ia jadi menyesal telah menjauhi Genesha. Terakhir, saat ia mencoba menelpon anak itu, nomornya tidak aktif lagi. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Genesha sekarang. Genesha, maafin kakak ya, udah ninggalin kamu sendirian dulu, katanya dalam hati. 


            Esok paginya Genesha masih tetap nongkrong di tepi laut sambil terus memotret. Ia jalankan kursi rodanya untuk berkeliling sambil memandangi laut walau kemampuannya sekarang terbatas. Dulu, ia dan Dion selalu berjalan mengelilingi tepi laut setiap pagi. Ia jadi ingat apa yang selalu dikatakan mantan pacarnya itu.
            “Kalau lihat laut, hati aku selalu adem. Begitu melihat ombaknya, mata aku kembali jernih. Saat menghirup aroma angin dan bunyi kapal, aku selalu merasa damai. Apakah kamu merasakan hal yang sama?”Tanya Dion.
            Genesah mengangguk. Ia mengambil kameranya dan memotret lagi. Saat Dion lengah, dipotretnya wajah cowok itu. Damai sekali melihat wajah Dion, pikirnya. Alis mata Dion yang tebal, matanya yang coklat, dan rambutnya yang sedikit ikal.
            “Hey! Seenaknya saja mengambil fotoku. Hapus cepat!”perintah Dion.
            Genesha menjulurkan lidahnya, “Nggak mau, weeks!”lalu ia berlari diikuti Dion dari belakang.
            Dulu ia bisa berlari sekencang-kencangnya. Namun sekarang? Berdiri saja tak mampu. Genesha memandang kembali sepasang kakinya itu. Walau Genesha masih bisa sembuh, namun ia terlanjur putus asa. Kenangan Dion lah yang mebuatnya bangun dari pahitnya kenyataan. Saat ia berada ditempat ini, ia bisa mengingat Dion dengan sepuasnya, dan mengobrol sendiri seakan-akan Dion ada di sebelahnya.
            “Dion, aku kangen teman-temanku. Tapi aku yakin mereka nggak akan mungkin bisa menerimaku lagi. Lagian, aku sudah berubah sekarang. Setiap melihat muka mereka, hatiku selalu saja diliputi rasa benci yang amat dalam.”
            Ia menarik napas. “Andai aku punya kakak…”lirihnya. 

            Genesha sepertinya sudah mulai terbiasa dengan keadaannya yang sekarang. Ia sudah bisa membantu mamanya mencuci piring dan memasak. Sudah hampir tiga minggu Genesha diam di rumah. Namun ia nyaman sekali walau terkadang ia menangis karena merindukan sahabatnya.
            “Ma, Genesha mau home schooling aja ya.”sapanya ketika ia dan mamanya makan siang bersama.
            Mamanya mengangguk. “Terserah kamu sayang, mama nggak maksa. Genesha nggak mau ikut terapi penyembuhan?”
            Genesha diam. Ia berpikir panjang sekali. Apakah keadaan akan berubah lagi setelah aku sembuh nanti? Pikirnya.
            “Genesha pikir-pikir dulu deh ma.”jawabnya.
            Mamanya tersenyum. Terdengar ketokan pintu dari luar. Mamanya membuka pintu dan mendapati Desi berdiri disana. Mama langsung menyuruh Desi menunggu di ruang tamu.
            “Hai Genesha,”sapa Desi saat melihat Genesha menggerakkan kursi rodanya.
            Genesha mencibir. “Ngapain lo kesini?”Genesha mulai ketus. Walaupun begitu, ia tahu bahwa Desi adalah satu-satunya orang yang mengobrol padanya di kelas dulu.
            “Cuma pengen ngasih ini Gen…”
            Desi menyerahkan sebuah amplop coklat besar kepada Genesha. Amplop itu dititipkan teman-teman Genesha pada Desi. Mereka tahu Genesha tidak mau menemui mereka lagi.
Genesha dengan ragu menerimanya. Entah kenapa kali ini ia ingin berbuat baik satu kali saja pada Desi. Lalu memandang Desi sinis. “Udah kan?”
            Desi mengangguk dan tersenyum. Ia tahu bagaimana seharusnya berhadapan dengan Genesha ini. Setelah pamit dengan mama Genesha, Desi pun pergi.
            Genesha membuka amplop tersebut di kamarnya. Tertulis berbagai surat maaf dari teman-temannya. Masih ingat aku ya?tanya Genesha dalam hati. Beberapa foto dia bersama teman-temannya juga ada di dalam amplop. Genesha mencampakkan amplop itu ke lemari. Ia tak sanggup melihat muka sahabat-sahabatnya.
            “Mereka sudah ku usir pergi dari hidupku kan? Kenapa harus kembali lagi?”gumamnya.
           
Sore hari, Genesha pergi ketempat favoritnya sendiri. Namun entah kenapa, walaupun sore hari, tempat ini masih saja sepi. Mungkin karena baru jam dua siang, pikirnya.
           Ia membuka tasnya dan mengambil amplop dari Desi. Dibukanya satu persatu surat dan dibacanya. Kali ini Genesha kebal akan tangisan. Ia membuka dan melempar surat itu satu persatu ke laut.
            “Genesha…”
            Sebuah suara menghampirinya. Genesha menoleh. Betapa terkejutnya ia menjumpai seseorang yang lama tak ditemuinya. Tapi Genesha mengingat kesalahan lelaki tersebut. Ah! Kak Yuda sama dengan mereka. Meninggalkanku tanpa memberi tahu apa salahku, gumam Genesha dalam hati.
            Genesha tidak menjawab. Ia tetap membuang satu persatu surat yang ada dalam amplop.
            “Bukan begini caranya…”
           Genesha masih bungkam. Aku malas berurusan dengannya lagi. Aku nggak mau ditinggalkan lagi, oleh siapapun.
            “Dek..”Yuda menghela napas. “Sampai kapan harus begini? Sampai kapan adek harus membenci teman-teman adek?”
            Genesha masih bungkam. Setelah kertas demi kertas di buangnya, kini foto-foto yang ada di genggamannya ia robek satu persatu.
            “Adek nggak mau ngomong sama kakak ya? Kakak minta maaf.”
            Genesha masih bungkam. Aku bukan adikmu lagi! teriaknya dalam hati.
            “Bagaimana caranya agar adek mau ngomong sama kakak?”
            Kak Yuda mendekat. Ia berjongkok di samping kursi roda Genesha. Namun Genesha masih tidak mempedulikan kehadiannya.
            “Baiklah. Kali ini kakak harus memaksa.”
            Kak Yuda berdiri. Ia angkat kursi roda Genesha dan tiba-tiba ia menjatuhkan Genesha dari kursi rodanya. Genesha tersungkur jatuh. Genesha menahan sakit yang diterimanya. Ia jatuh di atas kerikil-kerikil kecil. Dilihatnya telapak tangannya yang berdarah. Ia meringis sakit. Namun ia sebisa mungkin tidak peduli dengan Kak Yuda.
            Kak Yuda mengambil amplop yang jatuh. Ia melihat sebuah foto penuh dengan ekspresi lucu dari teman-teman kelasnya Genesha. Lalu Kak Yuda tersenyum.
            Genesha duduk membentangkan kakinya dan berhadapan dengan laut. Ia mengambil handphonenya dari saku dan mencari nomor telepon mamanya. Namun hape Genesha tiba-tiba dirampas oleh kak Yuda dan ia mematikannya. Genesha menatap Kak Yuda dingin.
            “Mau apa lagi?! Pergi ya pergi saja, tapi jangan pernah kembali!”bentak Genesha.
            Kali ini Kak Yuda tersenyum penuh kemenangan. “Akhirnya kamu ngomong juga.”
            Lelaki itu duduk disebelah Genesha. Ia memandang Genesha lekat-lekat. Masih manis seperti biasanya, gumamnya dalam hati.
            Genesha tidak peduli. Ia terus saja menatap laut. Ia berharap agar Kak Yuda pergi dan meninggalkannya sendiri. Untuk sejenak ia biarkan luka ditangannya walau ia meringis kesakitan. Ia tak tahu ia harus melakukan apa sekarang.  Genesha mengambil kameranya lalu mulai memotret.
            “Genesha, asal kamu tau, kakak dulu juga seperti kamu.”
            Genesha tak peduli. Ia terus saja memotret.
            “Kakak dulu buta.”
            Mendengar kalimat itu Genesha diam. Buta? Yang benar saja, katanya dalam hati.
           Kak Yuda meringkuk. Ia tak berani menceritakan masa lalunya. Bercampur perasaan sakit, kecewa, dan tak kuat untuk melihat kembali masa-masa terburuk dalam hidupnya.
            “Mungkin kamu enggak percaya. Tapi kakak memang dulu buta. Saat kakak buta itulah kakak seperti adik. Kecewa sekali…”
            “Tapi adik beruntung. Adik masih punya teman yang peduli dengan adik. Adik nggak lebih menyedihkan dari kakak dulu.”lanjutnya lagi.
            Genesha akhirnya percaya saat mendengar isakan tangis dari wajah Kak Yuda baru saat itu ia melihat kesedihan yang mendalam. Namun perkataan Kak Yuda masih belum bisa menyadarkan Genesha bahwa ia masih beruntung. Genesha kembali dalam diam.
            Kak Yuda mengangkat wajahnya dan menghapus deraian air matanya. Ia merasa malu sekali. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan memandang Genesha.
            Sambil tersenyum Kak Yuda berkata. “Hidup cuma sekali. Kakak nggak memaksa kamu agar tidak membenci mereka atau membenci kakak. Kakak menyesal sekali. Tapi ingatlah Genesha, hanya bisa sekali saja menemukan teman-temanmu, kakak, ataupun semua orang yang kamu kenal didunia ini…”
            “Kakak pergi dari kamu bukan tanpa alasan. Kamu begitu ceria, hebat, sempurna di mata kakak. Kamu selalu bikin kakak nggak kesepian. Kakak jauh dari kamu karena kakak baru sadar, kakak menyayangi kamu lebih dari apapun.”lanjutnya lagi.
Ganesha memandangi wajah Kak Yuda. Terkejut, heran, bingung, semua menjadi satu dalam benaknya. Apa sih yang ia bicarakan?
Namun seperi bisa membaca pikiran cewek yang ada dihadapannya, Kak Yuda mengangguk. Ia lalu berjongkok tepat dihadapan Genesha. “Itu benar, sayang..”gumamnya.
Genesha seakan tak percaya. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaan terkejutnya. Genesha memalingkan muka ke kanan dan tak peduli dengan senyuman Kak Yuda.
 “Namun itu nggak penting. Teman-temanmu yang lebih penting dari kakak. Pandanglah matahari dari dua sisi, barat dan timur. Lihat bagaimana kedua sisi itu. Apakah satunya baik dan satunya jahat, atau apakah keduanya baik ataupun kedua-duanya jahat. Meskipun begitu, ketika matahari bangkit dan tenggelam, ia akan selalu indah dimanapun ia berada.”
Kak Yuda lalu pergi. Ganesha masih diam tak bergerak. Sejenak ia pikirkan perkataan Kak Yuda . Dipandanginya Kak Yuda yang berjalan menjauh. Kakak kenapa beru bilang setelah aku terlanjur benci kakak sih? Kakak kira nggak sakit apa ditinggal sama orang yang aku sayang? Cuma kakak yang buat percya aku punya kakak. Namun sekarang udah hilang kak, percuma lagi. 
Ia memandang sekitar. Sudah mulai ramai ternyata. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada kakek-kakek yang menolongnya kemarin. Betapa terkejutnya ia melihat kakek itu berbicara dengan bahasa tubuh. Ternyata kakek itu bisu.
Genesha merasa kasihan sekali dengan kakek itu. Keringat membasahi kening kakek yang sudah berkerut. Dengan sapu lidinya kakek itu bekerja lagi. Ganesha menangis. Ia baru sadar betapa bahagianya hidup yang dijalaninya. Ia tidak harus bekerja dengan kekurangannya, ia tak harus merasa sendiri karena sekarang teman-temannya mempedulikannya. Ia juga seharusnya bersyukur karena punya kakak seperti Kak Yuda. Ia menghapus air matanya.
Genesha memandangi laut. Kalau kali ini apa yang akan kulakukan adalah hal yang benar, tolong jangan biarkan mereka menjauhiku lagi.
Seekor yang terbang diikutin teman-temannya terbang bersama dihadapan Genesha. Genesha sekarang yakin sekali kalau ia akan berubah lagi. Tidak dengan Genesha yang kejam, ketus, pemarah, dan sinis. Tapi dengan Genesha yang ceria, sabar, ramah dan disenangis banyak orang.
Terimakasih Dion, terimakasih, gumam Genesha. Genesha mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
“Hei! Seenaknya sekali kakak meninggalkan adik sendiri disini.”
Ia lalu menutup teleponnya dan menghapus air matanya. Untuk pertama kalinya Genesha tersenyum lagi.
Post a Comment