Wednesday, 12 January 2011

BUKAN PRIBADI MENARIK



Aku enggan memberi tahu namaku. Karena… ya itu. Aku bukan peribadi menarik. Aku bukan seseorang yang patutnya dimengerti, dipahami, didekati, dicintai, disayangi, diperhatikan, dan sebagainya.

Aku bagaikan novel. Mengharapkan seseorang membaca aku dan aku menjadi sahabatnya. Sahabat dimana aku tidak akan menyakiti orang yang membacaku. Tidak akan membuatnya lelah. Aku memberikan semua yang aku punya. Ilmu, cerita, tawa, sedih, kejutan, kekecewaan dan berharap ia mengerti dengan perasaanku. Dan memang benar. Kebanyakan orang yang membacaku memang mengerti aku. Mendalami aku, dan kadang sedikit khawatir dengan perasaanku. Hanya dengan melihat orang yang membacaku senang, akupun terhanyut dalam senyuman. Aku hanya ingin dibaca, tidak lebih.

Ya. Aku seperti novel. Apa yang aku dapat setelah aku memberikan segalanya? Dia yang membacaku menutup rapat tubuhku dalam-dalam dan membiarkanku usang. Tertutupi oleh debu dan menunggu hingga ia membacaku lagi.

Aku novel. Ya. Aku seperti itu. Aku memberikan segalanya. Kebahagiaan, kesenangan dan orang yang membacaku turut merasakannya. Tapi? Inilah nasibku. Aku memberikan apapun. Dan dia yang membacaku? Setelah puas dengan ending yang tak menentu, ia menutupku.

Kadang aku, sebagai novel, bertanya pada diriku sendiri. Aku salah apa sih? Aku punya cerita. Aku punya kejutan. Aku punya emosi. Aku punya jiwa. Aku hidup ketika aku dibaca. Aku senang. Aku gembira. Aku kecewa. Aku kesal. Aku marah. Dan aku bahagia sekali karena saat dia yang membacaku ternyata mengerti dan tidak meninggalkan aku. Aku terus saja dibacanya. Dan sampai pada akhirnya, ceritaku habis. Kadang dia yang membacaku tersenyum saat menutup aku. Kadang juga tertawa. Namun kadang pula  jengkel.

Kau mengerti aku nggak? Aku sebagai novel. Mungkin takdirku. Atau mungkin ini adalah sesuatu yang harus dia yang membacaku lakukan. Kadang aku berpikir juga. Aku tidak salah kok. Orang yang membuatku telah menciptakan aku sepenuh hati. Mereka berharap aku, novel, bisa memberikan kebahagiaan kepada semua orang yang membacaku. Setelah itu, terserah pada orang yang membacaku. Apakah aku harus ditutup selamanya, atau mungkin aku akan dibuka suatu saat nanti.

Ya. Aku mengerti sekali. Aku mengerti kenapa mereka harus menutupku. Karena aku tidak berguna lagi. Ya. Karena itu. Aku tidak berguna lagi.

Apakah aku harus menangis? Apakah aku harus menjerit? Apakah aku harus berlutut dan memohon agar aku tidak dilahirkan sebagai sesutau yang berguna sesaat saja? Tidak. Karena bagaimana pun akhirnya, aku yakin. Aku akan dibaca lagi. Aku akan berguna lagi. Aku, akan menjadi sahabat dia lagi.
Hidup itu penuh perjuangan. Setidak bergunapun aku di mata orang, walaupun aku dipandang rendah, walapun aku disepelekan, tapi aku yakin. Aku punya kelebihan. Aku punya mimpi. Aku punya tujuan. Seperti novel, aku ingin terus dibaca. Aku senang kok, karena aku memberikan tawa, tangis, kecewa, bahagia, kesan, pesan dan yang terpenting aku mengandung cerita. Cerita yang terus membangun aku agar aku terus bisa menarik dia membacaku lagi. Aku yakin itu. Aku akan berguna lagi.

Hidup itu juga berputar. Aku senang saat aku dibuka, dan aku terpukul saat aku ditutup. Lalu kemudian, aku yakin bahwa aku akan terbuka lagi, walau pada akhirnya aku akan tertutup kembali.

Hidup juga penuh lika liku. Karena aku sering membuat orang yang membaca novelku marah, jengkel, kesal, ataupun bahkan sampai menangis, tapi aku punya kebahagiaan di akhirnya. Aku punya cerita. Cerita yang harus dibaca oleh dunia.

Seperti halnya novel, apakah kamu, kau, lo, anda mengerti apa arti diriku ini?  Aku bukan pribadi menarik. Aku sudah mengaku. Aku terbuang walau awalnya aku dielu-elukan. Tapi aku punya mimpi. Mimpi bahwa aku akan berguna nanti. Aku punya ambisi. Ambisi bahwa aku akan diterima lagi. Aku punya tujuan. Tujuan bahwa aku akan membuat dia, anda, mereka, tersenyum lagi. 
Post a Comment