Monday, 10 January 2011

Back to December



Gilang masih membeku. Ia kedinginan karena baru saja melawan hujan bersama Hirda di jalan raya. Kini ia sedang bersantai dirumah Hirda dengan teh hangat ditangannya.
“Udah malam nih. Aku pulang dulu ya.”kata Gilang.
“Nggak. Nggak boleh. Badan kamu masih basah. Disini aja dulu. Lagian di luar hujannya masih lebat.”
Gilang melihat ke jendela. Setidaknya aku bisa berduaan sama Hirda disini, pikirnya. Ia lalu mendekap dalam selimut dan duduk disamping Hirda. Gilang menyandarkan kepalanya ke bahu Hirda. Dengan senang hati Hirda mengelus-elus kepala Gilang.
Namun Gilang tidak tahu, bahwa akhir akhir ini pikiran Hirda melayang ke waktu itu. Bulan Desember.
“Hirda…”
Hirda masih bergeming. Lamunannya masih saja mengingat malam penuh dengan deraian hujan di akhir tahun 2009.
Gilang melambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajah Hirda. Barulah Hirda sadar ia bersama Gilang sekarang.
“Hayo, ngelamunin apaan?”goda Gilang.
Hirda menggeleng-geleng. “Nggak ada. Kebawa suasana hujan aja.”katanya.
Namun Gilang ragu. Tapi ia memilih bungkam dan tetap diam. Ia ragu hendak bertanya karena sepertinya Hirda tidak ingin diganggu. Sampai pada akhirnya Gilang berpamitan pulang.
“Hati-hati ya Gilang, salam sama mama ya…”kata Bu Rida, ibu kandungnya Hirda di depan pintu ketika mengantarkan Gilang ke halaman.
“Iya tante. Gilang pulang dulu ya tante…”katanya sambil mengecup tangan kanan Bu Rida.
“Aku pulang ya Hirda…”lanjutnya saat melihat Hirda yang berdiri di belakang mamanya.
Hirda mengangguk lesu dan tersenyum. Terlihat sekali senyumannya itu dipaksakan. Walau Gilang menyadarinya, tapi ia masih ragu untuk bertanya. Akhirnya ia hanya tersenyum dan membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Hirda.


15 Desember 2009
“Hirda mau pindah ya?”lelaki berumur tujuh belas tahun itu bertanya dengan suara lembut sekali.
Hirda mengangguk. “Maaf ya Adit. Mama papa aku mesti pindah ke kota. Dan aku nggak bisa tinggal disini.”
Ini yang Hirda benci. Papanya bekerja sebagai pegawai kantor swasta dan selalu berpindah-pindah tempat. Yang Hirda benci adalah, setiap ada pertemuan dengan teman barunya, selalu saja ada perpisahan. Dan ia lebih benci perpisahannya dengan Adit sekarang. Ia dan Adit sudah bersama selama enam bulan. Adit adalah tipe cowok yang setia dan periang dan juga sopan.
“Jadi kita gimana dong?”tanya Adit polos.
Hirda hanya bisa menggeleng. “Aku nggak tau Dit. Kemungkinan besar aku nggak mungkin kembali kesini lagi. Adit sama cewek lain aja deh.”kata Hirda dengan nada getir.
“Nggak mau. Nggak bakalan mau.”jawab Adit.
Hirda menjauh dari Adit. Ini pilihan berat. Walau Adit nggak mau pacaran sama orang lain, tapi Hirda harus rela jika akhirnya Adit berubah pikiran. Lagian, Hirda juga sejujurnya nggak rela Adit dimiliki orang lain.
 Adit mendekap tubuh Hirda dari belakang. “Pacaran jarak jauh juga aku mau kok.”
Hirda menoleh. Ia melepaskan tangan Adit dari tubuhnya. “Nggak bisa. Maksud aku, kasihan Adit. Emang Adit kuat?”
Adit menunduk lesu. “Justru Hirda yang aku takutkan.”
“Kok gitu?”
Adit menghela napas panjang dan berbaring di rumput hijau yang dipijakinya. Menatap langit biru dan awan-awan yang ceria tersenyum padanya.
“Hirda mau pindah ke kota. Di kota kan banyak cowok cakep dibanding sama Adit yang cuma bocah desa ini. Lagian, pergaulan desa sama kota juga beda jauh.”
Hirda ikut-ikutan berbaring disebelah Adit. Adit ini memang cowok polos, jujur, dan penyayang. Sayangnya polosnya itu ditutupi oleh tampangnya yang cakep banget.
“Ya ampun Adit. Masa nggak percaya sih sama aku?”
Adit merubah posisinya. Menopang kepalanya dengan telapak tangan kirinya. “Emang bener kan?”
“Tapi…”
“Haahh. Udah deh. Masih ada dua minggu lagi kan kamu disini?”
Hirda mengangguk. “Dua minggu itu nggak lama.”gumamnya.
“Dua minggu itu ada 14 hari. 14 hari itu terdiri dari 336 jam. Dan 336 jam itu terdiri dari satu, dua, enam…. 20.000an menit. Dan aku, Pramadit Laksana, bakal bikin setiap detiknya berharga. Jadi 2 minggu bakal serasa 2 tahun.”katanya sambil tersenyum.
Hirda tersenyum lega. Dipandanginya cowok yang sangat disayanginya di masa awal SMA ini. Walau Adit lebih tu darinya, tapi Adit polos banget ya. Dia juga nggak mau dipanggil kakak. Hirda tersenyum puas. Puas karena mendapatkan cowok sebaik Adit.


“Hirda!”
“Aduh, jangan bikin kaget gitu dong Gil!”bentak Hirda.
Gilang jadi merasa bersalah. “Maaf deh. Aku nggak sengaja. Lagian kamunya aku panggil dari tadi nggak nyahut-nyahut.”katanya sambil membolak-balikkan halaman buku biografi Sukarno Hatta yang sedang dibacanya itu.
Hirda hanya diam. Ia masih saja memikirkan Adit. Padahal disampingnya sedang duduk seorang lelaki yang sangat dipuja-puja oleh sebagian besar cewek kelas dua dan kelas tiga. Gilang Purwa Harianata. Cowok yang masih berumur enam belas tahun dan termasuk dalam cowok kategori “cowok tertampan” di sekolah Harapan Jaya. Gilang juga dikenal anak yang tajir, baik dan ramah.
Gilang dekat dengan Hirda sejak empat bulan lalu. Itu juga karena Gilang anak dari sahabat lama mamanya Hirda. Hirda pun merasa nyaman sekali dengan kehadiran Gilang. Walaupun kehadiran Gilang masih belum bisa membuat Hirda melupakan Adit.
Tapi berulang kali Gilang mengatakan cinta pada Hirda. Namun ya itu. Alasan Hirda cuma Adit. Tapi tentu saja Gilang tidak tahu sama sekali tentang Adit. Hirda selalunya berkata, “Aku lagi nggak mau pacaran Gil,”

Malamnya Gilang berencana untuk bertanya kepada Hirda kenapa akhir-akhir ini Hirda kehilangan konsentrasi. Ia mengajak Hirda untuk makan malam bersama di sebuah restaurant.
Gilang saat ini sedang menunggu Hirda di ruang tamu rumah Hirda dan mengobrol bersama Bu rida.
“Hirda, cepetan dong. Udah jam delapan nih.”teriak Bu Rida dari ruang tamu.
Saat itu juga Hirda keluar dari kamar. Dengan dress hitam selutut diwarnai dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih dan sepatu flatnya juga rambut panjangnya yang terlihat simple dengan bando putih dengan pita besar disamping kepalanya.
Gilang membukakan pintu mobilnya untuk Hirda. Dan berpamitan dengan Bu Rida sebelum akhirnya masuk ke mobil dan mengendarai mobil sepanjang jalan raya.
“Aku udah bilang belum?”
“Bilang apa?”tanya Hirda penasaran.
“Kalau kamu lebih cantik dari biasanya.”lanjut Gilang sambil menatap mata Hirda sekejap.
Hirda tersenyum tipis. “Makasih.”jawabnya.
“Coba buka mp3 deh.”perintah Gilang.
Hirda menurut. Ditekannya tombol play dan dibesarkannya volume suara tape mobil jazz putih itu. Lagu Jonas Brother berjudul When you look me in the eyes diputar. Adit tahu aja lagu kesukaan aku, pikir Hirda. Hirda jadi senyum-senyum sendiri.
Gilang memang merencanakan tidak akan membiarkan Hirda melamun lagi. Sejujurnya Gilang risih karena selalu dicuekin sama Hirda kalau Hirda lagi melamun.
Sesampainya di restaurant, Gilang menggandeng tangan Hirda sepanjang jalan menuju meja makan yang sudah disiapkan Gilang sebelumnya. Restaurant terlihat sepi. Hanya seorang pemain piano yang duduk di atas panggung yang dilihat Hirda.
“Kok sepi banget ya?”tanya Hirda.
Gilang hanya mengangkat bahu. Padahal ini memang rencana Gilang. Restaurant bernama Jasmine ini memang sengaja Gilang sewa. Pemilik restaurant ini adalah tante Gilang sendiri. Jadi Adit tidak segan-segan untuk meminta pelayan restaurant agar mengosongkan restaurant ini. Cukup Hirda dan Gilang saja.
Belum memesan, didepan Hirda telah disediakan makanan pembuka. Soup ikan Salmon segar yang hangat dengan aroma jahe. Hirda sepertinya sudah bisa menebak rencana Gilang.
“Tumben ngajakin aku candle light dinner gini.”kata Hirda sambil mengunyah makanannya.
Gilang tersenyum. “Tumben ya? Bakalan sering-sering deh aku ajak ntar.”
“Eh, maksud aku bukan gitu…”
“Ssst. Diem. Iya iya. Aku tahu kok maksud kamu, Hirda.”
Hirda mengangguk-angguk. Pikirannya tertuju lagi pada Adit. Aduh, kok Adit lagi sih! gumamnya dalam hati. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
“Kenapa Hir? Pusing?”
“Eh, hmm. enggak kok. Eh, sebenarnya iya.”jawab Hirda. Entah kenapa ia ingin cepat pulang sekarang.
“Ohh. Abisin deh ikannya. Terus kita pulang aja.”tukas Gilang dengan ekspresi khawatir.
“Pusing doang kok Gil…”
“Pusing itu tanda awal bakalan sakit. Udah deh. Nggak usah bandel.”
 Hirda menyerah. Untuk malam ini biarkan saja Gilang yang mengaturnya. Karena Adit belum hilang-hilang juga dari pikirannya. Adit apa kabarnya ya disana? pikir Hirda.

Ternyata setelah pulang dari restaurant, Gilang tidak langsung mengantar Hirda pulang ke rumah. Hirda dibawanya ke sebuah taman yang terang banget. Taman itu penuh dengan bunga kertas yang berwarna-warni. Hirda tidak tau persisnya dimana ia sekarang tapi ia merasa kagum sekali dengan keindahan taman ini.
Mereka duduk berdua di sebuah bangku panjang berwarna coklat tua. Hirda tak henti-hentinya menatap kolam yang sekarang ada dihadapannya itu.
“Kok kmu nggak pernah ngajak aku ke sini sih Gil? Sumpah. Keren banget nih taman!”
“Suka ya? Taman ini cakep kalau malam aja Hir, kalau siang-siang gitu kotor. Baru tadi sore aku bersihin taman ini.”jawabnya.
“Bersihin? Untuk apa?”
Gilang terdiam. Ia berpikir sejenak. Lalu dengan mantap ia menghadap Hirda dan memegang ke dua tangan cewek pujaannya itu.
“Please, be my girl.”


23 Desember 2009
            “Sini deh.”kata Adit sambil memegang kedua tangan Hirda dan menariknya ke depan tubuh Adit. Lalu dengan perlahan Adit membuka penutup kepala Hirda. Sekrang Hirda dengan bebas bisa melihat.
            “Waw.”kata Hirda. ia saat ini sedang berhadapan dengan kebun teh yang sangat luas dan sangat hijau dari atas tebing tinggi. Sungguh, indah sekali! katanyanya dalam hati. Ia bisa dengan jelas melihat seluruh isi desa dari atas tebing ini. Apalagi cuaca hari itu memang cerah sekali.
            “Kok Adit nggak pernah ngajak aku kesini?”tanya Hirda.
            Adit menggeleng-geleng. “Belum ketemu saat yang tepat. Nah, sekaranglah saat yang tepat.”
            Adit lalu mengeluarkan rangkaian bunga lily indah dari balik badannya. Lalu tiba-tiba saja ia berlutut di depan Hirda sambil mengangkat bunga tersebut.
            “Please, be my girl.”
            Hirda tertawa haru. “Maksud kamu apa sih Dit? Kita kan emang udah pacaran?”katanya.
            Adit lalu berdiri. Dengan muka kesal ia berkata, “Kemarin itu nggak romantis banget. Pas aku nembak kamu itu cuma pake surat. Terus aku baru berani romantisan gini ya dibulan Desember ini. Padahal kita udah lima bulan jadian. Hehe.”
            Hirda mematung kebingungan. “Jadi?”kata Hirda bingung.
            “Kok Hirda ikut-ikutan polos sih sekarang?”tanya Adit sambil mencubit pipi Hirda sampai Hirda meringis kesakitan.  
“Maaf deh. Abisan Hirda imut banget. Tukeran pipi yok. Aku juga pengen pipi halus kayak punya Hirda gini.”lanjut Adit sambil mengelus-elus pipi wanita kesayangannya itu.
“Udah deh. Jadi intinya apa Adit?”
“Aku pengen ngulang cara aku nembak kamu. Dengan cara yang lebih oke gitu.”
Hirda geleng-geleng kepala. “Ya ampun. Terima surat cinta dari Adit aja aku udah seneng banget. Ngapain juga pakek diulang-ulang?”
Adit makin sebel. Ia lalu duduk bersila dihadapan Hirda. “Hirda nih!”katanya polos.
Hirda lalu tertawa. “Iya deh iya…”
Adit lalu mengulang posisinya lagi dan mengucapkan kata terakhirnya lagi. “Please be my girl.”
Dengan yakinnya Hirda mengangguk. “I will. And I always will to say yes.”katanya dengan mantap.
Adit lalu berdiri dan memeluk Hirda erat-erat. “Jangan lupain kejadian ini ya sayang…”bisiknya.  Hirda mengangguk lagi.


Hirda masih terpaku memainkan liontin yang dipakainya. Bingung ingin berkata apa. Ia tidak ingin mengecewakan Gilang untuk kesekian kalinya. Tapi ia juga enggan untuk berkata iya.
Gilang masih menunggu. Namun entah kenapa, Gilang yakin sekali usahanya ini bakal berakhir sia-sia. Namun tatapan matanya masih tetap memohon.
Hirda menyerah. Lalu akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan, “Kamu tau jawaban aku kan?”
Kali ini sakit yang diterima Gilang sangat-sangat dalam. Ia lalu melepaskan tangan Hirda dan duduk mematung. Hampa, kesal, pupus, menyerah. Itu yang ia rasakan sekarang.
“Aku boleh tanya kenapa?”akhirnya Gilang bersuara.
Hirda ragu untuk menjawab. Namun ia pikir, sebaiknya Gilang tahu yang sebenarnya. Karena jika tidak, bisa saja Gilang terus-terusan mengharap padanya.
“Aku…masih sayang sama orang lain.”
Gilang yang tidak tahu ia rasakan, tapi ia merasa lega sekali. Lega karena telah tau alasan yang sebenarnya. Walau di lain sisi hatinya merasa hancur.
Hirda melepaskan kalung yang dikenakannya. Dibukanya liontin hati itu da ditunjukannya isi liontin itu pada Gilang. Tentu saja Gilang kaget. Ia tak menyangka bahwa dirinya telah diberi harapan sia-sia oleh Hirda. ia kembali terpuruk lagi. Ingin rasanya ia memekik untuk melampiaskan kekesalannya. Namun ia tahan karena itu tak mungkin ia lakukan dihadapan Hirda.
Gilang hanya bisa mengangguk lesu. “Terus, kenapa nggak balikan aja sama dia?”Tanya Gilang lagi. Ia pikir, mungkin ia masih bisa sahabatan dengan Hirda. Dan Hirda jadi lebih terbuka padanya.
Hirda lalu menceritakan semuanya pada Gilang. Dari sejak Adit bersalaman padanya setelah tiga hari bertemu, saat mereka akhirnya berpacaran, hingga akhir dari perjalanan cinta mereka. Hirda terlihat senang sekali bisa menceritakan tentang Adit pada orang lain. Dan Gilang juga lega melihat kebahagiaan Hirda yang sebenarnya. Yaitu bersama seorang pria bernama Adit yang tinggal jauh dari kota.

Seminggu setelah persoalan itu, hubungan Gilang dan Hirda masih berjalan baik. Hingga pada hari ini.
“Gil, ke kantin yuk.”ajak Hirda.
“Eh, hmm. nggak bisa deh. Aku mau ke perpus sama…”
“Gilang!”seorang cewek berbadan tinggi, berambut pendek dan terlihat sangat feminim sekali melambai ke arah Gilang dari pintu kelas.
Gilang balas melambai juga. “Sama Chyntia.”
Hirda mengangguk dan membiarkan Gilang pergi bersama cewek cantik kelas dua itu. Mereka bergandengan tangan dan terlihat mesra sekali. Entah kenapa tapi rasanya mereka sudah berpacaran. Dan Hirda baru sadar bahwa ia tidak merasakan apa-apa. Sakit hati, marah, kesal ataupun yang lain. Padahal ia dan Gilang sudah sangat-sangat dekat sekali. Dan Hirda juga nyaman dengan Gilang. Namun Hirda memaklumi karena akhir-akhir ini juga Gilang terlihat sibuk dan tidak pernah mampir ke rumah Hirda lagi.
Hirda merasa lega sekali setelah melihat Gilang bisa bahagia dengan orang lain. Namun tiba-tiba memori tentang Adit kembali mengguncang kepala Hirda. saat terakhir Hirda dan Adit bertemu.

29 Desember 2009
Malam itu hujan. Hirda merasa gelidah sekali karena hari ini ia belum berpamitan dengan Adit. Padahal besok ia sudah harus meninggalkan desa tercintanya itu. Namun hujan menghalanginya untuk ketemuan sama Adit. Kegelisahan Hirda betambah karena Adit tidak mengangkat telponya dan saat Hirda menelpon telepon rumah Adit, adik Adit mengatakan bahwa Adit belum pulang sekolah. Adit, dimana sih kamu?
“HIRDAAA!!!!!”
Seseorang berteriak dari halaman rumah Hirda. Adit!
Hirda lalu berlari ke luar dan mendapati Adit asyik bermain hujan dengan masih mengenakan seragam sekolah.
“ADIT GILA!!!”teriak Hirda dari teras rumah. Hujan lebat masih saja mengguyur desa. Untunglah mama papa Hirda sedang pergi. Bisa gawat jika mereka melihat Adit sedang bergila-gilaan bersama hujan.
“IYA HIRDA. AKU GILA KARNA KAMU BAKAL NINGGALIN AKU!” teriak Adit.
“ADIT MASUK!!”perintah Hirda.
Namun Adit menggelengkan kepalanya dan terus saja meloncat-loncat sambil bernyanyi sesuatu yang tidak jelas. Hirda masih saja berteriak memanggil Adit untuk masuk ke rumah. Namun Adit melawan. Hirda mencari-cari paying, namun tidak ditemukannya. Kekhawatiran Hirda bertambah setelah melihat Adit tiba-tiba terbaring lemah disana. Hirda langsung berlari melintasi hujan dan mendapati Adit kedinginan dengan muka yang sangat-sangat pucat.
“ADIT!!! BANGUN! BANGUN!!!”
Tidak ada suara. Namun mata Adit masih bisa melihat Hirda yang basah kuyup. Hirda dengan cepat membopong Adit masuk ke rumah. Untunglah Adit masih setengah sadar. Setelah membawa Adit ke sofa ruang tamu, Hirda berlari ke dapur, mengambil handuk dan menyiapkan teh panas. 
“Minum cepet!”perintah Hirda lagi.
Adit menurut. Ia  benar-benar menggigil kedinginan. Handuk biru yang sedari tadi dipegangnya malah ia gunakan untuk membungkus badan Hirda yang kedinginan juga. Lalu ia memeluk tubuh Hirda dengan kuat.
“Jangan dilepas!”teriak Adit saat mendapati tangan Hirda yang hendak melepas pelukan Adit.
Hening sekitar dua puluh menit. Namun tangan Adit masih saja memeluk Hirda.
“Kamu nggak mungkin bisa tinggal disini lebih lama lagi kan?”tanya Adit.
Hirda hanya menggeleng.
“Ini, pegang.”kata Adit sambil meletakkan sebuah kalung dengan liontin hati yang besar.
Hirda membuka liontin tersebut. Didapatinya sebuah tulisan kecil Adit untuk Hirda selamanya di sisi kanan liontin dan foto mereka berdua di sisi kiri. Hirda menangis.
Adit lalu melepaskan pelukannya. “Jangan nangis…”lirih Adit.
Namun suara lembut yang diucapkan Adit malah membuat tangis Hirda semakin kuat. Hirda nggak mungkin bisa tahan hidup jauh dari Adit. Adit adalah cinta pertama Hirda, sahabat satu-satunya yang dimiliki Hirda, dan satu-satunya yang bisa menghibur Hirda. Namun ia harus melepaskan Adit sekarang.
Adit mengusap air mata Hirda yang jatuh di pipi mulusnya dengan perlahan.
“Aku rela kok. Rela bakal ditinggalin sama kamu, rela kalau kamu bakal dimiliki cowok lain, dan rela kalau kita nggak mungkin ketemu lagi.”
Kini giliran Hirda yang memeluk Adit dengan kuat. hirda masih menangis. Adit mengerti sekali perasaan ceweknya itu. Ia lalu mengusap punggung Hirda dengan lembut.
“Aku nggak mau ninggalin kamu Adit…”kata Hirda sambil menangis.
Adit tersenyum walaupun Hirda tidak bisa melihat senyumannya itu. “Kamu harus pergi sayang. Orang tua Hirda lebih membutuhkan Hirda dari pada aku.”
Hirda masih menangis. Memang ini pilihan berat. Hidup berdua bersama Adit di desa tidak mungkin bisa diraihnya jika orang tuanya pergi meninggalkannya.
“Jangan nangis dong sayang. Aku yakin kok jarak kita jauh hanya untuk sementara. Ntar pasti ketemu lagi. Lagian, aku nggak bakal lupain kamu kok Hirda. Aku bakal tetap mencintai kamu. ”


Entah apa yang diimpikan Hirda semalam, tapi akhirnya orang tua Hirda mengijinkan Hirda untuk kembali ke desa tempat dimana ia akan bertemu Adit lagi. Walau hanya seminggu, tapi tentu saja Hirda merasa gembira sekali. Lelaki yang dirindukannya selama hampir lima bulan pisah itu, akhirnya akan ia temukan lagi.
Awalnya ia tidak menyuruh Om helmi, supirnya untuk pulang ke kediaman lamanya. Ia menyuruh supirnya itu untuk langsung pergi ke rumah Adit.
Sesampainya disana, ia berjumpa dengan Tasya, adik Adit yang masih duduk dibangku SLTP. Setelah tahu bahwa Adit belum pulang ke rumah,  ia memutuskan untuk menunggu Adit. Hirda telah menyiapkan sebuah kado kecil untuk Adit. Sebuah baju dengan tulisan aku sayang kamu yang di beli Hirda di perjalanan saat ia menuju kemari.
Akhirnya, setelah tiga jam menunggu didapatinya sosok yang menghilang dari hidupnya dulu. Hirda lalu berlari ke arah Adit dan memeluknya.
“Hirda?”
Hirda mengangguk cepat. Namun Hirda kaget sekali karena Adit tidak menunjukan ekspresi yang diinginkan Hirda.
“Kamu… ngapain kesini?”tanya Adit dengan ragu.
“Aku pengen ketemu kamu dong Adit.”jawab Hirda.
Pandangan Hirda berpindah dari muka tampan Adit ke sosok wanita berjilbab yang diam terpaku di belakang tubuh Adit. Hirda sepertinya mengenali wanita itu. Kalau tidak salah namanya Intan, teman sekelas Hirda waktu ia bersekolah di desa ini dulu. Hirda lalu berjalan ke arah Intan dan menyalaminya. Dengan ramah Intan menyambut tangan Hirda tersebut.
“Apa kabar Intan?”tanya Hirda berbasa-basi.
“Ba..baik kok.”jawab Intan dengan lemah.
Hirda bingung dengan tingkah aneh Intan itu. Namun Adit lalu menarik tangan Hirda menjauh dari Intan.
“Intan cewek aku sekarang.”
Hirda tertawa terbahak-bahak. “Kamu jangan bercanda ya Adit. Aku kesini ingin ketemu kamu tau?”
Adit memegang kedua bahu Hirda. Sesekali ia melirik Intan.
“Kamu pernah bilang kan kalau aku bebas nyari cewek yang aku mau ketika kamu pergi nanti?”
Akhirnya Hirda baru sadar, bahwa Adit memang serius.
PLAK!
“Kamu bilang kamu cinta sama aku ADIT!”teriak Hirda menahan tangis.
Adit menggeleng-geleng kepalanya. “Itu dulu!”
Hirda seakan tak percaya dengan Adit yang berdiri di hadapannya sekarang. Ini… bukan Adit yang aku kenal. lalu raut wajah Adit berubah sangat sangat marah. 
“Denger ya Hirda, aku memang mencintaimu. Tapi itu DULU! Kamu ninggalin aku dan kamu kira aku nggak tau kalau kamu dengan cepat punya cowok lain?! Saat itu aku mengejar kamu ke kota. Dan kamu tau?! Aku liat kamu jalan sama cowok lain! Kamu kira aku nggak sakit hah?! Kamu dengan cepatnya bisa mendapatkan cowok, lalu kenapa aku nggak bisa dapatkan cewek lain? Lagian, Intan juga lebih baik dari kamu kok!”
PLAK! Kali ini tamparan Hirda lebih kuat.
“BRENGSEK!”
Hirda lalu pergi dengan deraian air mata dan membiarkan Adit terpaku sendiri.
Post a Comment