Thursday, 30 December 2010

Wondering I’m in Wonderland.


Aku merasa aku di negeri yang indah sekali. Dimana hanya ada aku dan Brad saja disini. Dan di negeri itu matahari, angin, awan, burung, ombak, langit, mereka semua berbicara padaku. Setiap pagi, mereka selalu mengucapkan, “Selamat pagi Linsy”. Dan rumahku sangat indah sekali. Rumah berwarna putih dengan pohon rindang yang mengapitnya. Dan kau tahu? Sahabat-sahabatku berbicara padaku. Komputer tersayangku selalu bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan Linsy? Bercerita padaku? Adalah sebuah penghormatan bagiku jika kau mengetik cerita-ceritamu dan biarkan aku menyimpannya.”

            Sedangkan speaker yang selalu menemaniku selalu memutarkan lagu dengan melodi piano yang sangat sangat menghanyutkan. Lihat! Gitarku bermain sendiri! “Hai nona Linsy…”katanya.

            “Astaga. Aku ada dimana Brad?”

            Brad menggenggam kedua tanganku dengan kuat. “Linsy, inilah negerimu. Negerimu dimana kau bisa bebas dari desakan mereka yang selalu jahat denganmu. Inilah negerimu. Dimana sahabatmu akan selalu menemanimu, termasuk aku.”

            Aku tersenyum girang. “Benarkah?”

            “Iya. Benar. Waktumu sudah habis Linsy, kau harus bangun sekarang…”

            “Bangun? Apa maksudmu?”

            Tiba-tiba Brad dan semua yang ada di negeri itu berubah menjadi hitam. Aku kembali ke negeri dimana aku berasal. Negeri tempat batinku merasa sangat tertekan.

           

“Sudah bangun ya?”

            Byyuurr! Siraman air menghantam mukaku. “Aku sudah bangun kok Lit…”kataku sambil mengusap mukaku.

            “Baguslah. Tidak sia-sia aku menyiramimu. Sekarang buatkan kami sarapan. Cepat!!”perintah Litta.

            “Ohya, carikan kaos kaki kuningku Linsy! Kau yang mencucinya kemarin kan? Berani-beraninya kau menyembunyikan kaos kakiku!”teriak Linda dari pintu kamarnya.

            “Ini kaos kakimu Linda. Ada di atas tempat tidurmu sendiri.”kataku dengan ramah.

            “Oh iya. Sudah sana siapkan kami sarapan!!!”

Aku lalu dengan sigap berlari ke dapur. Aduh. Penyakitku kambuh lagi. Kali ini tusukan yang menusuk tulang rusukku lebih kuat dari sebelum-sebelumnya. Rasa pening yang hebat menghantam kepalaku. Jangan sekarang, plis…

            “Hey! Apa yang kau lakukan? Berdiam diri di dapur bukan waktu yang tepat sekarang!”

            “Maaf ma, tapi sepertinya penyakitku kambuh lagi…”

            “Alasan! Memangnya kau sakit apa hah?! Cepat, buatkan sarapan untuk adik-adikmu. Mereka kelaparan! Dan kau tahu? Kau tidak aku ijinkan pergi sekolah hari ini.”

            “Apa?! Maaf ma, tapi hari ini ada ulangan kimia dan tidak ada ulangan susulan…”

            “Kau yang bilang sendiri kan kalau kau sakit? Kau terlambat bangun, dan tidak ada sarapan untuk adik-adikmu. Lihat? Mobil sekolah mereka sudah datang! Adikmu belum sarapan, kau tahu itu?! Lagian kenapa kau bisa bangun siang? Kau tahu kan, ini sudah kewajibanmu untuk bangun jam 3 pagi dan menyiapkan semuanya?”

            “Iya ma, tapi sekarang masih jam setangah tujuh…”

            “Dan jam setengah tujuh itulah mobil sekolah mereka datang! Dan aku juga harus bekerja sekarang. Ada rapat mendadak. Pokoknya kau tidak boleh sekolah hari ini! Jika kau melanggar perkataanku, tidak ada makan malam buatmu! Kau mengerti?”

             Aku menunduk. “Iya ma. Aku mengerti.”kataku.

            “Saat aku pulang nanti, aku ingin semua perabotan rumah bersih tanpa ada debu sedikitpun! Dengar itu!”

           

            Bagaimana ini? Ulangan kimia hari ini adalah ulangan terakhir dalam semester ini. Dan nilaiku bisa anjlok jika aku tidak ikut ulangan. Aku mengingat-ngingat nilai ulanganku. Gawat! Nilai ulangan kimiaku yang terakhir 6! Ohya, malam itu aku membersihkan loteng dan dihukum tidak boleh belajar karena memecahkan gelas kesayangan Linda. 

            Haaahh. Brad pasti sudah pergi sekolah. Badanku tiba-tiba menggetar hebat. Kenapa ini? Rasa sakit atas tulang rusukku datang lagi. Tenang Linsy. Tenanglah. Akhirnya rasa itu hilang juga.
            Aku beranjak ke ruang favoritku dan duduk didepan sahabatku, si komputer. Tiba-tiba saja aku menangis kuat.
             
    Andai aku berada di negeri persis dengan negeri di dalam mimpiku semalam. Pasti bahagia sekali rasanya. Kau tau? Aku melihat dan mendengar komputerku berbicara sendiri. Dan benda mati yang biasanya menemaniku juga berbicara padaku. Sungguh hebat.

     Astaga! Aku baru ingat. Hari ini adalah hari ke 81 sejak ayahku pergi. Aku sangat merindukannya. Andai kau masih dirumah ini ayah, kau pasti selalu melindungiku dari jeritan mama yang selalu mengeluh karena pekerjaanku.

     Dan rasa sakit itu bertambah parah. Ingin sekali aku pergi ke dokter untuk mengetahui sakit apa yang aku derita. Tapi aku tidak punya uang. Uang jajanku bahkan tidak cukup untuk membeli mi goring disekolah. Haahh. Ingin rasanya aku kembali bermimpi dan kembali ke negeri itu…
           
Malam hari…

           

            Aku berada di negeriku lagi. Kali ini aku dan Brad mengelilingi kota yang sungguh indah itu. Kali ini ada pelangi loh. Dan ada beberapa gedung gedung tinggi yang berkelip-kelip ketika matahari pergi dan bulan menggantikannya.

            Aku dan Brad menaiki sebuah perahu dan kami bermalam di danau yang sungguh terang karena cahaya bulan dan cahaya lampu-lampu jalan yang mengelilingi danau luas itu. Ku lihat pohon-pohon tinggi berdansa bersama ketika bintang-bintang bernyanyi riang. Sungguh indah.

            “Brad, aku tidak mau bangun lagi…”

            “Kenapa sayang?”

            “Karena bangun itu sangat menyakitkan. Aku terbangun dan aku harus berhadapan dengan mama dan adik-adikku lagi. Aku tidak mau itu terjadi…”

            “Linsy, suatu saat kau pasti memiliki negeri ini sepenuhnya. Dan aku janji, suatu saat kau tidak akan terbangun saat kau berada disini bersamaku.”

            “Benarkah?”

            “Benar Linsy. Aku janji. Sekarang kau harus bangun. Linsy, tetaplah bersabar. Kebahagiaanmu ada padaku. Aku akan selalu ada disampingmu Linsy. Baik itu di dunia nyata, ataupun disini.”

            Sebuah kecupan dia berikan tepat diatas keningku. Terima kasih atas janjimu Brad…



Tiga hari sesudah itu…

           

            “Apa yang terjadi padamu Linsy?”Tanya Brad ketika memandangiku lekat-lekat.

            “Memangnya aku kenapa Brad?’

            “Cukup Linsy! Cukup sudah kau menahan semua rasa sakitmu selama empat bulan ini. Kau bahkan tidak tahu kau sakit apa. Aku tidak kuat melihatmu sakit terus-terusan. Tapi kau selalu melarangku membawamu ke dokter. Tolong Linsy. Tolong. Berikan kesempatan untukku membawamu ke dokter. Mukamu pucat sekali sayang… badanmu panas. Dan apakah kau merasa pusing?”

            “Aku tidak apa-apa Brad! Tolonglah. Aku tidak mau menambah beban pikiranmu. Dan aku juga tidak merasa pusing sedikitpun. Percayalah…”aku terpaksa berbohong agar Brad tidak khawatir dengan sakitku. Hanya dia yang tahu apa yang aku derita saat ini. Tapi aku tidak mau ia membawaku ke dokter. Pasti sangat berat ketika ia tahu penyakit apa yang aku derita.

            Ia terdiam. “Baiklah, tapi biarkan aku menjagamu hari ini. Aku akan melapor ke piket kalau kau sakit dan aku mengantarmu pulang. Kau mau kan?”

            Entah kenapa tapi rasanya berat sekali untuk mengatakan tidak. Akhirnya aku hanya mengangguk dan membiarkan Brad pergi. Kepalaku terasa berat sekali. Dan kenapa ini? Aku tidak bisa bernafas? Brad, tolong aku…



            “Linsy sayang…”

            Aku berlari menuju Brad dan memeluknya erat-erat. “Aku kira aku takkan melihatmu lagi Brad…”

            “Tentu saja kau salah. Lihatlah siapa yang aku bawa kemari…”

            “Linsy anakku…”seorang wanita muncul di balik tubuh Brad.

            “Ayah? Ibu? Apa ini benar-benar kalian?”

            Mereka memelukku erat-erat. “Iya sayang. Ini kami. Maafkan kami yang tidak mengetahui sakitmu. Maafkan ayah yang sudah kejam terhadapmu dan membiarkan ibu tirimu menyakitimu. Maaf…”

            “Sudahlah yah. Aku bahagia tinggal dengan mereka. Dan aku ikhlas dengan perlakuan mereka karena akhirnya aku bisa berada di negeriku sendiri bersama kalian, Ayah dan Ibu kandungku dan juga Brad…”

            “Terima kasih Linsy. Kau sudah menjadi malaikat terbaikku di sana. Aku mencintaimu Linsy. Dan disini kau tidak perlu khawatir dengan ibu atau adik-adikmu lagi.”lanjut Brad.

            Aku tersenyum. Akhirnya aku mendapatkan kebahagiaanku. Berada di negeri dimana semua sahabatku menemaniku, di negeri di mana aku bebas dari siraman air tiap pagi, dan di negeri dimana aku terbebas oleh rasa sakitku.


Post a Comment