Saturday, 12 March 2011

His explanation.

Ya, aku mau hidup yang seperti ini. Ya! Benar! Ini hidup yang aku inginkan. Tak ada gangguan dari lelaki hidung belang seperti Herry dan Gilang lagi. Tak ada tugas sekolah yang menumpuk. Tak ada latihan soal. Dan yang lebih penting, tak ada ULANGAN! Yeah!

Aku lulus. Lulus sudah dari masa SMA-ku dan kini aku pergi jauh dari kota yang menyesakkan. Ya, walaupun memulai hari-hari kuliah masih dua bulan lagi, tapi entah kenapa aku senang menganggur seperti ini.

Tapi, mengingat kejadian semalam, aku jadi takut berada di sini. Bandung. Setahuku, Bandung ini kota yang luas. Tapi, kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Sial! Oh, sial!

Bukan ini yang aku mau. Kembali bertemu dengan masa lalu yang pahit dan menyeramkan. Ah! Sudahlah. Cukup semalam saja aku bertemu dengannya. Jangan pertemukan aku lagi dengannya, Tuhan.

Tapi untung saja aku pintar. Semalam, saat ia menyapaku, aku bisa mengarang cerita sepuas-puasnya dan berpura-pura lupa dengannya. Mengingat aku pernah menderita amnesia, jadi aku bilang saja aku lupa namanya siapa.

“Dek, masa lupa dengan kakak?”katanya.

Aku menggeleng dan memasang muka polos, berpura-pura baru kenal. “Siapa?”balasku.

Matanya melotot. “Astaga. Jadi berita tentang amnesia adek itu, beneran ya?”

“Tau darimana? Siapa sih kamu?”tanyaku lagi. Rasanya aku ingin tertawa sepuas-puasnya melihat raut wajahnya yang terlihat terkejut setengah mati.

“Dek, ini kakak. Kak Bima. Kakak kelas adek di SMA 1 kemarin. Kakak lulus SMA udah 2 tahun yang lalu. Kita pernah deket. Ayo dong dek, inget-inget kakak. Kita dulu tuh kayak orang pacaran, masa lupa?”

Rasanya pengen aku tampar pipinya yang putih itu. Pacaran? Helo! Ya, aku memang pernah mengharapkan hal itu terjadi. Tapi, sebenarnya dia atau aku sih yang amnesia? Apa dia tak ingat bagaimana gampangnya ia mendekati cewek lain dan langsung meninggalkanku?

“Maaf. Aku nggak ingat. Udah dulu ya.”aku lalu pergi meninggalkannya.

“Jani! Jani!”panggilnya saat aku mulai berlari dan masuk ke mobil.

Huh! Aku baru tau dia ada di Bandung. Sudahlah. Aku rasa dengan pura-pura lupa dengannya, kenangannya, dan semua gombalannya yang pernah ia ucapkan, merupakan jalan yang terbaik. Yang aku inginkan saat ini adalah mencari kehidupan baru. Cowok baru, sekolah baru, kerja baru, dan semua yang baru-baru. Bukan bercumbu kembali dengan masa lalu!

Jani! Astaga. Ternyata aku masih mengingat cowok brengsek itu. Sudah Jani, sudah! Dia tuh nggak berguna. Dia itu cowok kurang ajar yang tak tau sopan santun dan tata karma tentang cara meninggalkan seorang cewek yang benar dan baik seperti apa.

“Jani!”

Dan sialnya sekarang aku mendengar suaranya lagi. Pergi-pergi! Pergi sana Kak Bima! Pergilah kau dari ingatanku. Aku jadi pengen amnesia lagi. Huh.

“Jani! Hei, kita ketemu lagi.”

Oh, tidak. Sekarang ia berada di hadapanku.

Aku harus bagaimana sekarang? Padahal sekarang diriku berada di toko buku kecil di pinggir jalan, dan jauh dari tempat aku bertemu dengannya semalam. Tapi sekarang ia ada di hadapanku lagi?

Aku berpura-pura takut. “Maaf. Aku nggak kenal kamu. Permisi.”

“Jani!”ia memegang lenganku.

Refleks aku langsung mengusir sentuhannya dari tanganku.

“Tapi, aku kangen kamu. Penantian aku selama dua tahun ini, ternyata nggak sia-sia. Jani, kamu pasti bisa ingat aku lagi. Plis, aku bukan orang asing yang perlu ditakuti.”

Apa katanya? Kangen? Jani, ingatlah kesalahannya dulu. Kesalahan fatal yang membuatmu amnesia. Sabar Jani, teruslah berpura-pura lupa dengannya. Kak Bima juga pasti akan menyerah juga.

“Minggir! Atau aku akan teriak.”lanjutku sambil memeluk buku yang aku sedari tadi aku pegang.

Dia tersenyum kecut. “Yang benar saja. Kakak tahu kamu nggak seberani…”

“TOLOOONG!!!”

Semua mata tertuju pada kami. Bapak-bapak yang dari tadi duduk di meja kasir, menghampiri kami.

“Jani!”bentak Kak Bima dengan tatapan penuh dengan rasa terkejut.

“Pak, tolong. Orang ini ngejar-ngejar saya terus. Dia kayaknya mau menculik saya, Pak.”lanjutku masih dengan raut wajah ketakutan dan menahan tawa.

“Mas, lebih baik mas pergi jika mas tidak mau saya memanggil polisi.”

“Pak, tapi saya kenal dia. Dia itu adik saya, Pak.”

“BOHONG! Dia ngaku-ngaku, Pak. Mana mungkin saya punya kakak seperti dia. Dia mau menculik saya, Pak.”

Kini empat orang pemuda yang sedari tadi memerhatikan, ikut mengusir Kak Bima.

“Halo? Pos Polisi? Ya, ini ada seorang penculik yang ingin menculik seorang gadis di toko saya. Ya? Jalan Gatot Subroto nomor 176. Baik.”

Yes! Dia ketakutan. Lihat saja raut wajahnya yang comel dan putih itu, kini merah karena malu. Sekarang orang-orang sudah mulai berkerumunan. Lebih baik aku kabur.

“Astaga, Pak! Dia itu adek saya, adek kelas saya dulu. Namanya Jani. saya kenal kok sama dia. Sumpah, Pak. Saya nggak mau nyulik dia.”

“Loh, dimana cewek tadi?”

HAHAHAHAHAHA. Astaga! Seru banget tadi! Lihat tuh. Aku udah berubah. Dulu aku memang penakut. Tapi melihat raut wajah Kak Bima yang sangat-sangat terkejut mendengar aku minta tolong, aku jadi pengen melakukan hal itu lagi.

Stop! Deg. Deg. Deg. Astaga, Jani! kamu gak boleh senang hanya karena masalah tadi. Kamu harus bisa lupain Kak Bima. Ingat kan bagaimana kamu menderita amnesia? Dan hal yang pertama kali kamu lihat sebelum kecelakaan adalah dirinya sedang memeluk wanita lain di bandara. Busuk! Cowok busuk! Sudahlah, Jani. Cowok seperti dirinya tuh banyak. Jangan mengharapkannya lagi.

Ting nong.

Ting nong.

Ting nong, ting nong, ting nong.

Berisik! Nggak ada orang lain apa di kos-kosan ini?! Ah. Benar. Aku lupa, mereka semua pergi mealnjutkan aktifitas masing-masing.

Ting nong, ting nong, ting nong.

“Bentaaaaarr!!!”

Jeglek.

“JANI!!!!”

Astaga. Tidaaaakk!

Aku langsung membanting pintu dan segera menguncinya.

“Jani! Heh! Kamu udah bikin kakak malu, Jani! Pintar ya kamu, kabur tadi! Untung aja kakak berhasil ngejar kamu. Jani! Buka pintunya!”

“Aku nggak kenal kamuuu! Kamu bikin aku takut! Pergi!”

“Astaga, Jani! Ini kakak, kakakmu Bima. Kakak yang sayang banget sama kamu dulu, dan sampai sekarang. Jani, please, buka pintunya. Kakak janji nggak bakal pegang kamu, nggak bakal apa-apain kamu. Pleaseeeee…..”

Aku diam. Mendengar kata-katanya yang membawaku sampai ke awan, rasanya pengen sekali aku menangis dan menjerit sekuat-kuatnya. Tapi aku berusaha kuat.

“Jani! Kamu masih disitu kan?”

Tak terasa air mataku perlahan keluar. Semua kenangan SMA-ku melesat di pikiranku. Kenangan tentangnya, kenangan bagaimana ia bisa membuatku tertawa, bagaimana ia rajin mengantarkanku ke tempat les, dan hal-hal lainnya.

Dua tahun. Dua tahun tanpa dirinya di kota yang menyesakkan. Dan parahnya, setelah Kak Bima lulus, dia tak memberitahuku kemana ia pergi. Dia hilang. Entah pergi kemana. Mungkin hidup berdua selamanya dengan wanita yang ku lihat di bandara waktu itu.

“Jani? kakak yakin kamu masih di situ. Jani, kakak masih sayang sama kamu. Dua tahun kakak tinggal di Bandung, menanti kamu hingga kamu lulus SMA dan kuliah disini. Kakak masih ingat, bagaimana antusiasnya kamu saat kamu bercerita kalau kamu pengen banget kuliah di ITB. Dan, kamu berhasil.”

“Saat itu, kakak bingung, kakak mesti kuliah dimana. Tapi mengingat kamu ingin banget pergi ke Bandung, kakak jadi antusias kuliah disini. Bandung. Ya, ternyata tempatnya gak jelek-jelek amat.”

Aku masih bimbang. Antara ingin mendengarnya terus bercerita atau berlari masuk ke kamar, mendengar lagu dan berpura-pura tidak ada Kak Bima di luar sana.

Tapi kakiku tak mau bergerak. Mendengarnya terus bercerita, membuatku tenang. Aku kembali ke masa lalu.

“Jani?”

Ku hapus air mataku ketika Kak Rima berhasil membuka pintu.

“Udah pulang Kak?”tanyaku basa basi.

“Belum. Ada barang yang ketinggalan. Nggak baik loh biarin tamu ngomong sendiri di luar.”

Ku lirik Kak Bima yang sepertinya salah tingkah. “Dia bukan tamuku. Aku nggak kenal dia.”

Kak Rima menggeleng-geleng kepala. Ia mengambil kantong hitam yang tersembunyi di balik pintu lalu pergi lagi.

“Masuk aja mas. Janinya udah jinak kok.”

“Makasih.”lanjut Kak Bima sambil tersenyum malu.

Dan kini, aku terkepung di ruang tamu bersama Kak Bima. Sepi. Sunyi. Aku diam. Menunggu ia berbicara.

“Kamu nangis?”

Aku masih diam. Demi apa rasanya air mataku ingin keluar lagi. Tapi aku langsung berpaling dan menunduk.

“Jani, kamu pura-pura lupa ya sama kakak? Astaga. Jadi kamu masih ingat kakak?”

Mau tidak mau aku mengaku juga. Ku anggukkan kepalaku tiga kali.

Kurasakan sofa yang bergoyang. Kak Bima mendekat. Ia mencoba merangkulku. Tapi aku menolak.

“Jani…”

“Kakak pergi tanpa pamit. Kakak nggak bilang kakak mau kemana. Bahkan sampai adik ngejar kakak ke bandara. Adik kira, cewek itu pacar kakak. Ya sudah, mungkin kakak bahagia dengan cewek lain. Lagi pula, siapa sih adik? Kita kenal juga hanya sebatas kakak dan adik.”

Dia tertegun. Seakan shock, dia diam. Tak berkata apa-apa.

“Sepulang itu, adik nangis. Dan kecelakaan. Sejak itulah adik menderita amnesia. Awalnya, adik juga nggak ingat kakak. Dan itu merupakan anugerah tersendiri buat adik. Melupakan kakak. Tapi, seiring berjalannya waktu. Masa lalu bersama kakak terus mengejar memori adik. Lambat laun, adik jadi teringat kakak. “

“Maaf.”katanya.

Aku menoleh. “Kata kakak, kakak sayang sama adik. Terus, kenapa kakak nggak pernah bilang waktu kita masih tinggal di kota yang sama? Kenapa kakak nggak pernah bilang?”

“Kakak…”

“Adik nggak mau ingat-ingat kakak lagi. Dan selama dua tahun tanpa kakak, adik berhasil. Tapi sekarang? Kakak ngejar adik lagi. Kakak ngaku kakak sayang sama adik. Maksud kakak apa?”

“Dengar Jani. Dengar dulu penjelasan kakak. Jani, kakak nggak punya waktu banyak. Kakak sayang sama Jani. Dari awal kita ketemu, hingga sekarang. Dan bodohnya kakak, kakak nggak pernah bilang itu ke Jani. Tapi menjadi seorang kakak, dan punya adik seperti Jani, kakak lebih merasa tenang. Kakak bisa lebih menjaga Jani. Kakak merasa kita tuh beneran kakak dan adik kandung.”

Ia menarik nafas sejenak, lalu bercerita lagi.

“Wanita itu, iya. Kakak nggak pernah bilang ke Jani waktu itu kakak punya pacar. Namanya Regina. Tapi Regina nggak bisa menggantikan posisi adik di hati kakak. Adik nomor satu. Itu yang penting sekarang.”

“Penting? Sekarang?”tanyaku.

“Dengar Jani. Kakak cuma di kasih kesempatan untuk menjelaskan semuanya sampai disini. Kakak sayang Jani. Sekarang dan selamanya. Dan sayangnya, kita nggak mungkin bersama.”

Tiba-tiba saja hujan lebat datang. Petir dan angin kuat serasa beradu. Gelap. Dingin. Apa yang terjadi?

Hangat. Ya. Hangat ketika Kak Bima sekarang memelukku. Pelukannya kuat, seakan ia tak mau melepaskanku.

“Maaf Jani, maaf atas segalanya. Maaf karena masa lalu kita. Maaf karena kakak udah bikin kamu amnesia. Maaf karena dulu kakak ninggalin kamu tanpa alasan. Kakak sayang Jani. Selamanya.”

Tatapannya itu. Tatapan yang sungguh aku inginkan. Dia tersenyum puas. Gelap, semakin gelap. Kini dingin. Dingin sekali. Dan dia menghilang. Lenyap.

Aku membuka mata. Terbangun dari mimpi yang entah kenapa aku bisa memimpikannya lagi. Aku meringkuk di atas tempat tidurku. Ternyata, aku masih disini. Aku masih SMA. Aku masih di Tanjungpinang.

Mimpi itu seakan nyata. Nyata sekali. Bahkan sekarangpun, aku masih merasakan hangatnya pelukan Kak Bima.

Aku beranjak ke luar jendela. Ternyata memang sedang hujan. Aku termenung. Perlahan air mataku keluar.

Kak Bima. Baru kudengar kabarnya kemarin bahwa ia telah tiada. Meninggal karena kecelakaan di Bandung. Kabarnya, ia tewas di tempat. Aku juga masih ingat bagaimana histerisnya aku ketika kehilangan kakak yang paling aku sayang di dunia ini. Dan mimpi tadi, menjelaskan semuanya. Kakak yang bodoh.

Aku tersenyum. Bisa-bisanya ia datang ke mimpiku dan menjelaskan semuanya. Padahal, aku sudah berusaha tidak peduli. Tapi, dia kakakku. Dia sayang aku.

“Aku juga sayang kakak. Sekarang dan selamanya.”

Post a Comment