Sunday, 31 October 2010

Cinta Biru


             Sedetik waktu yang ia miliki, kini tak pernah kusentuh. Walau semua apa yang ia punya menjadi milikku. Aku dan Biru. Dua remaja yang tak mungkin bersatu.
            Aku menyukainya sejak dulu. Sejak kami pertama berkenalan melalui Gina, sahabat kakakku. Saat itu sedang diadakan lomba basket di gedung olahraga Gerari. Ia saat itu memandangiku dalam waktu yang lama.
            “Kenapa?”tanyaku heran.
            Ia tersenyum dan menghampiriku. Badannya yang tinggi dan senyum menawannya ia berikan tepat kepadaku. Aku sedikit gugup saat ia mengulurkan tangannya. “Aku Biru.”katanya.
            Kujabat tangan besarnya itu. “Aku Melati.”jawabku.
            Sejak perkenalan itu kami menjadi sangat dekat. Semua curahan hatinya ia berikan padaku. Ia satu-satunya lelaki yang membuatku jatuh cinta saat pandangan pertama. Dan kami adalah pasangan yang paling serasi dimata teman-temanku.
            “Kalian itu klop banget! Kemana-mana berdua, tiap ada waktu luang pasti teleponan, ya ampuunn. Mau dong seperti kalian…”begitu ungkapan Citra, sahabatku saat kami jalan bertiga.
            “Ga ah. Kamu juga pasti bisa seperti kami kok nanti.”lanjut Biru.
            Citra hanya merengut. “Iya, aku harap juga begitu.”
            Aku, Biru, dan Citra adalah tiga insan yang sangat dekat satu sama lain. Aku juga kadang merasa iba jika melihat mata Citra yang menyimpan sebuah mimpi untuk menjadi seperti aku dan Biru. Tapi, Citra selalu mengeluh. Ia berkata bahwa tidak ada lelaki yang mau dekat dengannya.
            Ada kok Citra, percaya saja. Aku juga dulu begitu dengan Melati. Aku putus asa. Sangat-sangat putus asa karena saat itu aku baru saja diputusin oleh mantanku karena ia selingkuh. Dan aku berpikir bahwa mungkin inilah hidup. Ada saatnya kita terhempas dan ada saatnya kita mencium wanginya bunga lily. Ya kan sayang?”
            Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Lagi-lagi aku melihat kesedihan dimata Citra. Walau ia berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya dengan senyuman terikhlasnya.
            Namun sekarang, musnah semua. Bisa kau tebak apa yang sedang kulakukan sekarang? Aku sedang duduk dipinggir jendela kamarku, merasakan dinginnya angin dan menikmati hawa hujan. Aku jadi teringat masa itu.
            Saat itu tengah malam dan terjadi hujan yang sangat lebat. Aku dan Biru sedang berbicara melalui telepon. Menunggu hari esok, hari jadian kami untuk yang ke satu bulan.
            “Hmm, Mel…”katanya.
            “Iya?”
            “Beberapa detik lagi pukul 00.01. Dan saat itulah menit pertama untuk tanggal 26 Februari. Dan sekarang kita sedang berbincang sambil menunggu menit itu tiba ditemani dengan deraian hujan dan dinginnya angin. Indah bukan? Maksudku, jangan melihat kepada hujan yang Tuhan turunkan. Tapi melihat keajaiban yang Tuhan berikan kepada aku dan kamu, sang pujaan hatiku, karena hingga menit ini kita masih bisa berbincang dan masih bisa saling mencintai…”
            Aku hanya diam. Menelan semua kata-kata indahnya. Dan kali ini aku tidak melihat kesedihan dimata Citra karena aku dan Biru sedang berbicara dengan romantisnya ditengah malam jauh dari tatapan matanya.
            “Opps. Sepuluh detik menuju esok.”kataku.
            Kudengar hembusan nafasnya. Dan perlahan dengan lembut ia berkata, “Melati, aku sungguh sungguh mencintaimu dan aku tidak akan pernah melepasmu. Jangan pernah lupakan aku jika nanti Tuhan berkehendak lain ya sayang…. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku, semua yang aku punya termasuk jiwa dan raga kuberikan seutuhnya hanya untukmu.”
            Aku tersenyum lega. Menit pertama tanggal 26 Februari itu juga, kuyakinkan diriku bahwa Biru adalah lelaki yang tepat untuk kuposisikan di nadi dan detak jantungku.

            Ya. Kami memang saling mencintai. Saling menyayangi, dan saling mengerti. Genggaman tangannya, semua kata-kata indahnya, tatapan matanya menghipnotisku untuk tidak berada jauh darinya sedetikpun. Namun sekarang? Harus kutepis mentah mentah kenyataan yang terjadi dulu kala itu.
            Aku masih duduk diam. Menghirup semua hembusan angin dan menangkap apa yang hujan ingin katakan padaku.
            Pikiranku kacau. Aku menerawang kemana-mana. Kucoba untuk melupakan Biru semampuku. Semampuku. Semua janji manisnya, semua yang ia katakan, semua yang ia berikan, ku kembalikan. Karena ia bukan milikku sekarang.
            Otakku memaksaku untuk melihat kejadian kemarin. Disaat aku berjalan sendiri menuju taman kota. Bisa kau tebak apa yang kulihat? Ya. Kulihat Biru berjalan berdampingan dengan seseorang yang kukenal cukup lama.
            Biru menatapku saat itu. Aku berhenti berjalan. Birupun begitu. Namun berbeda dengan wanita yang berada disampingnya. Kulihat wanita itu menggenggam tangan Biru dengan kuat. Entah mengapa tapi kurasa ia dengan sengaja melakukan hal itu. Wanita itu melambai kearahku. Dan tersenyum puas. “Hai Mel…”katanya.
            Kutatap mata Biru dengan tajam. Ia menunduk. Mungkin merasa bersalah. Tapi aku bisa apa? Berteriak bahwa sebenarnya aku benci melihat mereka bersama? Mungkin seharusnya itu yang kulakukan. Tapi tidak. Aku kembali berjalan. Berjalan menuju mereka dan melambai juga. “Hai Citra…”kataku.
            Biru terlihat kaget melihat tingkahku yang tidak bisa ditebaknya. Aku berusaha mungkin berakting bahwa aku senang melihat mereka berdua. Dalam hati aku berteriak menahan sakit.
            “Sedang apa dirimu di taman?”Tanya Citra.
            “Aku? Aku hanya….”kulirik Biru. Ia masih merunduk. Aku juga tak kuat melihat matanya yang diam-diam menatapku dari bawah sana. “Aku baru saja ingin pulang. Tadi aku menemani kakakku yang sedang memotret disekitar sini.”jawabku. Kenyataannya bukan itu. Aku ke taman, menunggu kedatangan Biru hari itu. Hari dimana kami tepat delapan bulan bersama. Maaf, mungkin harus kuulangi. Hari dimana SEHARUSNYA kami delapan bulan bersama.
            Citra hanya mengangguk. “Ohh, begitu.”katanya.
            Biru masih diam tak berkutik. Aku menahan amarah. Sabar.
            “Aku harus pulang. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”kataku sambil tersenyum lepas.
            “Hati hati ya Mel…”
            Aku mengangguk dan melangkah pergi tanpa melihat kebelakang. Tak kusadari air mataku jatuh dengan derasnya. Akupun berlari kencang hingga tak kulihat mobil berjalan kearahku. “AAAAAA!!!!”
            Sayangnya aku selamat. Yang kudapat hanya tulang yang retak dan memori akan Biru dan Citra yang masih menempel diotakku. Sejujurnya aku ingin mati saat itu juga. Aku berharap tidak akan melihat mereka bersama lagi.
            Kudengar ketokan pintu kamarku. “Mel…”
            Tak kuhirau panggilan Kak Fani saat itu. Kakak yang menjagaku sejak ayah dan ibuku wafat hingga sekarang. Kakak yang menjadi malaikatku. Ia memasuki pintu kamarku.
            “Kamu seharusnya istirahat Mel, kamu masih sakit.”
            Aku hanya diam mengangguk dan tetap menatap hujan yang belum berhenti. Kurasakan sentuhan Kak Fani. “Ada seseorang yang ingin menemuimu…”
            “Jangan katakan bahwa orang itu adalah dirinya.”kataku.
            Kak Fani tersenyum.”Sayangnya kau benar.”
            Aku melotot. Kulihat Biru berdiri dipinggir pintu. Semua pakaiannya basah. Ia memandangiku serius. Namun kutepis pandangannya itu.”Aku tak mau diganggu.”kataku.
            Namun Kak Fani sepertinya berpura-pura tidak mendengar perkataanku. Ia hanya melenggang pergi dan tersenyum lagi. Aku kembali menatap hujan yang masih ditemani dengan sang petir dan kilat.
            “Sungguh tak pantas aku berada disini…”
            Kau pasti tahu suara itu berasal darimana. Aku hanya diam. Menahan tangis. Sungguh, aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku masih hening.
            Ia melangkah maju. Berdiri didepanku. “Lihat aku.”katanya.
            Aku masih diam. Diam seribu bahasa. Hujan masih menemaniku.
            “LIHAT AKU!!!!”teriaknya.
            Aku tersentak kaget. Dalam hati berdoa kepada hujan, agar ia memberikan kekuatan kepadaku agar aku bisa melihat wajahnya.
            Kulihat dirinya. Kutatap mata indahnya. Ia menggeram. Seperti marah namun dicampur dengan kebingungan dan kehampaan. Aku bisa melihat itu semua dari matanya.
            “Kau tahu benar semua yang kulakukan adalah demi dirimu dan persahabatanmu dengan Citra. Aku, semampuku menahan amarah yang terpendam sejak pertengkaran kita. Aku berusaha mencintai dirinya, KARENA KAU !!!”
            Tak sadar aku berpaling dari matanya. Kembali kepada hujan. Aku masih bisa menahan tangis. Namun aku kalah dari perkataannya. Aku tak bisa malawan.
            “Kau menyakitiku. Kau memaksaku agar kita berpisah dan aku harus bisa mencintai sahabatmu. Kau memaksaku agar aku bisa melupakanmu. Kau tak tahu ? KAU MENUSUK TUBUHKU!!!!”
            “Kau tahu mengapa aku berbuat begitu.”kataku.
            “Karena penyakitnya Citra?? Karena kanker yang ia derita?? Sesakit apapun dia, kau tak bisa bayangkan lebih sakit diriku atau dirinya.”
            Aku menyerah. Air mataku keluar.
            “LIHAT AKUU !!!!”
            Aku menolak. Aku mungkin bisa tak sadarkan diri jika melihat matanya. Namun ia memaksa. Ia naik ketempat tidurku, memegang pundakku dan aku tahu, ia menatapku dengan geramnya.
            “LIHAT AKUU !!!!”
            Aku menoleh, tapi tak kulihat matanya. Suaranya serak. Biru menangis.
            “Aku mencintaimu Melati !!! Kau tahu itu !!! kenapa Mel… kenapa ??? KENAPA !”
            “Karena Citra sahabatku dan aku mencintaimu. Aku mempercayaimu sebagai orang yang bisa menjaganya.”jawabku dengan suara terisak tangis. Aku masih menunduk.
Biru melepaskan genggamannya. Ia duduk disampingku.
            “Aku, orang terbodoh yang melakukan apa yang orang kusayangi perintahkan. Aku orang terbodoh didunia karena aku mau menyayangi sahabat orang yang kucinta.”
Ia menangis lagi. Aku masih menunduk.
            “Aku tak kuat Mel… Kau harus berada diposisiku jika ingin mengerti aku. Aku sakit Mel…Aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku mengatakan bahwa aku mau menemani Citra untuk tiga bulan kedepan demi kehidupan terakhirnya. Kusayangi ia Mel, namun tak bisa kupungkiri bahwa cintaku hanya satu. Diriku hanya milik dirimu, bukan miliknya…”
            Aku menangis. Kali ini lebih kuat. Saat itu baru kusadari bahwa aku orang terjahat didunia. Aku orang yang paling kejam melebihi penjaga pintu neraka. Aku menyakiti Biru, orang yang kusayang. Tapi aku tak sanggup menyakiti Citra. Citra juga mencintai Biru. Demi dia aku rela meninggalkan Biru. Tapi sejujurnya aku tak mampu…
            “Aku mencintai kau dan Citra…”kataku.
            Ia diam menatapku. Dan saat itu kuberanikan diri untuk menatapnya.
            “Untuk kehidupan terakhirnya, tolong kau jaga dia sayang…”
            Ia melotot. Aku menarik nafas. Iya Biru. Kata-katamu tak bisa membuat hatiku luluh. Aku harus bisa membiarkanmu bersama Citra…
            Ia tiba-tiba memelukku sambil menangis. “Jangan dilepas. Beri aku waktu agar aku bisa menerima kenyataan bahwa kau orang yang kusayang.”katanya.
            Kami berdua sama-sama menangis ditengah hujan. Aku mencintai Biru lebih dari apapun. Walau aku tak bisa melepasnya pergi, aku harus bisa membiarkannya bersama Citra. Karena seumur hidupku, aku belum bisa memberikan kebahagiaan terakhir buat orang yang kusayang termasuk orangtuaku.
            “Aku hanya ingin memberikan yang terbaik buat Citra. Dan kupercaya, yang terbaik buatnya adalah dirimu, sayang…”.
            Ia masih memelukku. Sambil mengelus rambutku ia berkata, “Demi dirimu. Aku coba untuk mencintainya.”
           
           
Post a Comment