Saturday, 23 October 2010

Because it just an Unappreciated thing…

Because it just an Unappreciated thing…
Tidak tahu mesti mulai darimana. Ini hanya sebuah artikel tentang kenyataan di sekolah. Kenyataan tentang hubungan antara si pendidik dengan yang dididik.
Pernahkah terlintas olehmu suatu perasaan bagaimana indahnya menjadi seorang guru? Guru. Yang dikatakan sebagai pahlawan dibidang pendidikan tentunya, kini hanya sebatas debu yang kecil di jutaan hati para muridnya.
Pernahkah terlintas olehmu suatu bayangan tentang bagaimana menjadi seorang guru? Andaikan saja anda adalah seorang guru. Tapi, sebaiknya kita mulai dari hal yang paling awal. Sebelum menjadi seorang guru, tentunya anda harus menjadi seorang murid. Dan marilah berandai bahwa anda adalah murid itu. Sejak kecil, sejak anda duduk di bangku sekolah dasar, anda melihat seorang bapak/ibu yang selalu bercerita, menjelaskan, dan memberikan sesuatu yang akan sangat berkenang dan akan sangat bermanfaat hingga sekarang ini. Anda sangat mengagumi bapak/ibu tersebut. Hingga suatu pendapat muncul dibenak anda. “Sungguh indah menjadi seorang guru.”
Sejak pemikiran tersebut, anda yang berdiri di posisi murid tersebut bercita-cita menjadi pahlawan sekolah. Sejak SD, SMP, SMA dan bangku kuliah anda menjunjung tinggi citra guru dan menghargainya seperti ibu/bapak anda sendiri. Anda berusaha keras untuk menggapai cita-cita anda tersebut.
Lalu, tibalah saat dimana anda mencapai sarjana dan mendapat gelar yang anda inginkan. Anda tidak memperdulikan betapa jungkir baliknya pengorbanan anda hanya untuk menjadi seorang guru. Merantau kesana kemari, mengemis disana-sini, berpisah dengan orang tua, berpisah dengan kekasih anda, hanya untuk mencari jalan kemana anda seharusnya pergi untuk menemukan tempat yang tepat untuk anda menjadi seorang guru.
Awalnya, anda menangis. Karena anda tidak menemukan jalan tersebut. Lalu anda memohon kepada Tuhan, agar menunjukkan jalannya. Agar anda bisa memenuhi janji anda kepada orang tua anda. Agar anda bisa membahagiakan kekasih anda. Agar pengorbanan yang anda lakukan tidak sia-sia.
Untuk berminggu-minggu, setelah anda memohon hal tersebut kepada Yang Maha Kuasa, anda menyerah. Anda tetap tidak menemukan jalannya. Anda berusaha melamar dibeberapa sekolah dengan bekal S2 yang anda miliki. Tapi tetap, tidak ada yang bisa anda lakukan.
Anda menangis lagi. Anda merasa dipermainkan oleh Tuhan. Anda merasa semua yang anda lakukan adalah sia-sia. Anda menangisi akan jarak yang anda tempuh untuk datang ke tempat anda berada sekarang. Anda menangis karena janji anda kepada orangtua anda tidak terpenuhi. Anda menangis karena anda telah mengecewakan kekasih anda.
Saat anda memberitahu orang-orang yang anda sayangi bahwa anda telah gagal untuk waktu selama hampir 3 bulan, anda memutuskan untuk bekerja bukan sebagai guru. Anda berusaha mencukupi kebutuhan anda dengan menjadi tukang parkir, sales, penjual tiket kereta, bahkan menjadi penjual koran ditepi jalan. Anda meratapi nasib anda sendiri. Tapi anda bersyukur, karena anda masih kuat meratapi kenyataan anda menjadi orang yang putus asa dan orang yang miskin.
Anda tidak tahu mau dibawa kemana S2 anda itu. Anda tetap menjalani kehidupan anda dan pasrah. Namun, dikejauhan orangtua anda berdoa setiap malam kepada Tuhan agar anda berhasil. Agar anda bisa membanggakan mereka.
Untuk setiap malam, orangtua anda berdoa kepada Tuhan. Agar anak mereka, yaitu anda bisa hidup bahagia. Bisa berdiri sendiri dan tidak ditertawakan orang karena anda telah kalah dari permainan yang diberikan oleh-Nya.
Lalu, Tuhan dengan kasihnya membalas doa orangtua anda. Anda diterima menjadi guru disebuah SMA di kota yang anda tempati sekarang. Beribu-ribu terimakasih anda berikan kepada orangtua anda. Karena dengan doa mereka, anda berhasil mencapai cita-cita anda sebagai guru.
Itu adalah satu dari miliyaran cerita tentang pengalaman seseorang untuk menjadi seorang guru. Bayangkan jika anda adalah guru tersebut. Apa yang anda rasakan? Bangga. Puas. Dan bersyukur.
Dan sekarang, mari berandai anda adalah seorang murid. Murid yang dididik oleh seseorang yang telah diceritakan diatas. Namun anda, sebagai murid, tidak tahu menahu bagaimana perjuangan guru baru anda. Anda hanya menatap guru anda, anda berkata “ohh, guru baru.”
Tibalah disaat anda untuk pertama kalinya diajar oleh guru tersebut. Yang anda rasakan adalah kebosanan, rasa ngantuk dan ingin tidur. Pelajaran yang disampaikan oleh guru baru anda sangat-sangat membosankan. Dan anda membandingkan guru tersebut dengan guru yang lain. Anda berkata dalam hati anda, “apa sih yang diajarkan oleh bapak ini?”
Anda sangat menyepelekan pelajaran yang diajar oleh guru tersebut. Anda tidak pernah mengerjakan latihan atau mencatat apa yang disampaikan oleh guru tersebut. Setiap hari anda mengacuhkan guru anda. Berpura menghormati tapi dalam hati tertawa.
Lalu, saat waktu ulangan tiba, anda menyontek. Menyontek teman sebangku anda dan sesekali membuka buku cetak. Dan ketika anda mendapat nilai yang anda inginkan, hati anda belum juga tergerak untuk memahami apa yang anda dapatkan dari guru itu.

Apakah anda tahu? Iya. Anda tahu bagaimana perjuangan seorang guru untuk menjadi dirinya yang sekrang ini. Duri-duri tajam telah dilewati seorang guru. Namun, guru tersebut masih belum sadar bahwa perjuangannya belum usai. Perjuangannya masih panjang. Cita-citanya yang sebenarnya belum terwujud. Cita-cita untuk membuat pintar anak-anak didiknya dan membuat anak didiknya berhasil dalam menggapai cita-cita. Karena ia tahu, bagaimana payahnya ia dulu sebelum ia berhasil seperti sekarang.
Anda telah memposisikan diri anda menjadi seorang guru. Memposisikan diri anda dari seorang anak kecil hingga orang dewasa yang berhasil membanggakan orang tua. Tidak terlintas dipikiran anda bahwa ada satu orang murid yang mengacuhkan anda sebagai gurunya.
Mari kembali berandai bahwa anda adalah guru yang sedang mengoreksi ulangan murid-murid anda. Termasuk, murid yang tadi kita bicarakan. Saat anda melihat nama murid anda yang sebenarnya sangat tidak menghargai anda, anda sebagai guru baru yang polos dan belum mengenal murid tersebut, berpikir positif “sungguh rajin belajar anak ini…”
Jika anda, sebagai guru mengetahui apa yang ada didalam benak murid anda yang “kurang hajar” tersebut, apa yang anda lakukan? Jika anda sebagai murid yang “kurang hajar” tersebut, apa yang anda lakukan ketika anda tahu bagaimana jerih payahnya guru yang anda tidak sukai itu?
Murid tersebut tidak akan membayangkan hal tersebut. Ia hanya menyepelekan, mengasihi, dan berpura menghormati.
Ini hanya sebuah artikel tentang guru dan murid. Guru, yang seharusnya kita junjung tinggi keberadaanya, kini hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Guru yang kelak membuat kita berhasil menggapai keinginan kita, kini dipandang kecil oleh anak muridnya.
Kembali lagi ke murid. Apa yang anda lakukan jika anda mengetahui bagiamana kerasnya jalan yang harus ditempuh guru anda dahulu? Anda harus berpikir lebih jauh sebelum menyepelekan orang yang selama ini berdiri didepan dan memberikan hal yang paling berharga. Yaitu ilmu.
Post a Comment