Friday, 8 April 2011

Hari Jingga

Habis, sesak, tamat, menang. Tak goyah kau tumbangkan beribu tiang kokoh dalam batinku. Kau memelas sedih, memohon dan hampir bersujud untuk memintaku kembali ke sisinya. Peduli apa dia denganku? Lirik saja sedikit aku, dia langsung berpaling. Aku ini apa? Terbuang, tak guna, tak punya daya. Lalu sekarang kau kembali. Berkata kau akan meringankan semuanya.

“Aku janji. Asal kau mau bersamanya lagi. Aku janji, setelah kau tiada, aku akan meluruskan semuanya.”

Cih. Mengharap sekali kau?pikirku.

“Aku yang seharusnya meminta sesuatu sebelum aku pergi. Bukan kau.”kataku.

Dia mengambil nafas panjang. Memandangku lekat-lekat. Menggenggam telapak tangan kananku yang basah. Sekali lagi ia bernafas. “Kau, memang keras kepala.”

“Aku sudah tak tahan. Dia selalu memandangku kecil. Aku hanya tak ingin, berbagi semua yang aku panggil kenangan dengannya. Dia bukan siapa-siapa. Sayangnya, ia punya status sedarah denganku.”

Dia menunduk. Lemas, tak berkutik. Entah kata apa yang terlintasnya selain keras kepala. Ya, aku memang begini. Lalu kau mau apa?

“Permintaanku tak besar kan?”tanyanya lagi.

Aku mengangguk. “Bagaimana dengan permintaanku?”bantahku.

“Permintaanmu tak besar. Hanya berat. Bagiku, baginya. Apa kau yakin, kau tak akan menyesal ketika kau disana? Aku hanya ingin kau tenang.”

Kulepaskan genggamannya. Ku jauh. Aku mulai memandang lautan dengan burung-burung kecil, biru muda, dan awan putih di depanku. “Aku memang takut.”gusarku.

“Lalu, penuhi permintaanku.”katanya sambil ikut memandang bulatan besar bercahaya jingga.

“Aku ingin bahagia. Tapi bukan dengannya. Bukan dengan semua tindakannya. Bukan dengan semua kenangan kasar dan berduri.”kataku.

Dia tertunduk lagi. Aku tahu, diam-diam dia melirikku. “Seakan kau egois. Tapi kau tidak begitu.”katanya lagi.

“Bagaimana kau tahu? Bahkan aku sadar aku sekarang jadi iblis.”

Aku memandang bola mata hitam pekat dengan sentuhan rambut lurusnya yang agak panjang. Garis bibirnya melengkung. “Kau mencintaiku.”katanya.

Wajahku tetap datar. Nafasku tak terasa berat. Mulutku tetap rapat. Tapi jantungku menggebu. “Tidak.”jawabku.

“Bagaimana kau tahu?”tanyanya.

Sejujurnya aku tak punya jawaban. Aku tak tahu apa yang ia lihat dari korneaku. Tapi aku tak mencibir, bahkan tak berpaling. “Kau yang memaksaku agar aku menurutimu. Dan aku benci. Aku tak cinta kau lagi.”

“Kau tahu? Hidupmu sempurna, sayang.”dia tersenyum.

Aku diam. Merenung diantara sebuah demi sebuah angin yang berhembus dengan irama kendaraan yang mulai memenuhi jalan. Bising, gaduh, terlihat jenuh, dan terpaksa. Kotaku, malangku.

Aku kembali ke masanya. Masa dimana ia dengan mudahnya mengacungku. Seharusnya aku, aku yang dikasihani. Bukan dia. Bukan Romi. Tapi aku, Rima.

Terusikku oleh sorot matanya. Dia memelas lagi, dan aku benci. Jujur, aku tak mengerti. Kenapa harus ia? Kenapa bukan aku? Kenapa sayang dia? Kenapa tak sayang aku? Kenapa melihat ke dia? Kenapa tak ke aku?

“Rima…”lirihnya. “Sepertinya aku harus jadi kau.”katanya lagi.

Aku masih menunduk. Sesak ku datang lagi. Terasa sebuah denyut.

“Kenapa? Sakit?”tanyanya saat melihat aku meringis.

Aku menggeleng. “Kau mau bilang apa?”

Dia menenggok sirup manis dari botol. Tinggal sedikit lagi sebelum sirup tak tersisa. Baru aku sadar, ternyata sudah lama kami duduk di bangku ini. Matahari juga mulai sembunyi. Dan aku paling tidak suka saat-saat seperti ini. Mau gelap, dan sebentar lagi langit tak benyawa. Tak berwarna, tak biru.

“Aku sepertinya harus menjadi seorang kau.”

Lukaku berdenyut lagi. Sakit. Lumayan perih. “Memang kenapa?”tanyaku. Kali ini aku tak meringis.

Dia memandang lurus ke pinggir dimana air mulai surut. Lurus ke derai ombak yang mulai pelan. “Kau menderita.”katanya.

Iya, batinku. Tapi aku ingin terus begini. Ingin terus merasakan dan menikmati. Karena setelah ajalku, aku akan bahagia, disana. Bagaimanapun caranya, aku akan tetap hidup. Barlanjut disana. Dan disana, aku takkan sakit. Aku takkan perih.

Aku ingin terus begini. Disayangi, tanpa dikasihani. Karena itu adalah palsu dan buatan, jika Romi mengkasihani aku. Dan aku sebal, jika dia mulai seperti sosok begitu.

“Dia sama seperti kau. Bersakit-sakit dahulu, berenang-renang ketepian.”katanya.

“Tidak.”aku menggeleng lemah. “Dia sama sepertimu. Kuat, dan sangat kuat. Bukan aku.”bantahku.

Burung-burung mulai bersembunyi. Kembali ke rumahnya, dan tidur bersama anak-anaknya. Matahari mulai tenggelam, tak dapat di tolong. Sedih aku merasakannya. Hari berganti kelam.

“Maaf, sayang.”katanya.

Tak perlu. Sungguh, aku tak memerlukannya. Aku tak peduli. Aku hanya ingin bersendiri. Mungkin juga sendiri bersamamu. Tapi kau tak salah, kau tak dosa.

“Kau benar. Dia seharusnya mirip denganmu. Tapi ternyata, dia mendidikku untuk seperti dirinya. Tapi aku tidak kejam, tidak kasar, dan tidak suka bertentangan denganmu…”

Aku berusaha untuk tidak mendengar, atau berpura-pura mendengar alunan ombak yang memelan dan suara angin yang halus bagai melodi piano. Tapi tetap saja, aku terpacu untuk terus mendengar semua bisikannya. Bisikan tanpa irama tersayat atau terjepit. Datar, seakan dia tak sedang bercerita tentangku.

“Aku benar kan? Maksudku, aku tidak persis dengannya bukan? Harusnya kau yang sama sepertinya. Sosok yang kuat, teguh, pantang mundur. Mungkin aku yang salah karena telah membuatmu begitu tak percaya dengan apa yang ku sebut anugerah.”ceritanya lagi.

Anugerahku, adalah ajalku. Anugerahku, adalah pantaiku. Anugerahku, adalah kau. Untung kita tak sedarah. Bagaimana jadinya kalau kita seperti itu? Kau akan mirip dengannya, dan kita akan selalu perang. Tapi untung saja tak begitu.

“Jika kau jadi aku, kau tak akan sakit. Jika kau jadi aku, kau tak akan pedih. Jika…”

“Jika aku jadi kau, aku akan pergi. Jauh, melancong menuju bukit bunuh diri.”potongku cepat.

Romi menggeleng. “Jika kau jadi aku, kau tak akan melakukannya. Percayalah. Karena semua kasih sayangnya, hanya untukku. Bukan untukmu, sayang.”ia mencibir.

“Kau tahu itu. Lantas, kenapa kau masih mengatakannya? Aku memang tak ingin dikasihani. Tapi jagalah hatiku, untuk saat ini.”aku menunduk. Berharap bahwa dia benar-benar mengerti apa yang ku sebut saat ini.

Romi tersenyum sambil menghapus peluhnya. “Jangan salahkan aku. Kau yang ingin sakit, bukan aku. Jika aku menambah paku di dadamu, mungkin aku bisa sedikit membantumu, untuk bahagia. Sebelum kau pergi.”

Panas kupingku mendengarnya, tapi kucoba untuk mengubahnya jadi dingin. Dan berhasil. Aku meredam emosiku yang labil. Tapi dia tersenyum, itu yang buat aku tak tahan. Tapi dia benar, seratus persen benar.

“Dia membesarkanku penuh dengan kasih sayang, tawa, dan senyum. Ingatkah kau saat ia menggendongku dan ia meninggalkanmu menangis karena kau juga ingin seperti aku? Aku ingat. Dulu, waktu aku tak sengaja buat kau menangis karena aku dibela olehnya, aku mengurung diri dalam kamar dan menyalahkanku sendiri…”

Dia berhenti sejanak, tersenyum lagi melihat pipiku yang basah. “Apa sudah merasa lebih baik? Lebih sakit maksudku.”

Aku menghapus air mataku. “Kau begini untuk menghilangkan rasa sakitku. Membuatku untuk terus tertusuk paku oleh palumu, orang yang paling kusayang. Hingga aku berteriak, dan mengkoar kalau aku tak ingin seperti ini. Sakit begini. Iya kan?”

Dia menggeleng. “Bukan. Bukan itu. Kau tahu bagaimana rasanya sakit itu. Dan ini aku akan berbagi rasa sakitku juga. Aku tak tahan mengurungnya terus.”

Dia mengambil nafas panjang. Lalu lanjut berdongeng ria lagi. “Lalu saat masa SMA-ku tiba, aku bingung. Serasa buta karena aku tak mampu melihat cewek cantik dan menggoda. Tak ada gairah untuk bercinta. Sedikitpun tak ada. Kadang, aku merasa sedih juga, karena aku harus selalu menahan rasa cintaku padamu. Karena tekanan dirinya…”

Dia memandang ke arahku. “Dia bilang, jangan pernah ku kasihi kau. Kalau sampai begitu, dia takkan menganggapku ada.”

Benar kan? Dia benci aku. Aku mengangguk. Dadaku sesak lagi. Tapi kutahan. “Lanjutkan.”

Sekarang gelap. Benar-benar gelap. Hanya cahaya lampu pinggir jalan yang bersinar dan berakting seakan ia matahari. Orange, bukan jingga yang aku lihat. Menyinari malam pekat, gelap. Tanpa bintang, tanpa bulan. Tanpa awan, tanpa burung. Tapi ada angin. Walau melodi sudah berubah menjadi lebih dingin dan membeku. Seperti hatiku.

“Cintaku hanya untuk…”dia berhenti. Seperti sedang berpikir sesuatu, entah hal logika apa itu.

Lalu ia menatapku. Tapi aku mulai tak bisa melihatnya karena kelam mengancam mataku. Tapi aku bisa menatap senyuman itu. “Untuk seorang yang putus asa.”

Salah. Aku berjuang, selalu berjuang untuk terus merasa begini. Tenang, sendu, damai, dan senyum. Sakit, derita, dan pedih ku nikmati. Aku berjuang, sungguh.

“Walau kau tak ingin aku kasihi, dan dia juga tak ingin aku mengkasihimu, tapi dari hati yang paling dalam, aku selalu begitu. Tidakkah kau melihat tatapan iba dariku saat ia mengacuhkanmu? Benar. Aku selalu bersembunyi di balik pintu dan menangis. Kau tak pernah tahu itu.”

Aku mendongak ke langit. Benar-benar pekat, seperti hatiku. Ku cium aroma hujan akan datang. Aku merasakan sesuatu yang aneh akan terjadi, entah apa itu. Yang jelas aku takut.

“Aku terus mencintaimu. Setiap detik, denyut, dan kedipan mataku. Setiap hembusan nafas, tawa, tangis, gerakan jemari dan anggukan kepala. Tak peduli apa katanya. Aku terus dan terus tak pernah berhenti merasakannya. Kamu, engkau, anda, Rima.”

Kini tanganku digenggam lagi. Aku tak berani menoleh kearahnya. Aku takut air mataku mencuat keluar.

“Dan aku sudah mengatakannya, aku sudah menunjukkannya, aku sudah melakukan semuanya. Aku dulu berharap, kau berubah. Untukku, bukan untuk siapapun. Demiku, demi ibu. Aku ingin kau berubah. Diam, tersenyum, ceria, apapun itu. Tapi ternyata tidak. Kau sama sepertinya. Kau sama kuatnya, dan teguh bagai batu yang terus disambar ombak dan panasnya terik matahari. Kuat, tak goyah. Dan aku menyerah…”

“Dan kali ini, aku mohon. Bukan hanya kau yang akan pergi. Tapi dia juga. Setiap saat ia menyebut namamu, berharap kau disampingnya. Ia benar-benar menyesal, Rima. Sungguh, kali ini aku tak sedang berdusta.”

Ia menunduk. Aku tak tahu, tapi suaranya terdengar samar dan terisak. “Tolong, Rima. Walau dia lebih menyayangi aku daripada kau, tapi sesungguhnya dia tak begitu. Walau ia membenci kau karena ibu telah tiada, sungguh dia sebenarnya benci dengan dirinya sendiri. Setiap detik, dia selalu melihat ibu dimatamu. Melihat ibu di gerak-gerikmu. Dan dia melampiaskan semuanya kepadamu, tanpa sengaja, karena ia membenci dirinya sendiri…”

Kali ini kami berdua sama-sama menangis. Aku tak bisa berkata apa-apa. Kini aku kecut.

“Jantungnya mulai lemah, Rima. Tolong. Beri ia kesempatan untuk meminta maaf kepadamu. Dia ayah kandungmu, Rima. Apa kau tidak mau berada disampingnya saat-saat ia seperti ini? Sedangkan aku yang bukan anak kandungnya, bersimpuh di depanmu, memohon agar kau kembali ke pelukannya sekarang. Hanya untuk saat ini saja, Rima…”

Romi diam tak bergerak merasakan tubuhku yang mulai gemetar. Aku hilang kendali. Mataku buram, semuanya tak jelas. Tubuhku tiba-tiba saja melemah. Kurasakan tetesan darah keluar dari rongga hidungku.

“Rima! Tolong, Rima! Bertahan!”

Sesak, gemetar, berdebar. Ku lihat gelapnya malam berubah menjadi putih terang dan aku tak tahu aku dimana. Terang, terang sekali. Ia semakin dekat hingga semua kelam pudar. Tak ada suara penghuni jalanan, ombak, dan angin yang mengadu. Tak ada tatapan sayang dan kasih itu. Tak ada sosoknya lagi.

Tapi aku masih berdetak. Sekali lagi, mungkin ini saatnya. “Sampaikan salamku untuk ayah, Romi. Jaga ia baik-baik. Aku mencintaimu.”

Tak terdengar suara. Hening. Aku terus berjalan ke ruang penuh dengan cahaya putih nan indah itu. Sepi, tak ada orang. Sunyi, tak ada bunyi.

Hingga akhirnya ku melihat dua sosok orang yang ku kenal dari dulu. Kerut itu, senyum itu, dan kulit itu. Ibu dan ayah.

Aku benar, kini aku tak merasa sakit lagi. Hanya senyum bahagia dan pipi yang merona karena pelukan mereka berdua. Aku tak percaya. Seorang yang harusnya ku benci menggenggam erat tanganku penuh cinta. Menatapku penuh bangga.

Kini kutemukan anugerahku. Kini kutemukan sosok ayah yang benar-benar aku inginkan, yang benar-benar aku cintai. Yang belum pernah ku temui di dunia.

“Maafkan ayah. Ternyata tadi ayah sudah lebih dulu pergi ke sini. Ayah kira, ayah tidak bisa meminta maaf padamu. Tapi Tuhan mempertemukan kita disini. Bahagia lagi.”

Aku tersenyum lalu memeluk ayahku hangat. Bahagia sekali rasanya memafkan dan dimaafkan. Bahagia sekali rasanya dicintai oleh orangtuamu sendiri. Lalu pandanganku menerka-nerka apa yang terjadi pada Romi kini, kakak terbaikku.

Tapi pastinya ia sedang tersenyum. Mendongak ke langit dan melambaikan tangan ke arahku. Pasti akan kurindukan sosok pahlawanku itu. Kakak yang hampir berhasil memecahkan tembaga di relung hatiku. Kakak yang hampir berhasil membuatku hanyut dan melakukan keinginannya. Untuk berada di samping ayahku disaat hari-hari terakhirnya.

DiPemakaman.

Tepat diantara batu nisan Guntoro Datri dan Riana Datri, terbaring Rami Putri dengan tanah yang masih baru, sama dengan kuburan ayahnya. Tak Romi kira setelah Rami pergi dari pelukannya dan tak bernafas, papanya juga ikut naik keatas.

Guntoro Datri, adalah sosok laki-laki tua yang selalu tersenyum dan membahagiakan Romi sejak Romi diambil dari jalanan dan sampai sekarang. Romi selalu menjadi pusat perhatian dan pusat kebahagiaan Guntoro. Selain Romi, Guntoro sebenarnya mempunyai anak perempuan kandung, yang diberi nama Rami Putri. Sayangnya, tepat setelah kelahiran Rami, orang yang paling disayangi Guntoro, Riana Datri, pergi meninggalkannya karena dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sejak itu, Guntoro tidak pernah menerima Rami sebagai anak kandungnya. Ia malah menganggap Romi sebagai anak sedarah yang ia punya.

Tekanan batin yang dialami Rami sangat besar. Merasa tak adil, itulah yang dirasakannya. Diacuhkan dan tidak pernah dielu-elukan oleh ayahnya sendiri. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa ia akan pergi dari dunia ini karena penyakit kanker paru-parunya yang tak bisa diselamatkan lagi. Rami bahagia, karena ia pikir ia takkan merasa sakit karena perlakuan ayahnya lagi setelah ajal menjemputnya. Ayah yang tak pernah memperhatikan Rami walau Rami mengidap kanker. Tapi Rami tak pernah tahu, bahwa ayahnya juga sakit sepertinya. Jantung ayahnya melemah sejak sepuluh tahun yang lalu.

Kini Romi bersimpuh diantara kuburan ayah tirinya dan adik yang sangat dicintainya. Bukan menangis, Romi malah tersenyum tabah dan ikhlas.

“Bagaimana disana, Rami? Kau tidak sakit lagi kan? Aku juga senang mendengarnya. Ayah, apa sudah minta maaf kepada Rami? Kuharap begitu, Yah. Aku tahu sebenarnya ayah dari dulu ingin melakukannya.”

Romi tersenyum. Ia mendongak ke langit jingga bercampur biru teduh di atas. Tersenyum kepada adik dan ayahnya. Tersenyum bahagia sekali.

Post a Comment