Saturday, 26 March 2011

One Night Before Nime Sleeping

Nime tak menyangka siapa yang sedang berdiri di depan rumahnya sambil memegang setangkai bunga dan sebuah bungkusan cokelat M&M. Yang benar saja. Tapi Nime tak menunjukkan keterkejutannya itu. Ia hanya berdiri di depan pintu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memandangnya dengan tatapan sinis, dan berkata, “Ada perlu apa kemari?”

Lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih dengan kemeja putih dan celana kain hitam kebiruan itu tersenyum. “Meminta maaf.”katanya polos.

“Percuma. Aku sibuk, bisa kembali lain waktu?”tanya Nime sambil bersiap menutup pintu rumahnya. Tapi terhenti karena ditahan oleh Ken.

“Maaaaaf!”kata Ken panjang.

Nime berpura-pura tak peduli. “Aku s-i-b-u-k.”katanya sambil mengeja kata tersebut tanpa tersenyum sedikitpun.

Kali ini Ken benar-benar menyerah. “Setidaknya kau mau menerima apa yang sudah kubawa untukmu.”katanya sambil menyodorkan bunga dan cokelat M&M.

Nime melihat sejenak dengan tatapan tidak menginginkannya. “Terimakasih. Selamat malam.”katanya sambil menutup pintu.

Klik. Terkunci sudah pintu rumahnya. Tapi Nime tidak benar-benar meninggalkan pintu rumahnya. Ia mendengar Ken berteriak sesuatu. “Maaf kan aku mantan tersayang, Nime Teraya Asih!”

Nime tak peduli. Bahkan sampai saat mamanya bertanya siapa yang datang, Nime hanya mengangkat bahu. “Mungkin tukang sampah.”katanya sambil berlalu ke bilik kamarnya.

Dan di dalam kamarnya Nime masih bisa mendengar ucapan maaf dan beribu kali maaf dari Ken. Walaupun seulas senyum tersungging di bibirnya, Nime merasa hal itu pantas didapatkan untuk seseorang seperti Ken. Seseorang yang rela meninggalkannya berabad-abad tanpa pesan dan kesan bahwa ia akan meninggalkan Nime untuk waktu tiga bulan hanya untuk belajar (sungguh-sungguh belajar) dan bersiap-siap masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Belajar dan mengesampingkan perasaan Nime yang saat itu masih menjabat sebagai pacarnya (baca: PACAR). Sampai akhirnya Nime mengirimkan sebuah pesan bertuliskan ‘selamat tinggal dan terimakasih.’ pada Ken.

Dan sekarang lelaki itu datang dengan membawa bunga dan sebuah bungkusan M&M dan berharap Nime akan kembali padanya? Berharap bahwa Nime akan bersedia diacuhkan demi tumpukan buku-buku tebal dan deretan rumus-rumus logaritma, trigonometri, dan apalah itu? Berharap bahwa Nime akan bersedia memaafkannya karena tindakannya yang sangat-sangat tidak menghargai wanita itu?

Satu kata. Apa perlu Nime mengejakannya? Te-i-de-a-ka. TIDAK! Dengan caps lock, ditambah dengan tanda seru dibelakangnya. Apa belum cukup menggambarkan bahwa Nime memang sungguh-sungguh mengucapkannya? Khusus untuk Ken.

“Nime, temanmu yang satu itu benar-benar menggangguku!”kata Frans, adik Nime sambil menunjukkan buku cetak Geografi dihadapan Nime.

“Usir saja dia.”tukas Nime sambil melanjutkan membaca novelnya dengan headset ditelinganya.

“Sudah! Dan katanya ia akan pergi setelah kau menemuinya dan berkata ‘aku memaafkanmu’. Asal kau tahu, Ia tadi meneriakkan kalimat yang sangat membuat ibu tertawa terbahak-bahak.”

“Memang apa yang ia ucapkan?”Nime penasaran.

Frans berlutut dihadapan Nime sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. “Ibuuu, Nime tidak mau memaafkanku. Aku harus bagaimana ibuuu? Hiks. Sampaikan ucapan pertolonganku pada ibuku, Tuhan!”

Aku tertawa geli melihat ekspresi Frans yang terlalu berlebihan meniru gaya Ken. “Oke. Lanjutkan belajarmu. Aku akan keluar dan mengusirnya.”

Frans berdiri dan mengangkat bahu. “Well, sebenarnya dia tampan Nime. Hanya kau yang terlalu bodoh atau terlalu pintar untuk menyia-nyiakan cowok manja sepertinya? Ah. Dasar orang dewasa.”katanya sambil berlalu. Frans memang kadang-kadang begitu polos. Dan kadang-kadang juga terlalu pintar hingga kadang-kadang bisa membodoh-bodohi Nime dengan ilmu pengetahuannya yang konyol. Padahal Frans masih berada di level 4 di sekolah dasar.

Nime keluar, membuka kunci pintu dan menatap Ken dengan garang. Walau Ken membalas ekspresinya dengan senyuman sumrigah. “Baik. Aku tidak mau mengulanginya lagi. Kuharap kau pergi.”

Ken menggeleng cepat. “Tidak sampai kau mengatakan ‘aku mencintaimu, Ken’”kata ken sambil tersenyum.

“Mimpimu terlalu tinggi. Lebih baik kau pulang dan membuka bukumu.”

Ken mendesah. “Maaf, Nime. Aku tahu, aku memang tipe cowok yang tidak bisa menghargai wanita. Aku terlalu bersemangat belajar dan terlalu bodoh untuk melupakanmu. Apalagi setelah aku tidak berhasil masuk ke UNPAD.”kata Ken dengan wajahnya yang sangat mengundang simpati orang. “Tapi aku tidak benar-benar melupakanmu, sungguh.”

Really? Ken sudah menghabiskan waktu satu bulan untuk belajar dan melupakan Nimebahkan pergi jauh dari orang tuanya ke Bandung dan hasilnya zero? Mustahil. Nime kasihan juga dengannya. “Apa setelah aku menerima bunga itu dan cokelatmu kau akan pergi?”akhirnya Nime memutuskan.

Ken menatap Nime jahil. “Belum. Kau masih belum ikhlas memaafkanku.”kata Ken sambil meletakkan bunga dan cokelatnya di atas meja keci di teras Nime.

Nime menghembuskan nafas panjang. “Sudah kuduga.”

“Ayolah, Nime. Apa kau tidak lihat pakaianku malam ini? Bahkan aku menyewa mobil. Dan kau juga tidak bisa memaafkanku?”

“Apa kau tidak pernah memikirkan diposisiku, hah?!”kini Nime emosi.

“Tentu saja, Nime. Aku memikirkannya setiap malam disana. Tapi tahu kan, aku kesusahan disana. Bisa dibilang aku jadi miskin, sangat miskin hingga tidak bisa membeli pulsa dan menelponmu. Awalnya, kupikir kegagalan dalam masalah keuangan merupakan awal yang baik untuk masuk ke UNPAD. Tapi, aku gagal dalam tes itu. Dan aku tahu, hal yang paling bodoh di dunia ini adalah menyia-nyiakanmu. Mungkin aku kualat.”

Nime berpikir sejenak. Lalu dia tersadar akan sesuatu. Bodohnya aku, bisiknya dalam hati. “Kalau kau tidak gagal dalam tes itu, tentu kau tidak akan kemari kan? Meminta maaf padaku dengan bunga, cokelat, menyewa mobil dan setelan kemeja dan celana kain? Bodoh.” Nime berbalik badan hendak masuk ke dalam rumah. Tapi pergelangan tangannya tertahan dengan cengkraman tangan Ken.

Ken menatap Nime dengan tatapan lembut lalu menarik tubuh Nime ke pelukannya dan menyentuh bibir Nime dengan bibirnya selama empat detik sebelum Nime akhirnya sadar dan berteriak, “Apa yang kau lakukan?!”

Ken tersenyum. “Kau masih mencintaiku, Nime. Aku tahu.”

Nime melotot. Dan baru kali itu ia sadar, ia masih mencintai Ken, entah kenapa. Sampai akhirnya Ken menciumnya untuk kedua kali. Kali ini lebih lama. Dan dugaan Ken benar. Dengan ciuman itu Ken bisa merasakan bahwa Nime masih mencintainya.

Ken tersenyum setelah melepaskan bibirnya dari bibir Nime. Ia lalu memeluk Nime dengan hangat. Ia tidak tahu bahwa sepertinya, caranya dengan mencium Nime dan memeluknya adalah cara yang ampuh untuk meredam sifat dingin Nime padanya.

Nime merasakan bahunya ditepuk oleh seorang malaikat yang menyadarkannya. “Aku belum memaafkanmu.”kata Nime sambil melepaskan pelukan Ken.

Kali ini Ken kecewa lagi. Ken menatap Nime dengan dalam. “Satu malam untuk satu kesempatan untukku. Dan kau tidak harus memaafkanku. Aku hanya harus terus berusaha agar kau memaafkanku. Malam ini saja, aku mohon…”katanya sambil berlutut dihadapan Nime. “Aku mohon padamu, Nime.”

Nime tak tega juga. Lagi pula malam semakin dingin, dan ia tak ingin membeku sambil terus mendengarkan kata maaf dari mulut Ken. Lagipula, Nime masih memikirkan kata-kata adiknya. Kasihan juga jika waktu belajar Frans diganggu oleh cowok sialan ini. Lagipula, apa kata tetangga nanti? Nime melihat jam tangannya. Masih pukul 19.07. “Baiklah, Ken. Satu malam saja.”

Ken jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan cokelat dari hasil pertukaran kertas-kertas kecil kecil bertuliskan Time Zone 2000 ke kasir. “Kau memang baik, sayang!”katanya sambil memeluk Nime lagi. “Oke. Kau perlu ganti baju? Aku akan menunggu.”

Nime melihat pakaiannya. Masih dengan headset di telinga tanpa musik, memegang novel, kaos polos berwarna putih dengan kerah hijau bertuliskan Nike di atas kiri bajunya, dan celana jins selutut. Lalu Nime berpikir, dengan pakaian seperti ini, Ken tak mungkin membawanya ketempat-tempat yang romantis. Mengingat sekarang Ken sedang berpakaian ala om-om yang sedang membawa istrinya ke restoran mahal ala Perancis. “Tunggu sebentar.”kata Nime sebelum akhirnya ia kembali pada Ken tanpa perubahan. Kecuali kardigan biru yang dipakainya. Dan Ken tersenyum lega ketika Nime membawa masuk bunga dan cokelat darinya.

“Well, kau memang selalu terlihat manis.”kata Ken sambil tersenyum.

Ken menyodorkan tangannya. Berharap Nime akan menenteng lengannya. Tapi Nime sama sekali tidak peduli. “Ayo cepat.”kata Nime sambil berlalu ke mobil sewaan Ken.

Ken mendesah lagi. “Dasar wanita, sok jual mahal.”bisiknya pelan. Untungnya Nime tidak mendengarnya. Kalau tidak, habis sudah Ken. Jangan harap Nime tidak akan mencabut keputusannya.

Ken menyetir mobilnya dengan senyum yang masih mengembang. Ia tahu benar kalau rencananya malam ini akan berjalan lancar. Walau tidak begitu lancar untuk permulaannya karena Ken harus melupakan harga dirinya di depan ibu Nime dan adiknya Frans. Tapi setidaknya ia berhasil mengajak Nime keluar dari kamar Nime.

“Aku mau dibawa kemana?”akhirnya Nime bertanya.

“Mau tau saja. Yang jelas, kau tidak akan menyesal ke sana. Bahkan kau akan terpesona karenanya.”kata Ken sambil tersenyum, lagi.

Nime hanya mengangkat bahu sambil berpura-pura tidak penasaran. Untungnya ia masih membawa novelnya dan headset masih melekat ditelinganya. Ia lalu melanjutkan novelnya yang masih setengah perjalanan menuju halaman terakhir dengan lantunan lagu Everytime and Everynights dari Pee Wee Gaskin.

Untuk beberapa kali Ken memanggil nama Nime sebelum akhirnya Ken menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan rem mendadak dan Nime bertanya dengan tatapan tanpa arti, “Kenapa?”

“Tidak sopan, tahu! Dari tadi aku ngomong ngidul sana sini tentang pengalamanku sebelum dan sesudah mendaftar di UNPAD, dan kau hanya membaca novelmu.”katanya sambil melanjutkan menyetir lagi.

Nime mengangkat bahu. “Sepertinya aku lebih tertarik membaca novel.”kata Nime dengan nada dingin.

Ken geleng-geleng kepala. “Sampai kapan kau akan berubah menjadi cewek ramah dan manja seperti dulu Nime? Saat kau SMP dan aku masih kelas dua SMA. Aku benar-benar kangen Nime yang dulu. Kau sungguh menggemaskan. Tidak seperti sekarang. Sekarang kau begitu dingin, terlihat angkuh dan sombong. Padahal aku yakin, kau orang yang baik sekali.”

“Aku nyaman dengan diriku yang sekarang. Jangan memintaku untuk mengubahnya, aku tidak suka.”kata Nime tenpa menoleh pada Ken.

Ken terlihat kecewa. Sesuatu yang baru dikatakannya barusan adalah sesuatu yang benar-benar ia rindukan. Nime yang dulu, yang imut, bersahaja, ceria. Tidak seperti sekarang yang dingin, galak, sombong, angkuh, dan pendiam. Perubahan Nime dirasakan Ken setelah ayah Nime meninggal dua tahun yang lalu. Dan Nime sangat terpukul karenanya.

Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang tinggi sekali. Sebuah papan bertuliskan Gerardi Resto terpampang di depan gedung tersebut.

“Aku tidak lapar.”kata Nime yang masih belum bisa memalingkan wajahnya dari novelnya.

Ken geram. Ia lalu mengambil novel Nime dan menyembunyikannya di tempat bagasi kecil dekat kursi Nime. “Kau harus belajar sopan santun, Nime.”

Nime sepertinya tidak peduli. Ia memang terbiasa dengan Ken yang sangat mengutamakan kesopanan dalam hidupnya yang jelas berbeda sekali dengan Nime. Nime yang cuek dan tidak peduli dengan pemikiran orang sekitar jika ia meludah sembarangan atau terus mendengarkan musik saat berada di dalam ruangan dan seseorang berpidato di panggung. Tapi ia membiarkan bukunya tersimpan dibalik bagasi kecil itu. Nime lalu mengambil handphonenya dan memilih lagu bagus. Sambil mendengarkan lagu You belong With Me dari Taylor swift, ia memainkan kepalanya dan memukul-mukul pahanya.

Ken menggeram lagi. Nime memang gadis yang pintar untuk menemukan bagaimana caranya agar Ken cepat marah karena dicuekin.

Ken keluar dari mobil. Ia membuka pintu mobil Nime dan nihil. Nime tidak mau keluar dari dalam sana. “Aku bilang aku tidak lapar.”kata Nime sambil menatap Ken garang.

“Tapi kau belum makan, Nime. Aku sudah tanya Frans tadi. Lagipula, kita tidak makan di dalam restaurant itu. Akan kutunjukkan tempatnya. Yang jelas, jauh dari keramaian.”

Nime melihat bola mata Ken yang berwarna hitam pekat untuk memastikan keseriusannya. Dan ternyata Ken memang serius. “Hmm. Oke.”kata Nime sambil keluar dari dalam mobil Jazz putih susu sewaan Ken. Lagipula, Nime juga bosan berada di dalam mobil terus.

Ken tersenyum senang lalu berusaha menggandeng erat tangan Nime. Walau Nime sudah berulang kali mencoba menghilangkan genggaman Ken, tapi Ken terus saja menggenggamnya. Hingga mereka masuk kedalam lift dan Ken memencet tombol berisi dua angka yang menunjukan lantai teratas dari gedung itu, akhirnya Nime berhasil meraih tangannya kembali. Untuk menjaga tangan kanannya itu, ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kenapa? Dingin ya?”tanya Ken.

Sepertinya Ken tidak menyadari bahwa sedari tadi Nime berusaha agar tidak disentuh olehnya. “Lumayan.”kata Nime.

“Sayang. Aku lupa bawa jaket.”lanjut Ken. “Tapi kau kan sudah pakai jaket?”

“Kardigan. Ini namanya kardigan. Bahannya tipis, jadi nggak terlalu hangat.”

Akhirnya lift sampai juga ke bagian teratas gedung itu. Tidak ada orang disana. Hanya beberapa rangkaian bunga yang tersusun rapi dan sebuah meja makan berdiri sendiri disana. Anehnya Nime melihat sebuah infocus di samping meja makan.

“Gimana?”tanya Ken berharap Nime akan mengatakan sesuatu yang baik untuknya.

Nime berjalan ke meja makan. “Cukup mengesankan.”katanya sambil memandangi langit yang cerah dan bertaburan bintang malam itu.

Ken tersenyum. “Baguslah. Sekarang lihat ini.” Ia menyalakan infocus. Dan terpancar gambar supermoon yang cukup besar dilangit.

Kali ini Ken berhasil membuat Nime terpana. “Wow.”hanya itu yang diucapkan Nime setelah melihat begitu besarnya bulan yang ia lihat sekarang. Walaupun tidak nyata, tapi terlihat seakan bulan itu benar-benar ada. Nime benar-benar terpana.

“Hari ini hari Jumat, Nime. Sayangnya tidak ada bulan. Jadi ku beri saja kau gambarnya. Cantik bukan?”tanya Ken. Ia ingat bahwa Nime sangat menyukai bulan purnama di hari Jumat malam, tepat di hari kelahirannya yang kebetulan juga ada bulan purnama.

Nime tersenyum sambil duduk di bangku yang telah disiapkan Ken. “Lucu kok.”katanya.

Ken mengerutkan dahi. Lucu? Tapi Ken malah menganggapnya sebagai pujian. Lalu ia duduk dihadapan Nime. “Aku senang mendengarnya. Hmm, kau sudah lapar?”

Nime merasakan getaran di perutnya. “Baiklah. Aku makan.”katanya sambil melepaskan headset dari telinganya dan menyimpan headset itu dalam saku celananya.

Ken menelpon seseorang sambil mengatakan, “Ya. Sekarang.” Beberapa menit setelah itu muncul beberapa pelayan yang membawakan makanan dengan nampan tertutup. Lalu mereka menghidangkannya dihadapan Nime dan Ken. Setelah penutup makanan itu dibuka, terlihat dua potong lele bakar, dua potong ayam bakar, dan sebuah pizza. Dengan minumnya es buah segar, sirup melon, dan air putih. Untunglah meja yang disediakan cukup besar.

“Makanan-makanan kesukaanmu. Jangan heran aku masih mengingatnya.”kata Ken sambil tersenyum.

Nime melihat hidangannya dengan mata melotot sedikit. Lalu ia berkata dengan aksen dinginnya lagi, “Aku tidak mungkin menghabiskan ini semua.”

“Tidak apa-apa. Kalau tidak habis, kau bisa bawa pulang. Tadi Frans memesan potongan pizza untuknya.”

Nime menyerah. Ia lapar juga melihat hidangan yang begitu lezat dihadapannya. Lalu ia makan dengan tenang untuk menutup rasa laparnya. Sepanjang waktu menghabiskan makanannya, Nime tidak berani untuk berkata-kata karena ia melihat Ken yang sedang makan dengan tenangnya. Ia tahu benar bahwa Ken sangat memgang adat ketat di meja makan, salah satunya tidak boleh mengobrol saat makan. Ken bahkan tidak menatap Nime sama sekali. Bunyi garpu ataupun sendok juga tidak terdengar darinya.

Setelah selesai makan, akhirnya Nime berani berbicara. “Well, aku tidak terlalu suka ini.”kata Nime sambil menyilangkan sendok dan garpu di piring.

“Tidak terlalu suka apa?”

Nime mendesah. “Bertemu kau lagi…”setelah mendapati wajah tenang di muka Ken, ia melanjutkan lagi. “Aku sudah hampir berhasil melupakanmu.”

Ken terlihat sedikit kaget. Untuk waktu sebulan berhasil melupakan seseorang yang dicintai oleh orang lain, merupakan waktu yang terlalu cepat bagi Ken. Tapi Ken memakluminya. Ia mengerti perasaan Nime walau sebenarnya ia tidak mengharapkan bahwa Nime akan melupakannya. “Aku mengerti.”katanya pelan.

Nime kembali melipat kedua tangannya. “Well, bagaimana dengan pacarmu?”

Ken menatap Nime heran. Apa katanya? Pacar? Jelas-jelas Ken sekarang berusaha sebisa mungkin mendapatkan Nime kembali. Apakah Nime tidak menyadarinya? Bahwa sekarang apa yang diinginkan Ken adalah Nime? “Kau bercanda? Aku hanya ingin kau.”

Nime tersenyum kecut. “Tapi sebulan yang lalu kau mebuangku. Dengan percuma.”

“Aku sudah minta maaf kan Nime? Tapi aku tidak akan menarik janjiku lagi. Terserah kau akan memaafkanku atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin kau. Dan aku benar-benar menyesal dengan perbuatanku sebulan yang lalu.”

Nime melihat supermoon yang ada dihadapannya. “Ya, cara yang sangat kasar menurutku untuk mengganti nomor hp, deactive facebook, dan tinggal jauh dari kota ini. Benar-benar menghilang.”

Ken benar-benar menyesal. Yang ia inginkan dulu adalah menggapai mimpinya. Tapi ia dengan cepat melupakan Nime, wanita yang saat itu begitu mencintainya. “Maaf Nime.”

Nime menatapnya. “Sudahlah. Lalu, boleh aku pulang? Aku ingin memberikan pizza ini untuk Frans sebelum pizza ini membeku.”

Sebenarnya Ken ingin lebih lama berduaan dengan Nime disana. Tapi ia melihat sorot mata lelah, capek dan ngantuk di wajah Nime. Lalu ia menelpon pelayan lagi dan menyuruhnya membungkus semua makan yang tersisa. “Tunggu sebentar Nime. Mereka sedang membungkusnya.”

Nime mengangguk. “Baiklah. Hmm, Ken, kau tidak mengharapkan aku menerimamu lagi bukan?”

Ken berpikir sebentar. Feeling tidak enak hinggap di batinnya. “Memang kenapa? Kau tidak mau menjadi pacarku lagi?”

Nime menggeleng lemah. “Hanya saja, aku masih ragu untuk memutuskan hubunganku dengan pacarku yang sekarang dan kembali padamu.”

Lima, tujuh, sepuluh detik Ken terdiam. Butuh waktu lama untuk Ken mencerna perkataan Nime tadi. Detik kedua puluh barulah ia sadar Nime tidak sedang bercanda dan Nime baru saja mengatakan bahwa ia punya pacar kepada Ken. “Kau… Kau punya pacar?”

Nime mengangguk. “Namanya Ardo. Dia seangkatan denganku. Dan kau terlambat karena aku baru jadian dengannya dua hari yang lalu.”

Ya. Pantas saja Nime tidak mengharapkan kedatangan Ken saat ini. Bagaimana tidak? Ken sudah berstatus sebagai mantannya dan sekrang bukan siapa-siapa lagi bagi Nime. Tapi setelah kesalahan fatal yang dibuat Ken, terang saja tipe gadis seperi Nime langsung menyambat cowok yang sedang menyatakan cinta padanya dan melupakan Ken. Ken merasa begitu kecil. Perasaan kecewa menghantuinya. Percuma saja ia menyiapkan malam indah ini untuk Nime.

“Ken?”panggil Nime.

Ken menoleh. Ia berusaha tersenyum, dan sepertinya kurang berhasil. “Ya?”

“Jangan melamun. Kau jelek kalau melamun.”

Daan saat itu juga Ken tertawa hambar. “Ha-ha-ha.”

Nime terlihat khawatir pada Ken. “Kau, tidak apa-apa kan?”

“Memang aku terlihat kenapa? Aku nggak apa-apa kok. Mungkin sedikit shock.”kali ini Ken menunduk. Mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.

Nime berpikir sedikit. “Baiklah. Tapi, tunggu. Jangan-jangan kau kecewa karena aku telah megacaukan malam indah yang sengaja kau buat? Tapi kupikir tadi semua ini hanya sebagai permintaan maafmu saja. Aku tak mengira kau ingin aku kembali padamu. Maaf..”

Ken tersenyum. “Jangan meminta maaf, Nime. Kau tidak salah. Aku yang terlalu banyak berharap. Nah, bungkusanmu sudah siap. Bagaimana kalau sekarang kita pulang?”lanjut Ken sambil menenteng bungkusan besar berisi pizza, sepotong ayam bakar dan es buah.

Jelas sekali Nime melihat senyum palsu dari mata Ken. Nime jadi sedih juga karena telah mengecewakan Ken. Bagaimana juga, Ken sudah menyiapkan malam yang indah ini untuknya. Dan tidak etis sekali jika Nime mengacaukannya begitu saja.

Nime berdiri dan menggandeng tangan Ken. Nime mendapati wajah Ken yang terlihat sedikit kaget dan heran. “Ayo pulang, kak.”kata Nime sambil tersenyum.

Ken mengerutkan kening. “Berapa abad kau tidak memanggilku kakak?”

“Jadi tidak mau dipanggil kakak nih? Ya sudah.” Nime pura-pura ngambek.

“Tidak dong, hmm, dek. Senang mendengarmu kembali seperti saat kau SMP dulu. Saat kita bertemu dan kau memanggilku kakak.”kata Ken. Sedikit demi sedikit Ken sudah lupa dengan pacar Nime. Mereka masih bergandengan walau berada di dalam lift.

“Hmm, ya. Jujur. Mungkin hanya kau yang bisa membawaku ke masa lalu, waktu beliau masih hidup.”

Kini Ken yang merasa tidak enak. Secara tidak langsung ia sudah menyinggung almarhum ayah Nime. “Maaf, Nime. Ku rasa, ayahmu cukup senang melihatmu seperti sekarang.”

“Cukup?”

Ken melihat Nime dengan tatapan bijaksana seakan-akan dia benar-benar kakak kandung Nime. “Mungkin dia juga melihat perubahanmu dalam dua tahun terakhir ini.”

Nime menunduk lesu. Sebenarnya, memang benar adanya. Perubahan Nime menjadi cewek yang dingin, kaku, dan sombong karena ayahnya yang telah meninggal. Dan walau Nime menyadari hal itu, ia tidak ingin mengubahnya. Bukan untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya, ia hanya ingin mengekspresikan kesedihannya. Dan sepertinya itu tidak berjalan lancar karena teman-teman Nime perlahan menjauhi Nime karena sikapnya yang berubah total.

“Nime?”panggil ken.

Nime menoleh. “Ya?”

“Apa kau tidak pernah membayangkan bagaimana perasaan ayahmu jika ia melihatmu berubah seperti sekarang? Kurasa ayahmu pasti sedih.”kata Ken sambil melangkah keluar dari lift dan membawa Nime masuk ke dalam mobil.

Nime berpikir panjang tentang perkataan Ken. Apa benar ayah akan sedih?

Ken menjalankan mobilnya menuju rumah Nime. Ia sadar Nime masih diam dan belum mengatakan apa-apa. Tapi Ken rasa ini yang tepat untuk menyinggung Nime dan sikapnya sekarang dengan mengungkit tentang ayahnya.

“Ayahmu membesarkanmu hingga kau menjadi seorang Nime yang cantik, ceria, gembira, dan ramah. Ayahmu tidak pernah melihatmu seperti ini. Dan kurasa dia juga tidak menginginkannya, sama seperti aku.”

“Jadi, hal yang selama ini aku rubah adalah hal yang salah? Tapi aku tidak bermaksud mengubahnya. Aku hanya.. terlalu larut dalam kesedihan.”

Ken tersenyum. “Ingat Nime. Jika kau sedih, ayahmu juga pasti akan sedih. Coba lihat mamamu dan Frans. Apa mereka juga larut dalam kesedihan? Tidak, Nime. Di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi. Ayahmu pergi ke atas sana karena takdirnya. Dan aku rasa ia bahagia disana. Kecuali melihat perubahan drastismu ini.”

Nime menunduk lagi. Sepertinya kata-kata yang diucapkan Ken mampu membuatnya berpikir jernih dan membuat hatinya tergerak untuk berubah menjadi sepertinya dirinya yang dulu. “Aku.. akan mencoba berubah. Menjadi aku yang dulu.”

Ken mengangguk. Tak ia sangka ternyata nasehatnya mampu mengubah pemikiran Nime. Nime yang dingin, dan tak peduli dengan omongan orang lain, kini mengatakan bahwa ia akan mencoba berubah menjadi Nime yang ceria dan bahagia seperti dulu. “Baguslah kau sudah sadar.”

“Makasih.”ucap Nime.

“Untuk apa?”

“Untuk menyadarkanku.”kata Nime sambil menoleh kearah Ken.

Ken mendapati mata Nime yang berair. Tapi ia tersenyum. “Sama-sama. Tolong jangan menangis. Aku jadi merasa bersalah.”

Nime menghapus air matanya dengan tisu. “Ya. Lagian aku tidak cengeng kok.”

“Yakin tidak cengeng?”

Nime mencubit pinggang Ken. “Katakan kalau aku memang tidak cengeng. Cepat!”

“Auu! Ampun adek. Ampun, ampun! Nime, cubitanmu memang benar-benar menyakitkan. Aku serius. Auu!”

Nime berhenti mencubit Ken sambil tertawa. “Haha. Bagus! Sekarang aku tahu kelemahanmu.”

Ken tersenyum lega melihat tawa Nime yang lepas dan tanpa beban. Baru kali ini Ken merasa Nime tidak benar-benar berubah. Dan syukurlah karena Nime sudah kembali seperti dulu.

Mereka tiba di depan pintu rumah Nime. Waktu sudah menunjukan pukul 21.19. Tanpa sadar Nime menguap dihadapan Ken.

“Heh, anak kecil! Kalau nguap tuh ditutup mulutnya. Tidak sopan.”kata Ken sambil menutup mulut Nime. Nime memukul tangannya. “Aduh!”

“Heh, orang sok dewasa. Jangan suka sembarangan menutup mulut cewek.”bantah Nime.

Ken tersenyum. “Ya sudah. Ini, makanan adikmu. Tidur sana.”

Nime mengangguk. Ia membuka pintu rumah dan melangkah masuk.

“Nime?”panggil Ken lagi.

Nime menoleh ke belakang. Didapatinya tubuh Ken yang dekat sekali dengannya. Begitu pula dengan bibir Ken yang hampir mencium bibirnya. Hampir saja. Tapi bibir Ken kemudian berhenti. Gambaran pacar Nime dan nama Ardo terlintas dipikirannya. Ia lupa Nime sudah punya pacar. Lagipula, tidak etis mencium adiknya sendiri. Lalu bibir Ken berpindah ke pipi kanan Nime. Ken menciumnya lembut sekali.

“Maaf. Aku tidak seharusnya menciumi pacar orang.”kata ken.

Nime tersenyum. “Tidak apa-apa. Kau kan kakakku. Dan wajar seorang kakak mencium adiknya sendiri.”kata Nime sambil tersenyum.

Ken membalas senyuman Nime. “Boleh aku memelukmu sebentar?”

Nime mengangguk. Lalu mereka berpelukan erat. Hening. Saat itu juga Nime lupa dengan pacarnya, Ardo. Nime kembali ke masa-masa dimana ia masih memiliki perasaan khusus dengan Ken. Walaupun sampai sekarang ia masih memiliki perasaan itu. Dan jujur saja Nime sangat sangat merindukan Ken.

Ken sebenarnya tidak mau melepaskan pelukannya. Tapi ia sadar, dia bukan siapa-siapa lagi di hidup Nime. Lagipula, pelukan itu hanya dianggap Ken sebagai pelukan kakak adik. Ken melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Nime. Tiba-tiba kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. “Aku mencintaimu, Nime.”

Nime hanya tersenyum. Lalu ia berkata dengan bijak, “Aku memeaafkanmu. Aku masuk dulu ya, Kak. Hati-hati dijalan.”

Lalu hilanglah sosok Nime di balik pintu rumahnya. Ken terpaku ditempat beberapa saat sebelum akhirnya ia pulang dengan senyuman yang membahagiakan. “Setidaknya aku tahu ia masih mencintaiku.”bisik Ken. Lalu ia menjalankan mobilnya dan pulang ke rumah.

Nime berbaring di ranjangnya sebelum ia menyerahkan makanan yang dibawanya pada Frans. Malam ini, Nime begitu merasa malam yang paling indah dalam hidupnya. Indah karena ia menyadari bahwa sebenarnya ia tidak perlu menjadi dirinya yang sekarang. Sombong, angkuh, terkesan jahat dan tidak bahagia. Indah karena ada Ken yang mampu membuka mata hatinya. Karena sebenarnya ia telah memiliki kebahagiaannya sekarang. Kebahagiaan yang sempat hilang dan kembali datang ke hidupnya. “Aku juga mencintaimu, Ken.”

Post a Comment