Thursday, 17 March 2011

Diary

Dear diary,

Ya, kali ini aku harus yakin dengan pendirianku. Aku tidak boleh jatuh cinta dengan orang yang salah. aku harus tahu diri terhadap orang yang aku suka. Aku juga tidak boleh berharap terlalu banyak dengan Fatir.

Tau nggak? Tadi, waktu isitrahat pertama, Kak Ajeng datang ke kelas. Kak Ajeng itu kakak kelasku yang duduk di kelas ipa. Cantik, putih, imut. Pantas saja ia jadi pacarnya Fatir.

Tapi, yang aku lihat tadi, Fatir dan Kak Ajeng berantem gitu. Sampai-sampai Kak Ajeng nangis dan lari ke kelasnya. Kira-kira ada apa ya?

Aku sempat shock ketika Fatir yang tiba-tiba melihat ke arahku. Dan sialnya, hanya aku yang berada di kelas. Tapi tenang aja. Aku nggak langsung panikan atau salting gitu. Aku cuma pura-pura baca buku dan duduk diam.

Dan tahu nggak? Dia tiba-tiba ngambil tempat duduk di sampingku. Terus dia curhat. Maksudku, bukan kali ini aja sih dia curhat tentang ceweknya. Tapi, baru kali ini aku ngerasa salting dan deg-degan pas dekat dia. Mungkin hal ini baru terjadi karena aku baru sadar aku suka dia.

Dia curhat, kalau Kak Ajeng terlalu mengekangnya. Dan dia nggak suka. Dia juga bilang dia nggak suka diremehin hanya karena umurnya yang lebih muda. Dan menurut aku dia nggak salah.

Dan kayaknya, dia sayang banget sama Kak Ajeng. Itu sih karena aku lihat dari matanya. Dan dia juga terlihat kecewa banget.

Menit demi menit pun berlalu. Dan aku cuma diem denger dia curhat.

Aku emang udah deket sama Fatir dari semester pertama. Aku juga lupa deket sama dia gara-gara apa.

Dan sialnya, dia itu playboy! Coba aja dia nggak playboy. Dan aku, sepertinya harus terus-terusan memendam perasaan ini sampai tamat SMA nanti. Tahu kan alasan kenapa aku selelu memendam rasa suka dengan cowok yang buat aku tertarik? Karena aku nggak mau sakit hati. Dan menyukai seorang playboy, apalagi seperti Fatir, banyak resikonya. Dan resiko yang paling kuat adalah : SAKIT HATI. Aku nggak mau itu terjadi. Aku nggak mau nantinya aku bakal terobsesi dengannya dan nggak mau kehilangannya. Cukup hanya sebatas suka dan kagum. Itu aja, nggak lebih.

Bantu aku, Tuhan. Bantu aku untuk terus memendam perasaan ini sedalam-dalamnya. Dan kalau bisa rasa suka ini berkurang. Nggak apa-apa deh kalau melihat Fatir yang nempel mulu sama cewek lain. Asal aku nggak suka lagi sama dia.

Say NO to FATIR! Yeah!

Hey, Grindo!

Tadi pagi aku putus sama Ajeng. Lega sih. Tapi lihat wajahnya yang mengiba-iba minta nggak mau diputusin, aku jadi ngerasa kasihan.

Ah, sudahlah. Yang penting aku bebas sekarang. Nggak ada perintah-perintah dari Si Ratu Ajeng lagi. Nggak ada ocehan tentang kekanak-kanakan lagi, dan nggak ada paksaan agar aku nurut sama dia lagi.

Dia emang seorang monster. Tapi kalau lihat senyumnya, dan wajahnya yang menawan itu, hilang semua tentang sifat buruknya. Aku akui, Ajeng itu emang mantan paling cakep yang aku punya. Tapi kalau ternyata sikapnya kayak gitu, malas juga kali. Cowok butuh kebebasan, ya nggak Grindo?

Target selanjutnya, siapa nih? Kemarin sih aku sempat buat geer si Gina, Dea, dan Nuri. Nuri emang menarik. Kalau Gina, kelihatannya baik. Dan Dea? Cakep sih.

Tapi, tadi pas aku curhat sama Gea, rasanya nyaman banget. Walaupun sebenarnya dia cuma bilang, “ohh, gitu.” “kenapa?” “terus?”.

Dia kayaknya nggak tertarik dengan aku. Gea. Apa sih yang menarik dari dia? Kalau dibandingkan dengan mantan-mantan aku yang lain, jelas saja dia kalah saing. Lihat aja badannya. Pendek, nggak kurus juga nggak gemuk, nggak putih nggak item juga.

Tapi, dia manis. Pembawaannya dewasa, misterius, cuek, dan baik. Baik? Baik dimananya ya? Ohya, dia baik karena dia nggak pernah keberatan untuk denger aku curhat.

Grindo, sebenarnya aku udah suka Gea dari pertama kali kami satu kelompok sejarah. Dia punya wibawa sebagai pemimpin, tapi nggak sombong.

Mungkin ini hanya sebatas kagum aja kali ya. Kalaupun rasa suka, kayaknya aku harus bersabar deh. Gea bukan tipe cewek yang gampang ditaklukkan sepertinya. Dari dulu sampai sekarang, responnya terhadap cerita-cerita aku biasa aja. Aku nggak ada spesial-spesialnya dimata dia.

Tapi, gimanapun cueknya dia, aku nggak bisa berhenti curhat ke dia. Biarin aja deh. Semoga dia tahu kalau selama ini aku juga suka padanya!

Dear Diary,

Huh! Sebel! Tau nggak sih? Tadi tuh Fatir deketin Dea. Gombalin-gombalin Dea gitu. Dasar playboy! Dan begonya Dea mau aja dengerin semua kata-kata Fatir!

Hah. Sudahlah. Dengan cara itu juga aku bisa membenci Fatir. Setidaknya, bisa deh rasa suka itu lama kelamaan berkurang. Semoga bisa terus berkurang!

Gea, cowok tuh banyak! Jangan sampai untuk pertama kalinya kamu patah hati gara-gara Fatir. Cowok nggak penting banget kayak dia kamu ladenin. Iuh!

Bye Fatir!

Hey, Grindo!

Udah seminggu lebih aku deketin Dea. Tapi aneh banget tau. Aku tiba-tiba ilfeel dan nggak punya niat untuk nembak dia. Gimana nih?

Ah sudahlah. Lagian, Dea kan cuma selingan karena aku nggak bisa dapetin Gea.

Astaga! Aku beneran suka sama Gea ternyata. Kenapa aku mesti suka sama cewek yang nggak pernah naruh harapan ke aku sih? Sial!

Ah, sudahlah. Lebih baik lupain aja cewek cuek satu itu. Ngejar-ngejar dia juga kayaknya percuma.

Kali ini coba aku deketin Fera deh. Katanya dia baru putus. Dia udah menarik hati aku dari pertama kali masuk SMA dan untungnya sekarang dia baru putus. Ngejar dia kayaknya gampang-gampang aja deh. Sip lah.

Dear Diary,

Aneh, Fatir nggak pernah curhat lagi ke aku. Kenapa ya? Apa mungkin aku yang terlalu cuek? Tapi kabarnya, dia lagi deket sama Fera.

Sudahlah. Lupakan Fatir. Lupakan lupakan lupakan!

Nah, gimana kalau kita bahas Kak Gio aja? Kak Gio itu kakak kelas aku. Awalnya aku nggak terlalu kenal dia sih. Tapi dia sering ngajak chatting di facebook. Dia baik loh.

Dan tadi pagi, aku sempat kaget. Kak Gio lewat depan tempat dudukku di kantin. Terus dia negur aku. Otomatis aku kaget lah! Baru juga kenal, eh dia negur duluan. Dan dia itu kakak kelas! Masa dia yang negur aku duluan? Aku ini siapa juga?

Kak Gio itu manis banget orangnya. Tinggi, terus kelihatannya baik. Ya jelas lah! Kalo nggak, kok dia mau negur aku duluan. Aku ni siapa lah ya kan?

Sudahlah. Kalaupun aku memang suka dengan Kak Gio, aku cuma bisa menahan perasaan itu dalam-dalam. Aku nggak mau nyimpen harapan kosong. Toh, Kak Gio juga nggak ada ngasih tanda-tanda dia suka aku kan? Bodohnya aku yang terlalu kegeeran.

Hei, Grindo!

SEBEL WOI! SAKIT ATI! SIAL! Tahu nggak seeeehh ??? GEA DEKET SAMA COWOK LAEN!

SIALAN SIALAN SIALAN SIALAN! Profil facebook dia penuh sama wall dari kakak kelas yang namanya GIO itu!

Arrghh!!! Kalah apa sih gue dari dia??! Gantengan juga aku kemana-mana. Kalau tinggi badan, paling tiga bulan lagi aku setinggi dia!

Alah! Cemburu nih aku! Sialan banget!

Woi Gea! Asal kamu tahu, aku sengaja pensiun jadi playboy gara-gara kamu! Aku mundur deketin Fera karena nggak bisa berhenti mikirin kamu!

Gea, wait me!, please T.T

Dear Diary,

Sejauh ini, kayaknya aku makin deket sama Kak Gio. Tapi masih sebatas kakak dan adik kelas, nggak lebih.

Kak Gio emang cowok yang perhatian, baik, dan peduli. Dewasa lagi. Dan dia juga yang selalu sms aku duluan. Ohya, dia sampai beliin aku pulsa hanya karena aku nggak balas sms dia.

Kak Gio itu juga orangnya lucu. Sejauh ini sih, dia emang tipe aku banget. Tapi aku juga tahu diri kok. Kami baru aja kenal nama satu sama lain. Belum mengenal lebih jauh. Dan semoga rasa suka aku ke Kak Gio, hanya sebatas rasa sayang adik ke kakak kelasnya.

Ohya, si Fatir makin nyebelin! Aku udah hampir bisa lupain dia, eh sekarang dia pakek nempel-nempel segala. Terus tiap menit dan tiap detik dia ngegombalin aku. Emang dasar playboy!

Heh, Fatir! Tau nggak sih, aku hampir bisa lupain kamu! Tapi kamu datang lagi ke kehidupan aku! Sama Fera aja sana. Jangan ganggu-ganggu aku lagi! Huh!

Hey, Grindo!

Ah! Susah banget tau deketin Gea! Dia nggak kayak dulu lagi. Sekarang dia agak kasar.

Mungkin karena aku yang terlalu berlebihan deketin dia kali ya?

Atau mungkin aja karena dia suka sama kakak itu.

TIDAK TIDAK! Nggak boleh! Gea itu buat aku!

Alah! Gea, kamu berhasil buat aku frustasi!

Pokoknya aku pasti bisa dapetin kamu! PASTI!

Rencana besok : cari tahu barang-barang kesukaaan dia, traktir dia makan di kantin, jangan biarkan dia jauh dari aku. Pokoknya Gea harus bisa jadi milik aku! Bukan buat kakak sotoy itu!

Doain aku Grindo!

Dear Diary,

Aku harus secuek apalagi sih dengan si Fatir sialan itu?! Dia ngejar-ngejar aku mulu!

Tapi aku nggak sebodoh itu kok. Aku tau, pasti itu salah satu taktik dia untuk mainin aku. Aku denger-denger sih, kemarin Fera dimainin sama Fatir. Katanya, Fatir itu ngejar-ngejar dia. Eh, nggak taunya malah ngejar cewek lain. Dan baru aku tau, cewek lainnya itu aku!!

Untungnya Fera biasa aja. Katanya, dia masih sayang sama mantannya dan nggak terlalu peduli sama Fatir.

Bagaimana ini? Aku akui, aku masih suka sama Fatir. Tapi inget sama komitmen aku! Prinsip aku adalah jangan terlalu menyukai seorang cowok dan tergantung padanya! Dan disaat aku hampir berhasil, eh, Fatir merusak segalanya.

Tapi, apa Fatir benar-benar menyukaiku? Benar-benar menyukai apa adanya? Apa dia beneran behenti jadi playboy lagi sekarang?

Sudahlah!

Untungnya hubungan aku sama Kak Gio baik-baik aja. Dan makin deket, hihi. Kemarin kami sempat jalan gitu. Tapi ke toko buku doang sih. Dia koleksi komik One Peace. Asik loh pergi sama dia. Tapi aku sedikit minder sih. Abis dia tinggi banget. Dan aku? Kayak pohon toge. Tapi kayaknya dia nyaman-nyaman aja dengan masalah tinggi badanku.

Sejauh ini aku sama Kak Gio udah saling terbuka. Dia sempat nyeritain tentang mantan-mantannya. Tapi aku nggak kenal mereka. Ah, bodo amat. Yang jelas sekrang aku sama Kak Gio lebih dekat. Dan itu kemajuan yang bagus.

Tapi tunggu dulu. Apa aku salah ya, memanfaatkan kedekatanku dengan Kak Gio untuk mencoba melupakan Fatir? Tapi aku toh nggak pernah jahat sama Kak Gio. Lagian, hubungan kami hanya sebatas kakak adik. Dan aku senang, karena aku baru ngerasain punya kakak seperti ini. Hihi.

Hey, Grindo!

BAGAIMANA INI?! Tuh cewek nggak luluh-luluh juga! Shit! Damn!

Udah hampir sebulan aku ngejar-ngejar dia. Terus aku harus bagaimana? Ninggalin dia dan ngejar cewek lain? Aku rasa nggak gampang. Aku udah terlanjur ngerasa nyaman bersamanya. Nggak peduli deh dia selalu marah-marah karena risih aku ikutin kemana-mana.

Eh, bentar. Jangan-jangan si kakak kelas yang lagi deket sama Gea-lah penyebabnya. Aku harus cari tahu tentang si kakak Gio itu.

Tapi, kayaknya aku pernah lihat itu cowok deh. Cuma lupa dimana.

Ah! Gea! Bagaimana ini?? Kok kamu nggak luluh-luluh juga sih?! Aku selalu beliin kamu nasi lemak, beng-beng, air kelapa, terus ngekorin kamu kemana-mana. Ohya, gombalan-gombalan maut aku juga udah aku kasih. Tapi kamu masih cuek juga!

Tapi nggak harus sampai disini pengorbanan aku. Aku harus sabar. Tapi sampai kapan?!

Aduh, kalau begini caranya, aku mesti pakai taktik yang kedua. Semangat mengejar Gea!

Dear Diary,

Aku baru tahu, ternyata Kak Gio udah punya pacar.

Anehnya, kok aku nggak ada ngerasa kecewa atau apa ya? Justru aku ngerasa bahagia dan fine-fine aja tuh. Aku seneng malah, akhirnya kakakku itu udah punya pedamping.

Semalam Kak Gio nelpon. Dia kedengaran bahagia banget karena baru diterima sama pacarnya. Namanya Arina, dan dia seumuran sama Kak Gio. Sayangnya, beda sekolah.

Dan aku juga bersyukur sih. Walaupun Kak Gio udah punya pacar, tapi dia nggak lupa sama aku. Ternyata dia juga nganggep aku sodara. Kan bagus itu namanya. Aku jadi ngerasa punya kakak beneran.

Ohya, akhirnya si Fatir itu nyerah juga! Akhirnya dia diem juga! Udah tiga hari ini dia nggak deket-deket aku lagi. Baguslah.

Agak kangen juga sih sama Fatir. Tapi mau gimana lagi? Aku emang suka Fatir, tapi aku nggak bisa nerima kenyataan kalau dia itu playboy.

Tapi, kalau dia emang cowok yang tepat buat aku, gimana dong? Kalau begitu, percuma aja selama ini aku jauhin dia? Itu namanya ngebuang duren di tengah gurun pasir. Tapi, aku rasa nggak mungkin deh. Mungkin udah ada cewek lain di hati Fatir.

Huh. Fatir. Dasar cowok. Dasar playboy!

Sekarang, aku bebas. Sendiri lagi. Maksudku, tak ada gangguan dari Fatir. Dan statusku dengan Kak Gio jelas. Cuma sebatas kakak adik. Hihi.

Hey, Grindo!

HAHAHAHA!!! Akhirnya aku tahu siapa KAK GIO itu sebenarnya! Ternyata dia itu juga playboy! dia punya cewek, kalau nggak salah namanya Arina. Dan cewek ini temennya temen aku. Sialnya, mereka pedekate semenjak si Kak Gio itu juga lagi pedekate sama Gea. Apa maksudnya coba?!

Aduh, kasian banget Gea. Pasti hancur deh hatinya setelah tahu kalau si kakaknya itu jadian sama cewek lain. Dasar cowok sialan! Seenaknya aja nyakitin hati Gea. Grr.

Tapi menguntungkan juga sih. Pokoknya, besok aku harus bisa menghibur Gea! Dan ide bagusnya lagi, aku jadi lebih bebas deketin Gea ! Yihuuuyy!!!

GEA, ABANG GANTENGMU DATAAANGG!

Dua insan yang sedari tadi ketawa-ketawa sendiri menutup buku dihadapan mereka. Tapi buku yang mereka pegang bukan sembarang buku. Melaikan buku rahasia pribadi, alis Diary.

“Jadi gitu masalahnya? Kenapa kita nggak jujur aja sebelum kita jadian?”tanya Fatir.

“Kan awalnya aku nggak yakin kalau kamu beneran suka aku. Aku juga nggak mau berharap banyak sama kamu. Apalagi memberi kamu harapan. Aku nggak mau jadi cewek egois. Dan kamu? Seenaknya aja kamu fitnah Kak Gio! Dia itu baik tau! Dia sama aku masih smsan kok sampe sekarang. Kami emang kakak adik.”

Fatir cemberut. “Tau lah kaaaan. Aku ini kecil banget kalau dibandingin sama kakak kamu. Eh, awalnya kan aku nggak tau kalau kamu nggak ada feeling apa-apa ke kakak kamu itu. Eh, nggak taunya kamu punya feeling ke aku. Hihi. Aku jadi serasa di bulan.”

“Udah deh. Aku belum selesai baca diary kamu yang terakhir. Aku mau baca dulu.”

“Aku juga belum siap baca Diary kamu. Yuk baca bareng.”

Dear Diary,

Aku nggak tau, tapi rasanya aku beneran suka sama Fatir deh. Dan kali ini aku nyerah. Aku nggak bisa lagi nahan perasaan ini dalam-dalam. Apalagi saat Fatir nembak aku di depan kelas tadi.

Saat dia nanya, “kamu mau jadi pacar aku?”, aku awalnya ragu. Tapi kemudian dorongan-dorongan dari teman-teman sekelas dan kata-katanyalah yang bikin aku percaya kalau dia bakal berubah. Kira-kira kata-katanya kayak gini:

“Aku emang nggak sempurna. Jauh banget dari kata sempurna. Dan aku juga nggak mau menjadi orang yang sempurna. Menjadi orang yang sempurna tanpa kamu, Gea. Aku janji, aku nggak bakal jadi PLAYBOY lagi. Walaupun kamu nggak mau nerima aku, aku juga janji nggak bakal jadi playboy. dan aku akan berusaha buat kamu bahagia sama aku. Walau jauh dari kata sempurna.”

Dan AKU SENENG BANGET!!! Aku nggak bisa lagi nahan senyum aku dan pipi aku serta semua goncangan tubuh aku yang rasanya siap meluncur ke bulan. Dan detik itu juga, aku lupa dengan segala prinsip, dan komitmen aku. Kali ini aku yakin, aku nggak bakal gerasa sakit hati bersama seorang seperti Fatir. :)

Hey, Grindo!

Tiga kata: I LOVE GEA! sekarang, dan selamanya! Doain ya! Semoga Gea jadi cewek terakhir buat aku.

AKHIRNYA AKU DITERIMA SAMA GEAAA!!!! Oh, senangnyaaaaa..

Saking senangnya aku speechless!

Kapan-kapan aja ya aku cerita. Yang penting aku senang!

Ohya, kalimat terakhir deh: NO MORE PLAYBOY.

Gea da Fatir menghembuskan nafas panjang setelah membaca kedua buku harian mereka. Sekarang mereka benar-benar bersatu. dan tidak ada yang bisa menghalangi mereka.

“Aku baru sadar, ternyata kamu sungguh-sungguh.”kata Gea sambil meletakkan kepalanya di bahu Fatir.

“Kamu yang buat aku sungguh-sungguh. Terimakasih.”

“Untuk?”

“Untuk menjadi cewek yang benar-benar aku mau. Aku janji, Gea. aku nggak bakal ngecewain kamu. Kamu harusnya bilang sama aku tentang prinsip kamu ini. Kamu sih, jadi cewek penutup banget.”

“Yee, biarin. Daripada kamu? Cowok kok punya diary? Weeekks.”kata Gea sambil menyodorkan lidahnya.

“Kan aku suka nulis! Tapi kan bagus juga, bisa jadi kenang-kenangan. Kamu juga mau aja baca diary aku. Huuu.”balas Fatir sambil mengelus kepala Gea.

“Hehe. Aku juga baca biar aku bisa lebih yakin sama kamu.”

“Terus udah yakin belum nih?”

Gea mengangguk mantap. “Udah kok, sayaaang…”

“Aku sayaaaaaang banget sama kamu.”lanjut Fatir lagi sambil mempererat pelukannya dengan Gea.

“Aku juga sayang kamu, Fatir.”balas Gea sambil tersenyum lembut dan ikhlas.

Fatir mengambil diary Gea. “Ngomong-ngomong, diary kamu buat aku ya?”

“Eh, nggak boleh! Sini—sini!”

Fatir berlari ke pinggir pantai. “Tukar deh sama diary aku… Yah yah?”teriaknya sambil terus memeluk diary itu.

“Nggak mau! Tulisan kamu jelek! Sini, kembaliin diary aku!”

“Coba aja kejar kalo dapat, weekk!”

Dan sepertinya, sampai sinilah kisah dua insan yang akhirnya berakhir bahagia. Mereka lalu berlari-lari mesra sepanjang bibir pantai, diiringi dengan hembusan angin sejuk dan cahaya orange dari matahari yang tenggelam dalam malam.

Post a Comment