Saturday, 19 February 2011

Gadis Cantik Dua Hari

Dia melewati rumahku lagi dengan sepedanya. Dengan baju tidur lengan panjang berwarna merah muda, dan jins selutut, serta sandal jepit. Ia menggumam sambil sesekali mengangguk karena musik ditelinganya. Dan aku, hanya bisa melihatnya dari balik jendela di atas sini.

Rambutnya nggak terlalu panjang, ngembang dan lurus, tapi enak dilihat. Ia nggak terlalu berisi, tapi pipinya menggemaskan. Poninya lucu, semakin menambah daya tariknya dimataku. Ia punya lesung pipi yang sangat manis di pipi kirinya. Warna kulitnya nggak terlalu gelap, dan nggak putih juga.

Aku baru melihatnya hari ini. Padahal jarak rumah kami nggak sampai lima puluh meter. Sepertinya ia baru kelas satu SMA. Tapi kadang ia berpenampilan lucu seperti anak kecil yang baru mau masuk kelas tujuh.

Dua puluh lima menit ia mondar-mandir di jalan dengan sepedanya. Sepertinya ia tidak peduli dengan ban belakang sepedanya yang kempes. Kadang aku senyum-senyum sendiri melihatnya berhenti di depan rumahku, mengganti lagu di handphone-nya, dan sesekali celingak-celinguk memerhatikan pintu rumahku.

Ingin sekali aku keluar hanya sekedar menyapanya. Atau barangkali berkata, “Hai, imut sekali kamu. Nama kamu siapa?”, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di benaknya mengenai rumahku yang sepi seperti goa penuh hantu. Aku menarik nafas panjang. Hal itu tak mungkin terjadi. Kini aku hanya bisa menunggu gadis itu bersepeda lagi dan terus melihatnya dari balik jendela kamarku.

Esoknya ia bersepeda lagi. Aku antusias sekali bangun pagi hanya untuk melihatnya dari jauh. Pakaiannya lebih asik dari semalam. Kaos biru polos dengan celana yang dikenakannya semalam. Rambutnya dikucir dan ia memakai sepatu kali ini. Tentu saja headset dan musik dari handphonenya masih menemaninya.

Tunggu, kenapa gadis itu berhenti? Ia sepertinya gelisah. Ohh, ban sepedanya kali ini benar-benar kempes dan tak bisa diharapkan lagi. Ingin sekali aku keluar dan menolongnya. Barang kali aku bisa. Tapi kakiku masih tertahan di sini. Seperti ada jeruji besi yang berada di sekelilingku dan tidak ada pintu yang bisa membawaku keluar dari sini.

Ia pasrah. Lalu menenteng sepedanya pergi dari sana. Baru saja sepuluh menit aku melihatnya bersepeda. Aku menarik nafas panjang lagi. Tidak mungkin ia akan bersepeda lagi esok hari dengan ban belakang seperti itu.

Aku baru hendak memalingkan muka dari jendela, tapi gadis itu datang lagi. Aku tersenyum melihatnya sedang berlari-lari kecil menuju rumahku lalu berlalu lagi ke rumahnya dan berlari lagi ke rumahku. Begitu seterusnya hingga akhirnya ia berhenti sejenak di depan pagar rumahku sambil terengah-engah. Lalu ia berlari lagi.

Esok harinya lagi, ia berlari seperti biasa. Melewati rumah demi rumah menuju rumahku yang terletak di akhir jalan dan berlari lagi menjauh, lalu kembali lagi ke rumahku, berlari lagi, kembali lagi, begitu seterusnya.

Dan, oops! Ia terjatuh. Ia duduk dengan muka yang memancarkan raut kesakitan. Benar, lututnya berdarah dan lecet. Jelas saja, ia baru terpeleset karena butir-butir pasir licin yang dilaluinya.

Aku beranjak dan keluar dari dalam kamar. Kini serasa ada yang menyambar kakiku untuk menemui gadis pujaan yang kulihat selama dua hari ini.

Tapi keraguan muncul kembali saat selangkah lagi aku keluar dari pintu. Aku nggak mungkin menampakan diriku di depan gadis pujaanku seperti ini. Aku kembali dalam diam dan bersembunyi dari balik jendela.

Gadis itu masih diam dan meniup-niup lukanya. Ia mencoba berjalan. Untungnya ia bisa, walaupun terbata-bata.

Ia menjauh lagi dariku. Aku menunduk lesu. Aku nggak akan mungkin melihatnya berlari-lari atau bersepeda lagi dengan luka di lututnya. Aku kembali ke atas, tempat dimana kamarku dan jeruji besinya berada. Aku masih melihat gadis itu masih mencoba berjalan menuju rumahnya. Kasihan sekali dia.

Malamnya, aku berpikir keras bagaimana caranya mendekati gadis itu. Setelah ku tanya Bi Munah, ternyata gadis itu tinggal sendirian. Orangtuanya sedang ke luar kota, dan ia tidak punya kakak ataupun adik. Paling hanya beberapa teman yang singgah di rumahnya hanya sekedar menemaninya saja.

Tapi aku ingin sekali melihatnya lagi. Mengetahui namanya siapa saja aku sudah puas. Tapi bagaimana caranya? Kemungkinannya kecil sekali ia berlari-lari kecil ataupun bersepeda melewati rumahku.

Setelah semalaman berpikir keras dan tak bisa tidur lelap, pagi ini aku bertekad untuk keluar dari kamarku menuju rumahnya. Aku tak peduli apa yang akan dipikirkan oleh gadisku itu. Yang aku inginkan hanya tahu namanya.

Aku bahkan sudah siap untuk melihat raut wajahnya ketika melihat diriku yang botak, kurus, dan aneh ini. Sesuatu yang kuat sekali mendorongku untuk berkenalan dengannya. Mengingat senyum yang dimiliki gadis itu, aku jadi lebih semangat untuk mendekatinya.

Rencana telah kusiapkan. Bi Munah telah ku suruh untuk membuat nasi goreng kesukaanku dan membeli plester untuk luka lecet. Tentu saja itu bukan untukku, melainkan untuk gadis pujaanku itu.

“Tapi, mas kan belum diijinkan keluar rumah?”

“Bi, sampai kapan pun saya nggak mungkin diijinkan keluar rumah. Bibi lihat kan saya gimana? Kali ini saja, Bi. Apa saya pernah keluar rumah semenjak kita pindah kesini? Lagian, rumah cewek itu nggak jauh kan?”

Bi Munah diam sambil menimbang-nimbang perkataanku.

“Ayolah, Bi, saya nggak bakal bilang ke papa. Lagian papa sama mama belum bangun kan? Kalau mereka bangun juga mereka nggak mungkin masuk ke kamar saya.”

“Baiklah. Ini makanan yang mas mau. Hati-hati ya, mas.”

Aku tersenyum. “Makasih, Bi.”

Dengan tudung jaket, ku tutup seluruh kepalaku. Celana panjang, jaket, dan sendal jepit. Aku harap pakaianku ini bisa sedikit menutupi tubuhku yang lemah. Akhirnya aku bisa menatap matahari secara langsung dan menghirup udara bebas. Langkah demi langkah diwarnai dengan kecerian dan sedikit keraguan. Apa ya yang mungkin dipikirkan oleh gadis itu nanti? Lagian, dia tidak pernah melihatku. Hanya aku yang selalu menatapnya dari jauh.

Ku tatap kotak bekal yang ku bawa dari rumah tadi. Beberapa langkah lagi aku tiba di depan pintu rumahnya. Dan sampailah aku di sini. Di teras rumahnya yang penuh dengan beberapa vas bunga unik dengan lantai berkeramik berwarna hijau.

Dengan semangat ku ketuk pintu rumahnya. Satu kali, dua kali, tiga kali. Lima, enam, delapan detik sudah ku menunggu tapi belum ada jawaban. Ku ketuk lagi pintu kayu itu. Tapi belum ada juga jawaban dari dalam. Apa mungkin ia belum bangun? Biasanya jam segini ia sudah bersepeda di depan rumahku.

Satu, dua, tiga. Kali ini aku mengetuk lebih kuat. Barangkali ia benar-benar belum bangun.

“Maaf, ada apa ya mas?”

Wanita seperuh baya yang sedang menggendong anaknya muncul di sampingku. Mungkin tetangga sebelah.

“Hmm, orang yang ada dalam rumah ini kemana ya, bu?”tanyaku halus.

“Maksud mas, Vika?”

Vika? Jadi itu namanya? Vika. Nama itu terus terngiang di telingaku. Vika memang nama yang cocok untuk gadis periang, manis, dan bertubuh mungil itu.

Aku tersenyum. “Iya”, balasku

“Maaf, mas. Vika semalam dibawa ke rumah sakit sama teman-temannya. Dan pagi tadi, Vika sudah meninggal dunia.”

Glek! Meninggal?! Yang benar saja! Baru kemarin aku melihatnya bersepeda dan berlari-lari kecil di depan rumahku. Dan sekarang meninggal dunia?! Secepat itukah?! Aku baru saja tahu namanya siapa. Bahkan aku baru saja memberanikan diriku untuk keluar dari penjara, menghirup udara bebas, memberi salam pada matahari, hanya untuk menemuinya.

Ntah bagaimana raut wajahku kali ini. Apa yang seharusnya ku rasakan? Apakah aku kali ini benar-benar jatuh cinta, hingga tak berkutik hanya karena berita kematian dari seseorang yang tak ku kenal?

Aku lebih shock ketika mendengar penjelasan selanjutnya.

“Vika sudah lama menderita kanker, mas. Vika itu anak tiri. Selama ini ia hidup sendiri karena mama papanya tidak mau punya anak yang lemah sepertinya. Namun biaya hidup masih ditanggung orang tuanya itu, mas. Biasanya saya yang menjaga dia kalau ia sedang batuk-batuk dan badannya panas. Maaf ya mas, saya harus pergi ke rumah sakit.”

Aku terduduk lemas. Perlahan air mataku keluar. Kenyataan pahit yang dialami gadis bernama Vika itu ternyata lebih pahit dari kehidupanku. Selama dua hari ini, yang ku lihat adalah Vika yang sakit, Vika yang lemah, Vika yang tak berdaya. Sama persis sepertiku. Bahkan ternyata rambutnya yang selama ini ku pandangi dan ku kagumi hanyalah rambut palsu.

Tragis memang, tapi aku yakin ada maksud dari semua ini. Aku lalu berdiri dan beranjak meninggalkan rumah gadis itu. Walau semangatku telah patah, tapi aku sadar akan sesuatu. Baru kali ini rasanya aku mengagumi langit dan awan putih yang berbaris indah di atas sana. Seakan-akan mereka memberi tahuku sesuatu yang belum pernah ku ketahui. Ku paksakan bibirku untuk tersenyum ketika ku lihat sinar matahari yang menyinari tubuhku yang mendekati kata tak berguna. By the way, terimakasih, gadis cantik.

Post a Comment