Showing posts with label cerpen iseng. Show all posts
Showing posts with label cerpen iseng. Show all posts

Wednesday, 20 April 2011

Miris

Café Hot Tea ini sudah ramai pengunjung sejak sejam yang lalu karena hujan lebat yang belum juga berhenti. Anggi yang saat itu kedinginan di luar, membuka payungnya dan masuk ke dalam. Ia tersenyum melihat seorang lelaki yang baru dikenalnya tiga tahun ini tapi sudah akrab sekali dengan dirinya. Bagaikan kakak adik.

“Hai, Fan!”sapanya sambil mendekati meja Fandi.

Fandi menoleh. “Hai juga, Nggi.”

Anggi mengambil tempat duduk di depan Fandi. “Dingin banget di luar. Udah hujan, angin kencan lagi. Padahal tadi aku mau ke pantai. Brrr.”Anggi mengusap-usap telapak tangannya.

“Dingin ya? Ini, pakai jaketku.”Fandi membuka jaketnya dan menyodorkannya pada Anggi.

Anggi menerimanya dengan senang hati, lalu dipakainya jaket kulit cokelat itu. “Heh? Makasih ya. Hmm, hangat!”

“Sama-sama.”

Anggi merasakan sesuatu yang aneh. Wajah Fandi terlihat murung sekali. “Kok lesu gitu? Sakit? Ini, kamu aja deh yang pakai jaketnya. Aku jadi ngak enak.”Anggi mulai membuka jaketnya. Tapi tidak jadi karena Fandi mencegah.

“Eh, bukan. Aku nggak sakit kok.”

Seorang pelayan datang sambil membawakan daftar menu. Setelah Anggi memesan teh lemon panas, pelayan itu pergi. Anggi melihat cangkir Fandi yang sudah kosong. Sepertinya Fandi sudah lama berada disini.

“Jadi? Hmm, kamu lagi galau ya?”Anggi mulai membuka percakapan.

“Hm. Mungkin.”

Anggi teringat pacar Fandi. “Oh, ada masalah sama Reisa?”

Fandi menggeleng.“Tidak ada.”

Anggi mengernyit. “Lalu?”

“Aku mengingat Efraim.”katanya datar.

Mengerti perasaan Fandi, Anggi cepat-cepat minta maaf. “Oh, maaf. Aku tidak tahu.”

Fandi tersenyum sedikit. “Tidak apa-apa.”

Hening sesaat sebelum akhirnya Anggi bertanya hal yang konyol. “Hmm, Efraim itu, baik ya?”

“Lebih dari baik. Sahabat satu-satunya yang aku punya.”

Anggi mengingat pemakaman Efraim satu bulan yang lalu. Dan ia ingat mata Fandi yang sempat sembab saat Anggi ke rumahnya. “Kamu bisa cerita ke aku tentang Efraim kalau kamu mau.”

“Kamu tidak keberatan?”

Anggi tersenyum. “Tentu saja tidak. Silahkan.”

Fandi membiarkan pelayan menaruh lemon tea panas dihadapan Anggi sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku, kenal Efraim sejak lima belas tahun yang lalu.”

“Wow. Kalian tetanggaan?”Anggi meniup-niup teh panasnya.

“Ya, bisa dibilang begitu. Sejak itu kami selalu satu sekolah. Sampai sekarang.”mata Fandi menerawang ke jendela luar café. Masih hujan dan angin masih juga kencang.

“Oh, lalu? Apa kenangan yang paling berkesan darinya?”

“Hm, dia memberikanku kesempatan untuk mencintai orang yang paling dicintainya.”

Anggi membelalak. “Reisa?”

“Ya.”

Anggi baru tau. Lalu ia sembunyikan rasa terkejutnya. Ingin tahu, ia bertanya lebih dalam lagi. “Kenapa dia berikan Reisa padamu?”

“Menurutnya, aku orang terbaik untuk Reisa.”

Melihat wajah Fandi yang semakin murung, Anggi mencari-cari celah untuk menghibur Fandi. “Memangnya, dia kenal Reisa darimana?”

Melihat Anggi yang kepanasan karena tehnya, Fandi tersenyum. “Kami bersekolah di SMP yang sama. Lalu, kami bertiga jadi sahabat.”

“Hm, lalu, apakah kamu dengan begitu saja menerima tawarannya untuk mencintai Reisa?”Anggi mengambil bungkusan gula dan membukanya.

“Tentu saja tidak.”

“Bagaimana dengan Reisa?”

“Dia juga awalnya menolak.”

Sedih sekali, pikir Anggi. “Lalu kenapa kalian bisa pacaran?”Anggi mengaduk-aduk tehnya.

“Karena kami sudah berjanji.”

“Di depan Efraim?”

“Ya.”

“Disaat-saat terakhirnya?”

“Ya.”
Anggi terdiam lagi. Sungguh sulit untuk berada di posisi Fandi disaat detik terakhir sahabatnya pergi. Lalu sebuah pertanyaan muncul di benaknya.“Apakah kamu mencintai Reisa?”

Fandi diam. Lalu berpaling ke mata Anggi yang penuh rasa ingin tahu. Dan dengan tegas berkata “Tidak.” Lalu meminum tehnya yang sudah dingin.

“Bagaimana dengan Reisa?”

“Dia juga tidak bisa mencintaiku.”

Anggi jadi mengerti perasaan mereka. “Demi Efraim, kalian rela berpacaran tanpa saling mencintai dan bahagia.”

Fandi melihat ke luar jendela lagi. “Asal Efraim bahagia, itu sudah cukup membahagiakanku.”

Anggi mengaduk-ngaduk teh hangatnya. “Aku rasa, Efraim tidak bahagia.”

Fandi berpaling. “Kenapa?”

“Kamu bahagia jika melihat Efraim bahagia. Menurutku, Efraim juga akan bahagia jika melihat kamu bahagia. Dan orang yang dicintainya juga bahagia.”
“Tapi itu permintaannya.”pikiran Fandi pergi ke hari kematian sahabatnya lagi. Perasaan sedih dan kecewa datang lagi.

“Tapi kalian tidak bahagia. Terkurung dalam janji mati.”

Fandi menghembuskan nafas kecewa. Itu memang benar. “Lalu aku harus bagaimana?”

“Aku rasa, Efraim akan bahagia melihatmu bahagia dengan caramu sendiri. Hanya kamu yang tahu bagaimana caranya.”

“Bagaimana dengan Reisa?”

“Kamu tadi bilang dia tidak bahagia bersamamu.”

“Tapi aku nggak mungkin membiarkannya sendirian.”Fandi merasa bersalah.

Anggi mencoba meyakinkan. “Kalian tetap sahabatan kan?”

“Tapi…”

“Aku tidak menyuruh kamu tidak menepati janjimu. Tapi berpikirlah lebih jauh. Aku rasa Efraim sudah menyesal disana.”

“Kamu tidak tahu rasanya kehilangan.”

Anggi memegang tangan Fandi yang dingin dan menatap matanya. Berusaha menghiburnya, Anggi berkata, “Ya, aku memang tidak tahu. Tapi aku mengerti.”

Fandi melihat telapak tangan Anggi yang melingkari tangannya dan tersenyum. “Mungkin kamu benar.”

“Reisa masih mencintai Efraim bukan? Dimana-mana, kalau wanita dipaksakan mencintai orang lain, apalagi karena janji, dia pasti sakit hati. Pikir di kedua pihak, kamu dan Efraim. Kalian akan bahagia jika saling bahagia. Dia bahagia melihatmu bahagia dengan orang yang kamu cinta, dan pasti juga bahagia melihat Reisa tidak sakit karena harus terpaksa mencintai kamu. Biarkan Reisa terus mencintai Efraim.”Anggi tersenyum.

Mendengar perkataan Anggi, Fandi mulai berubah pikiran. Tiba-tiba saja Fandi menunduk.“Tapi sebenarnya ada masalah lain.”

Anggi melepaskan genggamannya. “Apa?”

“Aku mencintai orang yang salah.”

Anggi meminum tehnya. “Kenapa harus salah?”

“Dia sudah termiliki.”lirih Fandi.

Anggi melihat kekecewaan di mata Fandi. “Sayang sekali. Tapi mencintai seseorang tidak pernah salah. Kalau begitu tunggu saja.”

“Sampai kapan? Aku tidak mau punya harapan semu.”

“Kalau begitu, biarkan dia tahu kamu mencintainya.”

Fandi tersentak. “Untuk apa?”

“Memangnya mencintai harus memiliki?”

Fandi menggeleng lemah. “Aku nggak tahu.” Dia menunduk lagi.

“Mencintai nggak harus memiliki, Fan. Cukup mengungkapkan perasaan kamu dengan orang yang kamu cintai, sudah sedikit membahagiakan dirimu sendiri. Walau itu mungkin nggak akan mengubah apa-apa, tapi kelegaan tersendiri bisa jujur dengan diri sendiri dan dengan orang yang kamu cintai.”

“Lalu setelah itu aku harus bagaimana?”

Life must go on. Seperti kamu dan Efraim, kamu harus bahagia melihat orang yang kamu cintai bahagia.”

Fandi menoleh ke mata Anggi. Anggipun begitu. “Cinta itu butuh pengorbanan, Fan.”lanjut Anggi lagi.

Fandi tersenyum. “Sepertinya aku mencintai orang yang benar.”

“Loh, kenapa berubah pikiran?”Anggi bingung.

“Karena dia sudah lebih dulu mengubah pikiranku.”Fandi tersenyum penuh makna ke arah Anggi.

Anggi benar-benar tak mengerti dan penasaran. “Memangnya kamu mencintai siapa?”

“Hai, Anggi.”sesosok pria dengan sweater biru dan celana panjang hitam menghampirinya sambil tersenyum.

“Oh, hai sayang.”Anggi balas tersenyum lalu mempersilahkan pacarnya duduk di sebelahnya.

“Sudah lama menunggu?”Tanya Doni, pacar Anggi.

“Tidak juga. Untung ada Fandi disini.”

Doni tersenyum kea rah Fandi. “Makasih ya, Fan.”

“Sama-sama, Don.”

“Hmm, hujannya udah reda loh, Nggi.”lanjut Doni lagi.

Anggi lalu dengan cepat menghabiskan tehnya. “Oh iya. Aku sampai lupa waktu. Ya sudah. Fandi, aku pergi dulu ya. Jangan kelamaan disini loh. Tapi kalau mau melihat-lihat cewek cakep sih nggak apa-apa. Haha.”Anggi dan Doni berdiri.

Fandi ikut tertawa. “Anggi?”panggilnya lagi.

Anggi berhenti berjalan lalu menoleh ke arah Fandi “Ya?”

“Aku rasa kamu benar. Aku harus menunggu.”Fandi tersenyum.

Anggi tersenyum ramah. “Bye bye Fandi.”Anggi melambai ke arahnya.

“Mengangumi tanpa dicintai.”lirih Fandi melihat kepergian Anggi yang tersenyum dengan pacarnya Doni sambil berlari-lari kecil menuju mobil mereka.

Lalu Fandi mengambil handphonenya dan menekan sebuah nomor handphone.

“Reisa, aku rasa kamu lebih bahagia untuk terus mencintai Efraim. Bisakah kita menjadi sahabat saja? Aku sudah tahu aku mencintai siapa sekarang. ”lalu Fandi tersenyum melihat Anggi yang melambai ke arahnya sebelum masuk ke mobil.

Friday, 8 April 2011

Hari Jingga

Habis, sesak, tamat, menang. Tak goyah kau tumbangkan beribu tiang kokoh dalam batinku. Kau memelas sedih, memohon dan hampir bersujud untuk memintaku kembali ke sisinya. Peduli apa dia denganku? Lirik saja sedikit aku, dia langsung berpaling. Aku ini apa? Terbuang, tak guna, tak punya daya. Lalu sekarang kau kembali. Berkata kau akan meringankan semuanya.

“Aku janji. Asal kau mau bersamanya lagi. Aku janji, setelah kau tiada, aku akan meluruskan semuanya.”

Cih. Mengharap sekali kau?pikirku.

“Aku yang seharusnya meminta sesuatu sebelum aku pergi. Bukan kau.”kataku.

Dia mengambil nafas panjang. Memandangku lekat-lekat. Menggenggam telapak tangan kananku yang basah. Sekali lagi ia bernafas. “Kau, memang keras kepala.”

“Aku sudah tak tahan. Dia selalu memandangku kecil. Aku hanya tak ingin, berbagi semua yang aku panggil kenangan dengannya. Dia bukan siapa-siapa. Sayangnya, ia punya status sedarah denganku.”

Dia menunduk. Lemas, tak berkutik. Entah kata apa yang terlintasnya selain keras kepala. Ya, aku memang begini. Lalu kau mau apa?

“Permintaanku tak besar kan?”tanyanya lagi.

Aku mengangguk. “Bagaimana dengan permintaanku?”bantahku.

“Permintaanmu tak besar. Hanya berat. Bagiku, baginya. Apa kau yakin, kau tak akan menyesal ketika kau disana? Aku hanya ingin kau tenang.”

Kulepaskan genggamannya. Ku jauh. Aku mulai memandang lautan dengan burung-burung kecil, biru muda, dan awan putih di depanku. “Aku memang takut.”gusarku.

“Lalu, penuhi permintaanku.”katanya sambil ikut memandang bulatan besar bercahaya jingga.

“Aku ingin bahagia. Tapi bukan dengannya. Bukan dengan semua tindakannya. Bukan dengan semua kenangan kasar dan berduri.”kataku.

Dia tertunduk lagi. Aku tahu, diam-diam dia melirikku. “Seakan kau egois. Tapi kau tidak begitu.”katanya lagi.

“Bagaimana kau tahu? Bahkan aku sadar aku sekarang jadi iblis.”

Aku memandang bola mata hitam pekat dengan sentuhan rambut lurusnya yang agak panjang. Garis bibirnya melengkung. “Kau mencintaiku.”katanya.

Wajahku tetap datar. Nafasku tak terasa berat. Mulutku tetap rapat. Tapi jantungku menggebu. “Tidak.”jawabku.

“Bagaimana kau tahu?”tanyanya.

Sejujurnya aku tak punya jawaban. Aku tak tahu apa yang ia lihat dari korneaku. Tapi aku tak mencibir, bahkan tak berpaling. “Kau yang memaksaku agar aku menurutimu. Dan aku benci. Aku tak cinta kau lagi.”

“Kau tahu? Hidupmu sempurna, sayang.”dia tersenyum.

Aku diam. Merenung diantara sebuah demi sebuah angin yang berhembus dengan irama kendaraan yang mulai memenuhi jalan. Bising, gaduh, terlihat jenuh, dan terpaksa. Kotaku, malangku.

Aku kembali ke masanya. Masa dimana ia dengan mudahnya mengacungku. Seharusnya aku, aku yang dikasihani. Bukan dia. Bukan Romi. Tapi aku, Rima.

Terusikku oleh sorot matanya. Dia memelas lagi, dan aku benci. Jujur, aku tak mengerti. Kenapa harus ia? Kenapa bukan aku? Kenapa sayang dia? Kenapa tak sayang aku? Kenapa melihat ke dia? Kenapa tak ke aku?

“Rima…”lirihnya. “Sepertinya aku harus jadi kau.”katanya lagi.

Aku masih menunduk. Sesak ku datang lagi. Terasa sebuah denyut.

“Kenapa? Sakit?”tanyanya saat melihat aku meringis.

Aku menggeleng. “Kau mau bilang apa?”

Dia menenggok sirup manis dari botol. Tinggal sedikit lagi sebelum sirup tak tersisa. Baru aku sadar, ternyata sudah lama kami duduk di bangku ini. Matahari juga mulai sembunyi. Dan aku paling tidak suka saat-saat seperti ini. Mau gelap, dan sebentar lagi langit tak benyawa. Tak berwarna, tak biru.

“Aku sepertinya harus menjadi seorang kau.”

Lukaku berdenyut lagi. Sakit. Lumayan perih. “Memang kenapa?”tanyaku. Kali ini aku tak meringis.

Dia memandang lurus ke pinggir dimana air mulai surut. Lurus ke derai ombak yang mulai pelan. “Kau menderita.”katanya.

Iya, batinku. Tapi aku ingin terus begini. Ingin terus merasakan dan menikmati. Karena setelah ajalku, aku akan bahagia, disana. Bagaimanapun caranya, aku akan tetap hidup. Barlanjut disana. Dan disana, aku takkan sakit. Aku takkan perih.

Aku ingin terus begini. Disayangi, tanpa dikasihani. Karena itu adalah palsu dan buatan, jika Romi mengkasihani aku. Dan aku sebal, jika dia mulai seperti sosok begitu.

“Dia sama seperti kau. Bersakit-sakit dahulu, berenang-renang ketepian.”katanya.

“Tidak.”aku menggeleng lemah. “Dia sama sepertimu. Kuat, dan sangat kuat. Bukan aku.”bantahku.

Burung-burung mulai bersembunyi. Kembali ke rumahnya, dan tidur bersama anak-anaknya. Matahari mulai tenggelam, tak dapat di tolong. Sedih aku merasakannya. Hari berganti kelam.

“Maaf, sayang.”katanya.

Tak perlu. Sungguh, aku tak memerlukannya. Aku tak peduli. Aku hanya ingin bersendiri. Mungkin juga sendiri bersamamu. Tapi kau tak salah, kau tak dosa.

“Kau benar. Dia seharusnya mirip denganmu. Tapi ternyata, dia mendidikku untuk seperti dirinya. Tapi aku tidak kejam, tidak kasar, dan tidak suka bertentangan denganmu…”

Aku berusaha untuk tidak mendengar, atau berpura-pura mendengar alunan ombak yang memelan dan suara angin yang halus bagai melodi piano. Tapi tetap saja, aku terpacu untuk terus mendengar semua bisikannya. Bisikan tanpa irama tersayat atau terjepit. Datar, seakan dia tak sedang bercerita tentangku.

“Aku benar kan? Maksudku, aku tidak persis dengannya bukan? Harusnya kau yang sama sepertinya. Sosok yang kuat, teguh, pantang mundur. Mungkin aku yang salah karena telah membuatmu begitu tak percaya dengan apa yang ku sebut anugerah.”ceritanya lagi.

Anugerahku, adalah ajalku. Anugerahku, adalah pantaiku. Anugerahku, adalah kau. Untung kita tak sedarah. Bagaimana jadinya kalau kita seperti itu? Kau akan mirip dengannya, dan kita akan selalu perang. Tapi untung saja tak begitu.

“Jika kau jadi aku, kau tak akan sakit. Jika kau jadi aku, kau tak akan pedih. Jika…”

“Jika aku jadi kau, aku akan pergi. Jauh, melancong menuju bukit bunuh diri.”potongku cepat.

Romi menggeleng. “Jika kau jadi aku, kau tak akan melakukannya. Percayalah. Karena semua kasih sayangnya, hanya untukku. Bukan untukmu, sayang.”ia mencibir.

“Kau tahu itu. Lantas, kenapa kau masih mengatakannya? Aku memang tak ingin dikasihani. Tapi jagalah hatiku, untuk saat ini.”aku menunduk. Berharap bahwa dia benar-benar mengerti apa yang ku sebut saat ini.

Romi tersenyum sambil menghapus peluhnya. “Jangan salahkan aku. Kau yang ingin sakit, bukan aku. Jika aku menambah paku di dadamu, mungkin aku bisa sedikit membantumu, untuk bahagia. Sebelum kau pergi.”

Panas kupingku mendengarnya, tapi kucoba untuk mengubahnya jadi dingin. Dan berhasil. Aku meredam emosiku yang labil. Tapi dia tersenyum, itu yang buat aku tak tahan. Tapi dia benar, seratus persen benar.

“Dia membesarkanku penuh dengan kasih sayang, tawa, dan senyum. Ingatkah kau saat ia menggendongku dan ia meninggalkanmu menangis karena kau juga ingin seperti aku? Aku ingat. Dulu, waktu aku tak sengaja buat kau menangis karena aku dibela olehnya, aku mengurung diri dalam kamar dan menyalahkanku sendiri…”

Dia berhenti sejanak, tersenyum lagi melihat pipiku yang basah. “Apa sudah merasa lebih baik? Lebih sakit maksudku.”

Aku menghapus air mataku. “Kau begini untuk menghilangkan rasa sakitku. Membuatku untuk terus tertusuk paku oleh palumu, orang yang paling kusayang. Hingga aku berteriak, dan mengkoar kalau aku tak ingin seperti ini. Sakit begini. Iya kan?”

Dia menggeleng. “Bukan. Bukan itu. Kau tahu bagaimana rasanya sakit itu. Dan ini aku akan berbagi rasa sakitku juga. Aku tak tahan mengurungnya terus.”

Dia mengambil nafas panjang. Lalu lanjut berdongeng ria lagi. “Lalu saat masa SMA-ku tiba, aku bingung. Serasa buta karena aku tak mampu melihat cewek cantik dan menggoda. Tak ada gairah untuk bercinta. Sedikitpun tak ada. Kadang, aku merasa sedih juga, karena aku harus selalu menahan rasa cintaku padamu. Karena tekanan dirinya…”

Dia memandang ke arahku. “Dia bilang, jangan pernah ku kasihi kau. Kalau sampai begitu, dia takkan menganggapku ada.”

Benar kan? Dia benci aku. Aku mengangguk. Dadaku sesak lagi. Tapi kutahan. “Lanjutkan.”

Sekarang gelap. Benar-benar gelap. Hanya cahaya lampu pinggir jalan yang bersinar dan berakting seakan ia matahari. Orange, bukan jingga yang aku lihat. Menyinari malam pekat, gelap. Tanpa bintang, tanpa bulan. Tanpa awan, tanpa burung. Tapi ada angin. Walau melodi sudah berubah menjadi lebih dingin dan membeku. Seperti hatiku.

“Cintaku hanya untuk…”dia berhenti. Seperti sedang berpikir sesuatu, entah hal logika apa itu.

Lalu ia menatapku. Tapi aku mulai tak bisa melihatnya karena kelam mengancam mataku. Tapi aku bisa menatap senyuman itu. “Untuk seorang yang putus asa.”

Salah. Aku berjuang, selalu berjuang untuk terus merasa begini. Tenang, sendu, damai, dan senyum. Sakit, derita, dan pedih ku nikmati. Aku berjuang, sungguh.

“Walau kau tak ingin aku kasihi, dan dia juga tak ingin aku mengkasihimu, tapi dari hati yang paling dalam, aku selalu begitu. Tidakkah kau melihat tatapan iba dariku saat ia mengacuhkanmu? Benar. Aku selalu bersembunyi di balik pintu dan menangis. Kau tak pernah tahu itu.”

Aku mendongak ke langit. Benar-benar pekat, seperti hatiku. Ku cium aroma hujan akan datang. Aku merasakan sesuatu yang aneh akan terjadi, entah apa itu. Yang jelas aku takut.

“Aku terus mencintaimu. Setiap detik, denyut, dan kedipan mataku. Setiap hembusan nafas, tawa, tangis, gerakan jemari dan anggukan kepala. Tak peduli apa katanya. Aku terus dan terus tak pernah berhenti merasakannya. Kamu, engkau, anda, Rima.”

Kini tanganku digenggam lagi. Aku tak berani menoleh kearahnya. Aku takut air mataku mencuat keluar.

“Dan aku sudah mengatakannya, aku sudah menunjukkannya, aku sudah melakukan semuanya. Aku dulu berharap, kau berubah. Untukku, bukan untuk siapapun. Demiku, demi ibu. Aku ingin kau berubah. Diam, tersenyum, ceria, apapun itu. Tapi ternyata tidak. Kau sama sepertinya. Kau sama kuatnya, dan teguh bagai batu yang terus disambar ombak dan panasnya terik matahari. Kuat, tak goyah. Dan aku menyerah…”

“Dan kali ini, aku mohon. Bukan hanya kau yang akan pergi. Tapi dia juga. Setiap saat ia menyebut namamu, berharap kau disampingnya. Ia benar-benar menyesal, Rima. Sungguh, kali ini aku tak sedang berdusta.”

Ia menunduk. Aku tak tahu, tapi suaranya terdengar samar dan terisak. “Tolong, Rima. Walau dia lebih menyayangi aku daripada kau, tapi sesungguhnya dia tak begitu. Walau ia membenci kau karena ibu telah tiada, sungguh dia sebenarnya benci dengan dirinya sendiri. Setiap detik, dia selalu melihat ibu dimatamu. Melihat ibu di gerak-gerikmu. Dan dia melampiaskan semuanya kepadamu, tanpa sengaja, karena ia membenci dirinya sendiri…”

Kali ini kami berdua sama-sama menangis. Aku tak bisa berkata apa-apa. Kini aku kecut.

“Jantungnya mulai lemah, Rima. Tolong. Beri ia kesempatan untuk meminta maaf kepadamu. Dia ayah kandungmu, Rima. Apa kau tidak mau berada disampingnya saat-saat ia seperti ini? Sedangkan aku yang bukan anak kandungnya, bersimpuh di depanmu, memohon agar kau kembali ke pelukannya sekarang. Hanya untuk saat ini saja, Rima…”

Romi diam tak bergerak merasakan tubuhku yang mulai gemetar. Aku hilang kendali. Mataku buram, semuanya tak jelas. Tubuhku tiba-tiba saja melemah. Kurasakan tetesan darah keluar dari rongga hidungku.

“Rima! Tolong, Rima! Bertahan!”

Sesak, gemetar, berdebar. Ku lihat gelapnya malam berubah menjadi putih terang dan aku tak tahu aku dimana. Terang, terang sekali. Ia semakin dekat hingga semua kelam pudar. Tak ada suara penghuni jalanan, ombak, dan angin yang mengadu. Tak ada tatapan sayang dan kasih itu. Tak ada sosoknya lagi.

Tapi aku masih berdetak. Sekali lagi, mungkin ini saatnya. “Sampaikan salamku untuk ayah, Romi. Jaga ia baik-baik. Aku mencintaimu.”

Tak terdengar suara. Hening. Aku terus berjalan ke ruang penuh dengan cahaya putih nan indah itu. Sepi, tak ada orang. Sunyi, tak ada bunyi.

Hingga akhirnya ku melihat dua sosok orang yang ku kenal dari dulu. Kerut itu, senyum itu, dan kulit itu. Ibu dan ayah.

Aku benar, kini aku tak merasa sakit lagi. Hanya senyum bahagia dan pipi yang merona karena pelukan mereka berdua. Aku tak percaya. Seorang yang harusnya ku benci menggenggam erat tanganku penuh cinta. Menatapku penuh bangga.

Kini kutemukan anugerahku. Kini kutemukan sosok ayah yang benar-benar aku inginkan, yang benar-benar aku cintai. Yang belum pernah ku temui di dunia.

“Maafkan ayah. Ternyata tadi ayah sudah lebih dulu pergi ke sini. Ayah kira, ayah tidak bisa meminta maaf padamu. Tapi Tuhan mempertemukan kita disini. Bahagia lagi.”

Aku tersenyum lalu memeluk ayahku hangat. Bahagia sekali rasanya memafkan dan dimaafkan. Bahagia sekali rasanya dicintai oleh orangtuamu sendiri. Lalu pandanganku menerka-nerka apa yang terjadi pada Romi kini, kakak terbaikku.

Tapi pastinya ia sedang tersenyum. Mendongak ke langit dan melambaikan tangan ke arahku. Pasti akan kurindukan sosok pahlawanku itu. Kakak yang hampir berhasil memecahkan tembaga di relung hatiku. Kakak yang hampir berhasil membuatku hanyut dan melakukan keinginannya. Untuk berada di samping ayahku disaat hari-hari terakhirnya.

DiPemakaman.

Tepat diantara batu nisan Guntoro Datri dan Riana Datri, terbaring Rami Putri dengan tanah yang masih baru, sama dengan kuburan ayahnya. Tak Romi kira setelah Rami pergi dari pelukannya dan tak bernafas, papanya juga ikut naik keatas.

Guntoro Datri, adalah sosok laki-laki tua yang selalu tersenyum dan membahagiakan Romi sejak Romi diambil dari jalanan dan sampai sekarang. Romi selalu menjadi pusat perhatian dan pusat kebahagiaan Guntoro. Selain Romi, Guntoro sebenarnya mempunyai anak perempuan kandung, yang diberi nama Rami Putri. Sayangnya, tepat setelah kelahiran Rami, orang yang paling disayangi Guntoro, Riana Datri, pergi meninggalkannya karena dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sejak itu, Guntoro tidak pernah menerima Rami sebagai anak kandungnya. Ia malah menganggap Romi sebagai anak sedarah yang ia punya.

Tekanan batin yang dialami Rami sangat besar. Merasa tak adil, itulah yang dirasakannya. Diacuhkan dan tidak pernah dielu-elukan oleh ayahnya sendiri. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa ia akan pergi dari dunia ini karena penyakit kanker paru-parunya yang tak bisa diselamatkan lagi. Rami bahagia, karena ia pikir ia takkan merasa sakit karena perlakuan ayahnya lagi setelah ajal menjemputnya. Ayah yang tak pernah memperhatikan Rami walau Rami mengidap kanker. Tapi Rami tak pernah tahu, bahwa ayahnya juga sakit sepertinya. Jantung ayahnya melemah sejak sepuluh tahun yang lalu.

Kini Romi bersimpuh diantara kuburan ayah tirinya dan adik yang sangat dicintainya. Bukan menangis, Romi malah tersenyum tabah dan ikhlas.

“Bagaimana disana, Rami? Kau tidak sakit lagi kan? Aku juga senang mendengarnya. Ayah, apa sudah minta maaf kepada Rami? Kuharap begitu, Yah. Aku tahu sebenarnya ayah dari dulu ingin melakukannya.”

Romi tersenyum. Ia mendongak ke langit jingga bercampur biru teduh di atas. Tersenyum kepada adik dan ayahnya. Tersenyum bahagia sekali.

Thursday, 7 April 2011

When Those Girls Meet

Beberapa anak cewek dengan seragam olahraga yang belum mereka ganti, duduk di bangku berbentuk lingkaran di bawah pohon dekat kelas mereka.

“Liat tuh.”Ratih menunjuk sepasang adam dan hawa yang sedang tertawa ria.

“Kenapa dia?”tanya Gani.

“Itu, berduaan gitu di pinggir lapangan. Dia kira oke apa?”lanjut Ratih lagi.

“Disampingnya siapa sih?”tanya Sasa.

“Juno kayaknya. Eh, iya bener.”Fera mengangguk.

“Juno itu pernah nembak lo bukan?”tanya Ratih lagi.

“Iya. Tapi gue tolak.”jawab Hani.

“Gila ya. Rendah banget seleranya.”

“Maksud lo gue rendahan gitu?”nada Hani meninggi.

“Gue sih nggak maksud rendahan itu elo. Tapi kalo ngerasa ya udah.”tukas Ratih cuek.

“Eh, mau kemana?”Fera menahan Hani yang beranjak dari tempat duduknya.

“Pergi. Gue kan orang rendahan.”Hani melirik Ratih.

“Yah, gitu doang marah.”lirih Ratih setelah Hani pergi jauh.

“Abis lo keterlaluan juga.”Dea berbicara.

“Keterlaluan gimana? Jelas-jelas selera Juno tuh emang rendah. Selain dia, banyak kan yang lai. Cindy, Dede, Dian, dan lain-lain. Menurut gue sih mereka kampungan semua.”Ratih mengibaskan rambut panjangnya.

Gani dan yang lain saling tatap menatap. “Tapi Hani kan sahabat kita. Masa lo gituin dia?”Gani berbicara.

“Gue lebih milih ngomong jujur dari pada diem dan dalam hati nggak terima. Dan akhirnya ntar gue ngomong dibelakang.”

“Terserah deh.”potong Gani lagi. Ia mulai tidak suka dengan Ratih kali ini.

“Ratih, kamu lagi pegang hape ya?”

Ratih yang sedari tadi menggenggam handphone terkejut. “Eh, Pak Budi. Engg… iya pak. Tapi hapenya bukan punya saya pak. Ini punya Sasa.”Ratih menunjuk Sasa.

“Sasa, ini hape kamu?”

Sasa ketakutan. “Eh, hmm.. iya pak. Tapi tolong jangan disita dong pak.”

“Hape kamu ini berkamera. Dan sangsi bagi orang yang membawa hape berkamera adalah hapenya ditahan. Minggu depan bawa oran tua kamu ke sekolah.”Pak Budi lalu berlalu sambil mengantongi hape Sasa.

“Ratih! Sialan banget sih lo! Gue kan bilang jangan mainin hape kalau ada guru!!!”

“Gue kan gak liat Pak Budi. Dia di belakang gue tadi. Nyantai aja kenapa?”jawab Ratih cuek sambil menatap Sasa sinis.

Sasa kehilangan kesabaran. “Tapi itu hape gue!! Disita seminggu pula! Gimana dong?!”

“Ya udah. Lo lapor aja dulu sama nyokap lo. Lagian, hape lo kan ada dua.”Gani mencoba menenangkan Sasa.

“Tapi satu lagi tuh nggak ada kameranya! Ah, bete gue sama lo, Tih!”kali ini Sasa benar-benar kehilangan kesabaran.

“Yee, lo aja tuh, masalah kecil gini doang diperpanjang.”Ratih tak mau kalah.

“Eh, mau kemana lo?”tanya Dea.

“Cabut!”jawab Sasa ketus.

“Ikut deh.”lanjut Dea lagi.

“Ih! Dasar kacung. Mau aja ikut kemana-mana.”lanjut Ratih lagi sambil melihat kepergian Dea dan Sasa.

“Mereka kan sahabatan Tih, wajar dong.”ujar Fera.

“Jadi sahabat tuh jangan bego-bego amat. Eh, banyak banget lo pakek gelang? Mau jualan?”

“Eh, ini namanya siliband tau!”bantah Fera.

“Silly? Sama dong kayak yang make.”

“Maksud lo gue bodoh?”Fera kesal.

“Lo kenapa sih Tih?! Kok jahat banget lo hari ini? biasanya juga mulut lo diem doang. Kok lo jadi gini sih?”Gani berbicara lagi.

“Lo pengen gue diem?”

“Bukan gitu. Tapi biasanya juga lo nggak kayak gini tau. Lo kenapa sih?”tanya Gani lagi.

“Nggak kenapa-napa. Pengen jujur aja.”

“Jujur?! Itu namanya bikin orang sakit hati! Cabut ah. Gerah gue disini.”lanjut Fera.

“Gue juga ngerasa gerah. Yuk!”

Senyap. Semua pergi meninggalkan Ratih yang tertawa sendiri.

“Oh. Jadi gini rasanya jadi jahat? Nggak enak ah. Nggak asik kalau endingnya gue nggak ada temen. Minta maaf aja kali ya.” Ratih tersenyum sambil mengejar teman-temannya.

Di kantin Ratih melihat gerombolan teman-temannya sedang mengobrol di meja sudut. Lalu ia menghampirinya.

“Ngapain lo kesini?!”Sasa naik darah.

“Gue mau minta maaf.”

“Minta maaf?! Gampang ya! Lo sujud dulu depan Pak Budi, minta agar dia kembaliin hape gue, baru gue maafin lo.”Sasa ketus.

Ratih kesal. “Sumpah demi apa gue nggak bakal mau sujud hanya demi hape lo!”

“Denger ya Ratih, walau baru hari ini lo kayak gini ke kita, tapi kita nggak suka! Lo udah ngerendahin Hani, lo udah buat hape Sasa ditahan, lo udah menghina siliband Fera. Maksud lo apa? Lo kora lo sempurna hah?!”kali ini Gani yang geram.

“Maksud gue nggak kayak gitu. Gue Cuma coba untuk jadi orang jahat aja tadi. Walaupun gue sengaja, tapi sekarang gue minta maaf. Ternyata nggak enak jadi orang jahat.”Ratih memelas.

“Ah, bullshit lo! Belagu amat sih lo? Kalau gue tau lo kayak gini dari dulu, gue nggak akan mau berteman sama lo!”Hani memukul meja agak kuat hingga beberapa pasang mata mengarah ke meja mereka.

“Iya. Amit-amit deh lo! Ke laut aja sana lo!”tukas Fera.

Ratih menyerah. Ternyata ini hasilnya? Ini endingnya? Ini rasanya menjadi orang jahat? Walaupun dari kemarin Ratih bersikap baik pada mereka, tidak pernah ngomong kasar, dan selalu ramah, bahkan selalu membantu mereka jika ada kesusahan, tapi mereka tidak mau mengingat kebaikan-kebaikan Ratih. Yang mereka lihat dari Ratih adalah kesalahan yang dibuat Ratih hari ini. Kesalahan yang baru kali ini diperbuat Ratih.

Walaupun menurut Ratih kejahatannya itu masih belum seberapa dengan kebaikan-kebaikannya pada mereka, tetap saja mereka menganggap Ratih sebagai musuh mereka sekarang. Dan sebesar apapun permohonan maaf Ratih, rasanya pasti tidak mungkin mereka maafkan. Tapi kali ini Ratih ingin membuat sesuatu yang berbeda. Yang selama ini ingin ia lakukan.

“Oke. Gue jahat untuk kalian. Tapi gue baru jahat sama kalian hari ini aja. Hani, gue minta maaf. Gue emang sengaja ngerendahin lo. Sasa, tadi gue nggak sengaja dan benar-benar nggak sengaja nunjukin hape lo di depan Pak Budi. Kalau lo pengen gue bertanggung jawab, oke, gue akan bertanggung jawab untuk sujud depan Pak Budi agar dia ngembaliin hape lo. Dan Fera, gue juga sengaja ngomong itu ke elo. Itu karena gue pengen ngerasain bagaimana jadi orang yang jahat. Dari dulu, gue selalu baik sama kalian. Gue selalu nolong kalian, dan gue selalu ada setiap gue butuhin. Gue benar-benar nganggep kalian sahabat. Tapi dimata gue, kalian sama sekali nggak ngehargain gue…”

“Buat lo, Han. Gue selalu buatin lo pr. Tapi lo nggak pernah mau ngasih tau ke gue kalau misalnya lo tau jawaban dari pr yang gue nggak ngerti. Sasa dan Dea. Kalian itu emang sahabatan. Gue selalu ada disaat kalian butuh gue, apapun masalah kalian. Tapi disaat kita lagi bertiga, kalian selalu nyuekin gue. Terus Gani dan Fera. Menurut gue, lo emang baik banget Gan. Lo pengertian. Tapi lo licik. Lo selalu jatuhin nama gue di depan guru. Dan menurut gue Fer, lo nggak pernah mau dengerin apa kata orang yang sebenarnya adalah kritikan buat penampilan lo. Lo selalu menganggap orang yang dibawah lo itu orang nggak penting…”

Ratih menarik nafas dan tersenyum. “Dan hari ini, gue baru tau kalau bukan gue aja yang jahat. Tapi bagi gue, kalian tetap sahabat gue.”

Lalu Ratih pergi dari hadapan mereka dengan senyum penuh kepuasan. Baru kali itu ia merasa bebas karena bisa menjelaskan apa yang ia rasakan selama ini.

Sunday, 27 March 2011

One Night Before Nime Sleeping

Nime tak menyangka siapa yang sedang berdiri di depan rumahnya sambil memegang setangkai bunga dan sebuah bungkusan cokelat M&M. Yang benar saja. Tapi Nime tak menunjukkan keterkejutannya itu. Ia hanya berdiri di depan pintu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memandangnya dengan tatapan sinis, dan berkata, “Ada perlu apa kemari?”

Lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih dengan kemeja putih dan celana kain hitam kebiruan itu tersenyum. “Meminta maaf.”katanya polos.

“Percuma. Aku sibuk, bisa kembali lain waktu?”tanya Nime sambil bersiap menutup pintu rumahnya. Tapi terhenti karena ditahan oleh Ken.

“Maaaaaf!”kata Ken panjang.

Nime berpura-pura tak peduli. “Aku s-i-b-u-k.”katanya sambil mengeja kata tersebut tanpa tersenyum sedikitpun.

Kali ini Ken benar-benar menyerah. “Setidaknya kau mau menerima apa yang sudah kubawa untukmu.”katanya sambil menyodorkan bunga dan cokelat M&M.

Nime melihat sejenak dengan tatapan tidak menginginkannya. “Terimakasih. Selamat malam.”katanya sambil menutup pintu.

Klik. Terkunci sudah pintu rumahnya. Tapi Nime tidak benar-benar meninggalkan pintu rumahnya. Ia mendengar Ken berteriak sesuatu. “Maaf kan aku mantan tersayang, Nime Teraya Asih!”

Nime tak peduli. Bahkan sampai saat mamanya bertanya siapa yang datang, Nime hanya mengangkat bahu. “Mungkin tukang sampah.”katanya sambil berlalu ke bilik kamarnya.

Dan di dalam kamarnya Nime masih bisa mendengar ucapan maaf dan beribu kali maaf dari Ken. Walaupun seulas senyum tersungging di bibirnya, Nime merasa hal itu pantas didapatkan untuk seseorang seperti Ken. Seseorang yang rela meninggalkannya berabad-abad tanpa pesan dan kesan bahwa ia akan meninggalkan Nime untuk waktu tiga bulan hanya untuk belajar (sungguh-sungguh belajar) dan bersiap-siap masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Belajar dan mengesampingkan perasaan Nime yang saat itu masih menjabat sebagai pacarnya (baca: PACAR). Sampai akhirnya Nime mengirimkan sebuah pesan bertuliskan ‘selamat tinggal dan terimakasih.’ pada Ken.

Dan sekarang lelaki itu datang dengan membawa bunga dan sebuah bungkusan M&M dan berharap Nime akan kembali padanya? Berharap bahwa Nime akan bersedia diacuhkan demi tumpukan buku-buku tebal dan deretan rumus-rumus logaritma, trigonometri, dan apalah itu? Berharap bahwa Nime akan bersedia memaafkannya karena tindakannya yang sangat-sangat tidak menghargai wanita itu?

Satu kata. Apa perlu Nime mengejakannya? Te-i-de-a-ka. TIDAK! Dengan caps lock, ditambah dengan tanda seru dibelakangnya. Apa belum cukup menggambarkan bahwa Nime memang sungguh-sungguh mengucapkannya? Khusus untuk Ken.

“Nime, temanmu yang satu itu benar-benar menggangguku!”kata Frans, adik Nime sambil menunjukkan buku cetak Geografi dihadapan Nime.

“Usir saja dia.”tukas Nime sambil melanjutkan membaca novelnya dengan headset ditelinganya.

“Sudah! Dan katanya ia akan pergi setelah kau menemuinya dan berkata ‘aku memaafkanmu’. Asal kau tahu, Ia tadi meneriakkan kalimat yang sangat membuat ibu tertawa terbahak-bahak.”

“Memang apa yang ia ucapkan?”Nime penasaran.

Frans berlutut dihadapan Nime sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. “Ibuuu, Nime tidak mau memaafkanku. Aku harus bagaimana ibuuu? Hiks. Sampaikan ucapan pertolonganku pada ibuku, Tuhan!”

Aku tertawa geli melihat ekspresi Frans yang terlalu berlebihan meniru gaya Ken. “Oke. Lanjutkan belajarmu. Aku akan keluar dan mengusirnya.”

Frans berdiri dan mengangkat bahu. “Well, sebenarnya dia tampan Nime. Hanya kau yang terlalu bodoh atau terlalu pintar untuk menyia-nyiakan cowok manja sepertinya? Ah. Dasar orang dewasa.”katanya sambil berlalu. Frans memang kadang-kadang begitu polos. Dan kadang-kadang juga terlalu pintar hingga kadang-kadang bisa membodoh-bodohi Nime dengan ilmu pengetahuannya yang konyol. Padahal Frans masih berada di level 4 di sekolah dasar.

Nime keluar, membuka kunci pintu dan menatap Ken dengan garang. Walau Ken membalas ekspresinya dengan senyuman sumrigah. “Baik. Aku tidak mau mengulanginya lagi. Kuharap kau pergi.”

Ken menggeleng cepat. “Tidak sampai kau mengatakan ‘aku mencintaimu, Ken’”kata ken sambil tersenyum.

“Mimpimu terlalu tinggi. Lebih baik kau pulang dan membuka bukumu.”

Ken mendesah. “Maaf, Nime. Aku tahu, aku memang tipe cowok yang tidak bisa menghargai wanita. Aku terlalu bersemangat belajar dan terlalu bodoh untuk melupakanmu. Apalagi setelah aku tidak berhasil masuk ke UNPAD.”kata Ken dengan wajahnya yang sangat mengundang simpati orang. “Tapi aku tidak benar-benar melupakanmu, sungguh.”

Really? Ken sudah menghabiskan waktu satu bulan untuk belajar dan melupakan Nimebahkan pergi jauh dari orang tuanya ke Bandung dan hasilnya zero? Mustahil. Nime kasihan juga dengannya. “Apa setelah aku menerima bunga itu dan cokelatmu kau akan pergi?”akhirnya Nime memutuskan.

Ken menatap Nime jahil. “Belum. Kau masih belum ikhlas memaafkanku.”kata Ken sambil meletakkan bunga dan cokelatnya di atas meja keci di teras Nime.

Nime menghembuskan nafas panjang. “Sudah kuduga.”

“Ayolah, Nime. Apa kau tidak lihat pakaianku malam ini? Bahkan aku menyewa mobil. Dan kau juga tidak bisa memaafkanku?”

“Apa kau tidak pernah memikirkan diposisiku, hah?!”kini Nime emosi.

“Tentu saja, Nime. Aku memikirkannya setiap malam disana. Tapi tahu kan, aku kesusahan disana. Bisa dibilang aku jadi miskin, sangat miskin hingga tidak bisa membeli pulsa dan menelponmu. Awalnya, kupikir kegagalan dalam masalah keuangan merupakan awal yang baik untuk masuk ke UNPAD. Tapi, aku gagal dalam tes itu. Dan aku tahu, hal yang paling bodoh di dunia ini adalah menyia-nyiakanmu. Mungkin aku kualat.”

Nime berpikir sejenak. Lalu dia tersadar akan sesuatu. Bodohnya aku, bisiknya dalam hati. “Kalau kau tidak gagal dalam tes itu, tentu kau tidak akan kemari kan? Meminta maaf padaku dengan bunga, cokelat, menyewa mobil dan setelan kemeja dan celana kain? Bodoh.” Nime berbalik badan hendak masuk ke dalam rumah. Tapi pergelangan tangannya tertahan dengan cengkraman tangan Ken.

Ken menatap Nime dengan tatapan lembut lalu menarik tubuh Nime ke pelukannya dan menyentuh bibir Nime dengan bibirnya selama empat detik sebelum Nime akhirnya sadar dan berteriak, “Apa yang kau lakukan?!”

Ken tersenyum. “Kau masih mencintaiku, Nime. Aku tahu.”

Nime melotot. Dan baru kali itu ia sadar, ia masih mencintai Ken, entah kenapa. Sampai akhirnya Ken menciumnya untuk kedua kali. Kali ini lebih lama. Dan dugaan Ken benar. Dengan ciuman itu Ken bisa merasakan bahwa Nime masih mencintainya.

Ken tersenyum setelah melepaskan bibirnya dari bibir Nime. Ia lalu memeluk Nime dengan hangat. Ia tidak tahu bahwa sepertinya, caranya dengan mencium Nime dan memeluknya adalah cara yang ampuh untuk meredam sifat dingin Nime padanya.

Nime merasakan bahunya ditepuk oleh seorang malaikat yang menyadarkannya. “Aku belum memaafkanmu.”kata Nime sambil melepaskan pelukan Ken.

Kali ini Ken kecewa lagi. Ken menatap Nime dengan dalam. “Satu malam untuk satu kesempatan untukku. Dan kau tidak harus memaafkanku. Aku hanya harus terus berusaha agar kau memaafkanku. Malam ini saja, aku mohon…”katanya sambil berlutut dihadapan Nime. “Aku mohon padamu, Nime.”

Nime tak tega juga. Lagi pula malam semakin dingin, dan ia tak ingin membeku sambil terus mendengarkan kata maaf dari mulut Ken. Lagipula, Nime masih memikirkan kata-kata adiknya. Kasihan juga jika waktu belajar Frans diganggu oleh cowok sialan ini. Lagipula, apa kata tetangga nanti? Nime melihat jam tangannya. Masih pukul 19.07. “Baiklah, Ken. Satu malam saja.”

Ken jingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan cokelat dari hasil pertukaran kertas-kertas kecil kecil bertuliskan Time Zone 2000 ke kasir. “Kau memang baik, sayang!”katanya sambil memeluk Nime lagi. “Oke. Kau perlu ganti baju? Aku akan menunggu.”

Nime melihat pakaiannya. Masih dengan headset di telinga tanpa musik, memegang novel, kaos polos berwarna putih dengan kerah hijau bertuliskan Nike di atas kiri bajunya, dan celana jins selutut. Lalu Nime berpikir, dengan pakaian seperti ini, Ken tak mungkin membawanya ketempat-tempat yang romantis. Mengingat sekarang Ken sedang berpakaian ala om-om yang sedang membawa istrinya ke restoran mahal ala Perancis. “Tunggu sebentar.”kata Nime sebelum akhirnya ia kembali pada Ken tanpa perubahan. Kecuali kardigan biru yang dipakainya. Dan Ken tersenyum lega ketika Nime membawa masuk bunga dan cokelat darinya.

“Well, kau memang selalu terlihat manis.”kata Ken sambil tersenyum.

Ken menyodorkan tangannya. Berharap Nime akan menenteng lengannya. Tapi Nime sama sekali tidak peduli. “Ayo cepat.”kata Nime sambil berlalu ke mobil sewaan Ken.

Ken mendesah lagi. “Dasar wanita, sok jual mahal.”bisiknya pelan. Untungnya Nime tidak mendengarnya. Kalau tidak, habis sudah Ken. Jangan harap Nime tidak akan mencabut keputusannya.

Ken menyetir mobilnya dengan senyum yang masih mengembang. Ia tahu benar kalau rencananya malam ini akan berjalan lancar. Walau tidak begitu lancar untuk permulaannya karena Ken harus melupakan harga dirinya di depan ibu Nime dan adiknya Frans. Tapi setidaknya ia berhasil mengajak Nime keluar dari kamar Nime.

“Aku mau dibawa kemana?”akhirnya Nime bertanya.

“Mau tau saja. Yang jelas, kau tidak akan menyesal ke sana. Bahkan kau akan terpesona karenanya.”kata Ken sambil tersenyum, lagi.

Nime hanya mengangkat bahu sambil berpura-pura tidak penasaran. Untungnya ia masih membawa novelnya dan headset masih melekat ditelinganya. Ia lalu melanjutkan novelnya yang masih setengah perjalanan menuju halaman terakhir dengan lantunan lagu Everytime and Everynights dari Pee Wee Gaskin.

Untuk beberapa kali Ken memanggil nama Nime sebelum akhirnya Ken menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan rem mendadak dan Nime bertanya dengan tatapan tanpa arti, “Kenapa?”

“Tidak sopan, tahu! Dari tadi aku ngomong ngidul sana sini tentang pengalamanku sebelum dan sesudah mendaftar di UNPAD, dan kau hanya membaca novelmu.”katanya sambil melanjutkan menyetir lagi.

Nime mengangkat bahu. “Sepertinya aku lebih tertarik membaca novel.”kata Nime dengan nada dingin.

Ken geleng-geleng kepala. “Sampai kapan kau akan berubah menjadi cewek ramah dan manja seperti dulu Nime? Saat kau SMP dan aku masih kelas dua SMA. Aku benar-benar kangen Nime yang dulu. Kau sungguh menggemaskan. Tidak seperti sekarang. Sekarang kau begitu dingin, terlihat angkuh dan sombong. Padahal aku yakin, kau orang yang baik sekali.”

“Aku nyaman dengan diriku yang sekarang. Jangan memintaku untuk mengubahnya, aku tidak suka.”kata Nime tenpa menoleh pada Ken.

Ken terlihat kecewa. Sesuatu yang baru dikatakannya barusan adalah sesuatu yang benar-benar ia rindukan. Nime yang dulu, yang imut, bersahaja, ceria. Tidak seperti sekarang yang dingin, galak, sombong, angkuh, dan pendiam. Perubahan Nime dirasakan Ken setelah ayah Nime meninggal dua tahun yang lalu. Dan Nime sangat terpukul karenanya.

Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang tinggi sekali. Sebuah papan bertuliskan Gerardi Resto terpampang di depan gedung tersebut.

“Aku tidak lapar.”kata Nime yang masih belum bisa memalingkan wajahnya dari novelnya.

Ken geram. Ia lalu mengambil novel Nime dan menyembunyikannya di tempat bagasi kecil dekat kursi Nime. “Kau harus belajar sopan santun, Nime.”

Nime sepertinya tidak peduli. Ia memang terbiasa dengan Ken yang sangat mengutamakan kesopanan dalam hidupnya yang jelas berbeda sekali dengan Nime. Nime yang cuek dan tidak peduli dengan pemikiran orang sekitar jika ia meludah sembarangan atau terus mendengarkan musik saat berada di dalam ruangan dan seseorang berpidato di panggung. Tapi ia membiarkan bukunya tersimpan dibalik bagasi kecil itu. Nime lalu mengambil handphonenya dan memilih lagu bagus. Sambil mendengarkan lagu You belong With Me dari Taylor swift, ia memainkan kepalanya dan memukul-mukul pahanya.

Ken menggeram lagi. Nime memang gadis yang pintar untuk menemukan bagaimana caranya agar Ken cepat marah karena dicuekin.

Ken keluar dari mobil. Ia membuka pintu mobil Nime dan nihil. Nime tidak mau keluar dari dalam sana. “Aku bilang aku tidak lapar.”kata Nime sambil menatap Ken garang.

“Tapi kau belum makan, Nime. Aku sudah tanya Frans tadi. Lagipula, kita tidak makan di dalam restaurant itu. Akan kutunjukkan tempatnya. Yang jelas, jauh dari keramaian.”

Nime melihat bola mata Ken yang berwarna hitam pekat untuk memastikan keseriusannya. Dan ternyata Ken memang serius. “Hmm. Oke.”kata Nime sambil keluar dari dalam mobil Jazz putih susu sewaan Ken. Lagipula, Nime juga bosan berada di dalam mobil terus.

Ken tersenyum senang lalu berusaha menggandeng erat tangan Nime. Walau Nime sudah berulang kali mencoba menghilangkan genggaman Ken, tapi Ken terus saja menggenggamnya. Hingga mereka masuk kedalam lift dan Ken memencet tombol berisi dua angka yang menunjukan lantai teratas dari gedung itu, akhirnya Nime berhasil meraih tangannya kembali. Untuk menjaga tangan kanannya itu, ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kenapa? Dingin ya?”tanya Ken.

Sepertinya Ken tidak menyadari bahwa sedari tadi Nime berusaha agar tidak disentuh olehnya. “Lumayan.”kata Nime.

“Sayang. Aku lupa bawa jaket.”lanjut Ken. “Tapi kau kan sudah pakai jaket?”

“Kardigan. Ini namanya kardigan. Bahannya tipis, jadi nggak terlalu hangat.”

Akhirnya lift sampai juga ke bagian teratas gedung itu. Tidak ada orang disana. Hanya beberapa rangkaian bunga yang tersusun rapi dan sebuah meja makan berdiri sendiri disana. Anehnya Nime melihat sebuah infocus di samping meja makan.

“Gimana?”tanya Ken berharap Nime akan mengatakan sesuatu yang baik untuknya.

Nime berjalan ke meja makan. “Cukup mengesankan.”katanya sambil memandangi langit yang cerah dan bertaburan bintang malam itu.

Ken tersenyum. “Baguslah. Sekarang lihat ini.” Ia menyalakan infocus. Dan terpancar gambar supermoon yang cukup besar dilangit.

Kali ini Ken berhasil membuat Nime terpana. “Wow.”hanya itu yang diucapkan Nime setelah melihat begitu besarnya bulan yang ia lihat sekarang. Walaupun tidak nyata, tapi terlihat seakan bulan itu benar-benar ada. Nime benar-benar terpana.

“Hari ini hari Jumat, Nime. Sayangnya tidak ada bulan. Jadi ku beri saja kau gambarnya. Cantik bukan?”tanya Ken. Ia ingat bahwa Nime sangat menyukai bulan purnama di hari Jumat malam, tepat di hari kelahirannya yang kebetulan juga ada bulan purnama.

Nime tersenyum sambil duduk di bangku yang telah disiapkan Ken. “Lucu kok.”katanya.

Ken mengerutkan dahi. Lucu? Tapi Ken malah menganggapnya sebagai pujian. Lalu ia duduk dihadapan Nime. “Aku senang mendengarnya. Hmm, kau sudah lapar?”

Nime merasakan getaran di perutnya. “Baiklah. Aku makan.”katanya sambil melepaskan headset dari telinganya dan menyimpan headset itu dalam saku celananya.

Ken menelpon seseorang sambil mengatakan, “Ya. Sekarang.” Beberapa menit setelah itu muncul beberapa pelayan yang membawakan makanan dengan nampan tertutup. Lalu mereka menghidangkannya dihadapan Nime dan Ken. Setelah penutup makanan itu dibuka, terlihat dua potong lele bakar, dua potong ayam bakar, dan sebuah pizza. Dengan minumnya es buah segar, sirup melon, dan air putih. Untunglah meja yang disediakan cukup besar.

“Makanan-makanan kesukaanmu. Jangan heran aku masih mengingatnya.”kata Ken sambil tersenyum.

Nime melihat hidangannya dengan mata melotot sedikit. Lalu ia berkata dengan aksen dinginnya lagi, “Aku tidak mungkin menghabiskan ini semua.”

“Tidak apa-apa. Kalau tidak habis, kau bisa bawa pulang. Tadi Frans memesan potongan pizza untuknya.”

Nime menyerah. Ia lapar juga melihat hidangan yang begitu lezat dihadapannya. Lalu ia makan dengan tenang untuk menutup rasa laparnya. Sepanjang waktu menghabiskan makanannya, Nime tidak berani untuk berkata-kata karena ia melihat Ken yang sedang makan dengan tenangnya. Ia tahu benar bahwa Ken sangat memgang adat ketat di meja makan, salah satunya tidak boleh mengobrol saat makan. Ken bahkan tidak menatap Nime sama sekali. Bunyi garpu ataupun sendok juga tidak terdengar darinya.

Setelah selesai makan, akhirnya Nime berani berbicara. “Well, aku tidak terlalu suka ini.”kata Nime sambil menyilangkan sendok dan garpu di piring.

“Tidak terlalu suka apa?”

Nime mendesah. “Bertemu kau lagi…”setelah mendapati wajah tenang di muka Ken, ia melanjutkan lagi. “Aku sudah hampir berhasil melupakanmu.”

Ken terlihat sedikit kaget. Untuk waktu sebulan berhasil melupakan seseorang yang dicintai oleh orang lain, merupakan waktu yang terlalu cepat bagi Ken. Tapi Ken memakluminya. Ia mengerti perasaan Nime walau sebenarnya ia tidak mengharapkan bahwa Nime akan melupakannya. “Aku mengerti.”katanya pelan.

Nime kembali melipat kedua tangannya. “Well, bagaimana dengan pacarmu?”

Ken menatap Nime heran. Apa katanya? Pacar? Jelas-jelas Ken sekarang berusaha sebisa mungkin mendapatkan Nime kembali. Apakah Nime tidak menyadarinya? Bahwa sekarang apa yang diinginkan Ken adalah Nime? “Kau bercanda? Aku hanya ingin kau.”

Nime tersenyum kecut. “Tapi sebulan yang lalu kau mebuangku. Dengan percuma.”

“Aku sudah minta maaf kan Nime? Tapi aku tidak akan menarik janjiku lagi. Terserah kau akan memaafkanku atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin kau. Dan aku benar-benar menyesal dengan perbuatanku sebulan yang lalu.”

Nime melihat supermoon yang ada dihadapannya. “Ya, cara yang sangat kasar menurutku untuk mengganti nomor hp, deactive facebook, dan tinggal jauh dari kota ini. Benar-benar menghilang.”

Ken benar-benar menyesal. Yang ia inginkan dulu adalah menggapai mimpinya. Tapi ia dengan cepat melupakan Nime, wanita yang saat itu begitu mencintainya. “Maaf Nime.”

Nime menatapnya. “Sudahlah. Lalu, boleh aku pulang? Aku ingin memberikan pizza ini untuk Frans sebelum pizza ini membeku.”

Sebenarnya Ken ingin lebih lama berduaan dengan Nime disana. Tapi ia melihat sorot mata lelah, capek dan ngantuk di wajah Nime. Lalu ia menelpon pelayan lagi dan menyuruhnya membungkus semua makan yang tersisa. “Tunggu sebentar Nime. Mereka sedang membungkusnya.”

Nime mengangguk. “Baiklah. Hmm, Ken, kau tidak mengharapkan aku menerimamu lagi bukan?”

Ken berpikir sebentar. Feeling tidak enak hinggap di batinnya. “Memang kenapa? Kau tidak mau menjadi pacarku lagi?”

Nime menggeleng lemah. “Hanya saja, aku masih ragu untuk memutuskan hubunganku dengan pacarku yang sekarang dan kembali padamu.”

Lima, tujuh, sepuluh detik Ken terdiam. Butuh waktu lama untuk Ken mencerna perkataan Nime tadi. Detik kedua puluh barulah ia sadar Nime tidak sedang bercanda dan Nime baru saja mengatakan bahwa ia punya pacar kepada Ken. “Kau… Kau punya pacar?”

Nime mengangguk. “Namanya Ardo. Dia seangkatan denganku. Dan kau terlambat karena aku baru jadian dengannya dua hari yang lalu.”

Ya. Pantas saja Nime tidak mengharapkan kedatangan Ken saat ini. Bagaimana tidak? Ken sudah berstatus sebagai mantannya dan sekrang bukan siapa-siapa lagi bagi Nime. Tapi setelah kesalahan fatal yang dibuat Ken, terang saja tipe gadis seperi Nime langsung menyambat cowok yang sedang menyatakan cinta padanya dan melupakan Ken. Ken merasa begitu kecil. Perasaan kecewa menghantuinya. Percuma saja ia menyiapkan malam indah ini untuk Nime.

“Ken?”panggil Nime.

Ken menoleh. Ia berusaha tersenyum, dan sepertinya kurang berhasil. “Ya?”

“Jangan melamun. Kau jelek kalau melamun.”

Daan saat itu juga Ken tertawa hambar. “Ha-ha-ha.”

Nime terlihat khawatir pada Ken. “Kau, tidak apa-apa kan?”

“Memang aku terlihat kenapa? Aku nggak apa-apa kok. Mungkin sedikit shock.”kali ini Ken menunduk. Mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.

Nime berpikir sedikit. “Baiklah. Tapi, tunggu. Jangan-jangan kau kecewa karena aku telah megacaukan malam indah yang sengaja kau buat? Tapi kupikir tadi semua ini hanya sebagai permintaan maafmu saja. Aku tak mengira kau ingin aku kembali padamu. Maaf..”

Ken tersenyum. “Jangan meminta maaf, Nime. Kau tidak salah. Aku yang terlalu banyak berharap. Nah, bungkusanmu sudah siap. Bagaimana kalau sekarang kita pulang?”lanjut Ken sambil menenteng bungkusan besar berisi pizza, sepotong ayam bakar dan es buah.

Jelas sekali Nime melihat senyum palsu dari mata Ken. Nime jadi sedih juga karena telah mengecewakan Ken. Bagaimana juga, Ken sudah menyiapkan malam yang indah ini untuknya. Dan tidak etis sekali jika Nime mengacaukannya begitu saja.

Nime berdiri dan menggandeng tangan Ken. Nime mendapati wajah Ken yang terlihat sedikit kaget dan heran. “Ayo pulang, kak.”kata Nime sambil tersenyum.

Ken mengerutkan kening. “Berapa abad kau tidak memanggilku kakak?”

“Jadi tidak mau dipanggil kakak nih? Ya sudah.” Nime pura-pura ngambek.

“Tidak dong, hmm, dek. Senang mendengarmu kembali seperti saat kau SMP dulu. Saat kita bertemu dan kau memanggilku kakak.”kata Ken. Sedikit demi sedikit Ken sudah lupa dengan pacar Nime. Mereka masih bergandengan walau berada di dalam lift.

“Hmm, ya. Jujur. Mungkin hanya kau yang bisa membawaku ke masa lalu, waktu beliau masih hidup.”

Kini Ken yang merasa tidak enak. Secara tidak langsung ia sudah menyinggung almarhum ayah Nime. “Maaf, Nime. Ku rasa, ayahmu cukup senang melihatmu seperti sekarang.”

“Cukup?”

Ken melihat Nime dengan tatapan bijaksana seakan-akan dia benar-benar kakak kandung Nime. “Mungkin dia juga melihat perubahanmu dalam dua tahun terakhir ini.”

Nime menunduk lesu. Sebenarnya, memang benar adanya. Perubahan Nime menjadi cewek yang dingin, kaku, dan sombong karena ayahnya yang telah meninggal. Dan walau Nime menyadari hal itu, ia tidak ingin mengubahnya. Bukan untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya, ia hanya ingin mengekspresikan kesedihannya. Dan sepertinya itu tidak berjalan lancar karena teman-teman Nime perlahan menjauhi Nime karena sikapnya yang berubah total.

“Nime?”panggil ken.

Nime menoleh. “Ya?”

“Apa kau tidak pernah membayangkan bagaimana perasaan ayahmu jika ia melihatmu berubah seperti sekarang? Kurasa ayahmu pasti sedih.”kata Ken sambil melangkah keluar dari lift dan membawa Nime masuk ke dalam mobil.

Nime berpikir panjang tentang perkataan Ken. Apa benar ayah akan sedih?

Ken menjalankan mobilnya menuju rumah Nime. Ia sadar Nime masih diam dan belum mengatakan apa-apa. Tapi Ken rasa ini yang tepat untuk menyinggung Nime dan sikapnya sekarang dengan mengungkit tentang ayahnya.

“Ayahmu membesarkanmu hingga kau menjadi seorang Nime yang cantik, ceria, gembira, dan ramah. Ayahmu tidak pernah melihatmu seperti ini. Dan kurasa dia juga tidak menginginkannya, sama seperti aku.”

“Jadi, hal yang selama ini aku rubah adalah hal yang salah? Tapi aku tidak bermaksud mengubahnya. Aku hanya.. terlalu larut dalam kesedihan.”

Ken tersenyum. “Ingat Nime. Jika kau sedih, ayahmu juga pasti akan sedih. Coba lihat mamamu dan Frans. Apa mereka juga larut dalam kesedihan? Tidak, Nime. Di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi. Ayahmu pergi ke atas sana karena takdirnya. Dan aku rasa ia bahagia disana. Kecuali melihat perubahan drastismu ini.”

Nime menunduk lagi. Sepertinya kata-kata yang diucapkan Ken mampu membuatnya berpikir jernih dan membuat hatinya tergerak untuk berubah menjadi sepertinya dirinya yang dulu. “Aku.. akan mencoba berubah. Menjadi aku yang dulu.”

Ken mengangguk. Tak ia sangka ternyata nasehatnya mampu mengubah pemikiran Nime. Nime yang dingin, dan tak peduli dengan omongan orang lain, kini mengatakan bahwa ia akan mencoba berubah menjadi Nime yang ceria dan bahagia seperti dulu. “Baguslah kau sudah sadar.”

“Makasih.”ucap Nime.

“Untuk apa?”

“Untuk menyadarkanku.”kata Nime sambil menoleh kearah Ken.

Ken mendapati mata Nime yang berair. Tapi ia tersenyum. “Sama-sama. Tolong jangan menangis. Aku jadi merasa bersalah.”

Nime menghapus air matanya dengan tisu. “Ya. Lagian aku tidak cengeng kok.”

“Yakin tidak cengeng?”

Nime mencubit pinggang Ken. “Katakan kalau aku memang tidak cengeng. Cepat!”

“Auu! Ampun adek. Ampun, ampun! Nime, cubitanmu memang benar-benar menyakitkan. Aku serius. Auu!”

Nime berhenti mencubit Ken sambil tertawa. “Haha. Bagus! Sekarang aku tahu kelemahanmu.”

Ken tersenyum lega melihat tawa Nime yang lepas dan tanpa beban. Baru kali ini Ken merasa Nime tidak benar-benar berubah. Dan syukurlah karena Nime sudah kembali seperti dulu.

Mereka tiba di depan pintu rumah Nime. Waktu sudah menunjukan pukul 21.19. Tanpa sadar Nime menguap dihadapan Ken.

“Heh, anak kecil! Kalau nguap tuh ditutup mulutnya. Tidak sopan.”kata Ken sambil menutup mulut Nime. Nime memukul tangannya. “Aduh!”

“Heh, orang sok dewasa. Jangan suka sembarangan menutup mulut cewek.”bantah Nime.

Ken tersenyum. “Ya sudah. Ini, makanan adikmu. Tidur sana.”

Nime mengangguk. Ia membuka pintu rumah dan melangkah masuk.

“Nime?”panggil Ken lagi.

Nime menoleh ke belakang. Didapatinya tubuh Ken yang dekat sekali dengannya. Begitu pula dengan bibir Ken yang hampir mencium bibirnya. Hampir saja. Tapi bibir Ken kemudian berhenti. Gambaran pacar Nime dan nama Ardo terlintas dipikirannya. Ia lupa Nime sudah punya pacar. Lagipula, tidak etis mencium adiknya sendiri. Lalu bibir Ken berpindah ke pipi kanan Nime. Ken menciumnya lembut sekali.

“Maaf. Aku tidak seharusnya menciumi pacar orang.”kata ken.

Nime tersenyum. “Tidak apa-apa. Kau kan kakakku. Dan wajar seorang kakak mencium adiknya sendiri.”kata Nime sambil tersenyum.

Ken membalas senyuman Nime. “Boleh aku memelukmu sebentar?”

Nime mengangguk. Lalu mereka berpelukan erat. Hening. Saat itu juga Nime lupa dengan pacarnya, Ardo. Nime kembali ke masa-masa dimana ia masih memiliki perasaan khusus dengan Ken. Walaupun sampai sekarang ia masih memiliki perasaan itu. Dan jujur saja Nime sangat sangat merindukan Ken.

Ken sebenarnya tidak mau melepaskan pelukannya. Tapi ia sadar, dia bukan siapa-siapa lagi di hidup Nime. Lagipula, pelukan itu hanya dianggap Ken sebagai pelukan kakak adik. Ken melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap Nime. Tiba-tiba kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. “Aku mencintaimu, Nime.”

Nime hanya tersenyum. Lalu ia berkata dengan bijak, “Aku memeaafkanmu. Aku masuk dulu ya, Kak. Hati-hati dijalan.”

Lalu hilanglah sosok Nime di balik pintu rumahnya. Ken terpaku ditempat beberapa saat sebelum akhirnya ia pulang dengan senyuman yang membahagiakan. “Setidaknya aku tahu ia masih mencintaiku.”bisik Ken. Lalu ia menjalankan mobilnya dan pulang ke rumah.

Nime berbaring di ranjangnya sebelum ia menyerahkan makanan yang dibawanya pada Frans. Malam ini, Nime begitu merasa malam yang paling indah dalam hidupnya. Indah karena ia menyadari bahwa sebenarnya ia tidak perlu menjadi dirinya yang sekarang. Sombong, angkuh, terkesan jahat dan tidak bahagia. Indah karena ada Ken yang mampu membuka mata hatinya. Karena sebenarnya ia telah memiliki kebahagiaannya sekarang. Kebahagiaan yang sempat hilang dan kembali datang ke hidupnya. “Aku juga mencintaimu, Ken.”