Sunday, 23 January 2011

What Should I tell to you if you die tomorrow?


                Jody melihat malaikatnya tertidur pulas. Kasihan juga Viana, pikirnya. Seharian ini Viana disuruh mondar-mandir kelas dan majelis guru. Padahal jarak kelas dengan majelis guru itu lumayan jauh. Dan kali ini Jody tidak ingin membuat Viana terbangun walau Pak Rustam sedari tadi ngoceh di depan kelas dan sesekali melihat kearah mereka. Untungnya mereka duduk dibelakang Bona yang badannya gede minta ampun. Jadi badan Viana bisa tertutupi.
                Jody lalu mengusap lembut rambut Viana. Dirasakannya tubuh Viana yang sangat panas. Ia mengecek lagi jidat Viana dan lehernya dengan punggung tangannya. Tiba-tiba Viana terbangun dari mimpinya.
                “Kenapa?”tanya Viana lembut sambil masih terbaring. Namun matanya masih setengah terbuka.
                “Kamu sakit?”tanya Jody khawatir.
                Viana diam. Seakan teringat akan sesuatu. “Paling cuma panas dalam.”jawabnya cuek.
                “Selalu aja ngeremehin hal-hal kecil. Kamu tuh sakit. Badan kamu panas banget tau nggak?”
                Viana lalu meraba dahinya. “Panas doang…”
                Jody geleng-geleng kepala. Wajahnya berubah serius. Inilah saat yang Viana benci. Kekhawatiran Jody selalu berlebihan.
                “Empat jam lagi baru kita pulang. Tapi kamu harus pulang sekarang. Aku peduli sama kamu, kamu tahu kan?”
                “Tapi entar ada kimia…”
                “Percuma aja belajar kalau otak nggak bisa jalan. Kamu tuh udah sakit, ngeyel lagi. Kamu turutin aku aja deh.”potong Jody.
                Viana memasang wajah nggak suka dengan Jody. Namun ia tak bisa mengelak juga. Ia merasa badannya lemah semua. Dan sebenarnya pun ia ingin pulang dan beristirahat. Dan Viana akhirnya  membiarkan Jody untuk berbicara pada Pak Rustam agar bisa mengantar Viana pulang.
                Diperjalanan, tak henti-hentinya Jody mengoceh tetang kesehatan Viana. Viana yang mendengar omelan pacarnya itu hanya bisa mengangguk-angguk dan sesekali menggeleng. Lagipula, Viana tidak ingin berdebat dengan keadaan tubuhnya yang lemah ini. Ia baru sadar akan sesuatu. Saat di sekolah, Viana lupa meminum obatnya.
                “Dirumah, kamu harus istirahat. Sebelum masuk kamar, minum air putih dulu. Kamu udah makan kan? Entar pulang sekolah aku bawain kamu bubur. Pokoknya kamu harus tidur pulas. Ohya, kamu juga nggak boleh les hari ini. Mesti dirumah aja. Pakek jaket kamu kalau nyalain AC. Denger tuh.”
                Akhirnya sampai rumah juga!batin Viana. Ia tersenyum gembira saat disambut oleh Bi Umi yang sudah ditelpon Jody untuk menjaga Viana.
                Viana lalu cepat-cepat turun dari mobil Jody. Tapi saat Viana hendak masuk ke rumah, ia dicegat Jody.
                “Inget kata-kata aku. Ngerti? Ini untuk kebaikan kamu juga sayang. Kalau kamu nggak sakit juga aku nggak bakal cerewet gini.”
                “Biasanya juga kamu cerewet kok sama aku.”jawab Viana jutek.
                “Iya deh. Tapi kan itu tanda sayang aku sama kamu. Ya udah deh. Istirahat gih. Kalau perlu besok nggak usah sekolah juga.”
                “Lebai deh. Aku nggak apa-apa kok. Cuma demam biasa doang.”
                Jody meraba jidat Viana lagi. Kekhawatirannya bertambah karena panas Viana tidak berkurang juga. Viana yang melihat raut yang tidak diinginkannya itu dengan cepat berlari ke dalam rumah diikuti oleh Bi Umi yang sebelumnya juga dinasihati oleh Jody. Namun sebelumnya Viana juga mendengar teriakan Jody yang mendoakannya agar ia cepat sembuh.
                Sesampainya di rumah, Viana lalu mencari-cari obat yang lupa dibawanya ke sekolah lalu meminumnya. Bisa berabe nih kalau hal ini terulang lagi, batin Viana.
                Esok harinya Viana masuk ke sekolah seperti biasa. Ceria dan tanpa beban. Ia sengaja tidak menyuruh pacarnya untuk menjemputnya kali ini. Ia beralasan diantar sama ayahnya yang sebenarnya juga ogah-ogahan mengantar Viana ke sekolah karena ia harus bangun pagi-pagi untuk mengantar Viana. Papa Viana bekerja sebagai manajer di salah satu toko buku di kota ini. Dan toko buku itu baru buka jam sepuluh pagi. Sangat memberatkan sekali bagi papa Viana untuk mengantar Viana kesekolah jam setengah tujuh. Ditembah lagi, setiap malam papa Viana selalu bergadang sampai jam dua malam.
                “Kenapa nggak sama pacar kamu aja sih?”tanya papa Viana sambil mengunyah roti isi yang tergeletak di meja.
                “Bosen ah. Emang kenapa sih? Papa nggak suka nganterin Viana ke sekolah? Ya udah Viana naik  ojek aja…”
                Saat itu juga mama Viana memandangi papanya geram. Seakan tahu akan makna tatapan mama, akhirnya papa Viana setuju mengantar putri kesayangannya itu kesekolah.
               
Jody sudah menunggu Viana di depan pintu kelas. Kali ini Viana memberi isyarat agar Jody tidak mengomelinya lagi seperti semalam. Viana menutup kedua telinganya sepanjang jalan menuju tempat duduknya walau sebenarnya Jody tidak berkata apa-apa.
                “Iya, aku nggak bakal omelin kamu lagi deh..”bujuk Jody. Ia tahu sekali bahwa Viana sangat kesal terhadap Jody jika ia udah ngomong panjang lebar dan nggak liat lampu merah.
                Setibanya ditempat duduk, Viana dipaksa agar ia mengapitkan termometer yang sengaja dibawa Jody dari rumah. Jody juga menyuruh Viana agar menjulurkan lidahnya dan memeriksa  kedua mata Viana. Tingkah Jody yang berlagak seperti dokter itupun mengundang perhatian kelas. Namun seisi kelas juga tidak merasa heran melihat tingkah Jody itu. Karena jika Viana sakit, Jody memang selalu bersikap seperti itu.
                 “Syukurlah kamu udah sembuh. Makanya lain kali…”lanjut Jody sambil melihat termometer Viana.
                Viana lalu menutup telinganya lagi. Ia sedang tidak ingin mendengar ocehannya Jody hari ini. Jody yang melihat tingkah Viana hanya bisa mendengus kesal.
                “Diperhatiin kok malah ngelawan.”gumam Jody.
                “Diperhatiin sih diperhatiin. Tapi kalau diperhatiin tiap ketemu gini, aku kan jadi males. Lagian kamu juga nasihatinnya lebai. Belum puas kamu omelin aku semalam? Dari sekolah sampai telponan malam hari.”
                “Jadi kamu ngerasa tertanggu gitu?”
                Inilah saat-saat yang Viana tidak inginkan. Ia lalu menatap Jody dengan kesal. Jody pun merasa bersalah.
                “Maaf udah mulai pertengkaran sama kamu. Padahal kamu baru sembuh…”
                Viana mengangguk. “Nah, nyadar juga.”
                Sepanjang jam pelajaran, Jody tak henti-hentinya mengkhawatirkan Viana. Seperti ada yang ganjal dengan diri ceweknya itu. Namun ia segera menepis perasaan buruknya itu. Ia tak ingin bernegative thinking tentang pacarnya. Jody juga tidak ingin memulai pertengkaran lagi. Ia hanya memperhatikan Viana dan menuruti permintaan Viana agar ia tidak mengomeli Viana lagi.
                “kamu bawa obat kamu nggak?”tanya Jody memecah keheningan. Kali ini Jody sengaja menjaga Viana dikelas. Padahal sekarang jam istirahat.
                Viana hanya membuka tasnya dan mencari-cari obatnya. Tapi sepertinya nihil. Viana lalu menggeleng kecil kearah Jody.
                “Kamu ini. Ya udah. Aku mintain aja ya obat sama Fera.”Fera itu penjaga UKS sekolah.
                Viana menarik napas sejenak. Ditatapnya pacar kesayangannya yang berkulit putih dan bermata sipit ala Taylor Lautner itu.
                “kalau kamu nggak keberatan, tolong dong sehari ini nggak usah khawatir sama aku. Aku juga udah makan obat kok tadi pagi. Lagian, tadi juga kamu udah beliin aku makanan. Aku pasti punya tenaga kok. Lagian, panas aku udah mulai turun kan?”
                Jody merada jidat Viana lagi. Jody mengerti sekali keadaan Viana sekarang. Dan ia pun mengangguk lesu. Bagaimanapun juga, sebenarnya Jody memerhatikan Viana karena sayang. Walaupun berlebihan.
                Viana tersenyum. “Nah, gitu dong. Ohya, kata mama hari ini aku udah bisa jalan-jalan.”
                Jody mengerutkan kening. Kok bisa-bisanya mama Viana membiarkan Viana jalan-jalan disaat-saat Viana sakit seperti ini?
                “kamu yakin?”tanya Jody dengan nada yang sedikit mengekhawatirkan.
                Viana mengangguk. “Lagian, aku bosen dirumah. Udah seminggu di rumah mulu. Kamu juga nggak ada ngajak aku jalan.”gerutu Viana.
                “Seminggu ini kan banyak pr, sayang. Tapi kamu kan masih…”
                “kamu nggak mau jalan sama aku? Ya udah.”potong Viana sambil memalingkan wajahnya.
                “bukan gitu… ya udah deh. Kamu mau kemana hari ini? Aku temenin.”akhirnya Jody menurut juga walau sebenarnya ia juga belum yakin dengan keadaan Viana.
                “Aku pengen ke toko buku. Oke deh. Ntar malam jemput aku ya.”
                Jody menggeleng cepat. “udara malam nggak baik dengan tubuh kamu yang masih sakit. Aku jemput kamu jam empat sore aja.”
                Awalnya Viana merasa bete juga. Sore-sore? Panas lagi, pikirnya. Tapi apa yang dikatakan Jody benar juga. Lagian belum tentu mama Viana mengijinkan ia untuk pergi malam-malam.
               
Viana sedang mencari-cari buku di deretan rak novel-novel remaja. Viana memang senang membaca buku. Apalagi membaca novel. Menurutnya dengan novel, imajinasi kita bisa melayang tinggi. Membayangkan kata demi kata disetiap halaman novel itu sangat-sangat indah. Dan karena itu juga Viana selalu tinggi-tinggi kalau menghayal.
                “kamu mau aku beliin nggak? Ada novel bagus banget nih yang rasa-rasanya mesti kamu baca.”
                Jody melihat buku yang dipegang Viana. Bidadari santa Monica? ia lalu meraih buku itu dan membaca sinopsisnya. Berbeda dengan Viana, Jody jarang baca buku kayak begituan. Dia males baca novel. Apalagi novel-novel cewek.
                Jody lalu menggeleng. “Belum dapat juga buku yang kamu mau?”tanyanya.
                Namun sepertinya Viana tak peduli dengan ucapan Jody. Ia tahu betul Jody selalu komplain dan cerewet saat menungguinya memilih-milih buku.
                “Kamu udah makan kan?”tanya Jody lagi.
                Viana mengangguk. Namun kenyataannya, ia sama sekali belum menyentuh piring di dapur. Ia sedang tak nafsu makan. Tiba-tiba kepala Viana di hantam sakit yang luar biasa. Namun ia menahan menunjukkan rasa sakitnya di depan Jody. Ia nggak mau Jody terus-terus menyalahkannya. Setelah membayar di kasir, mereka pun pulang.
                “Eh aku ke toilet bentar ya.”kata Viana.
                Jody mengangguk. Diantarkannya Viana sampai didepan pintu toilet mall tersebut.
                Di dalam toilet Viana menahan semua rasa sakitnya. Dari kepalanya yang terasa pusing berat, hingga tubuhnya yang tiba-tiba gemetaran. Tanpa Viana sadari, kini tubuhnya jatuh lunglai di depan cermin. Dan Viana pun menutup matanya. Ia pingsan.

                Seseorang keluar dari balik pintu toilet dengan wajah ketakutan. Jody yang melihatnya lalu bertanya, “Kenapa mbak?”
                “anu… hmm, mas lagi nungguin siapa?”tanya cewek itu dengan nada yang semakin mengkhawatirkan.
                “Saya lagi nunggu pacar saya. Kenapa mbak? Mbak kok takut gitu?”
                “Hmm, itu, anu… ada cewek pingsan mas. Ia memakai baju blasteran dan jaket. Mas…”
                Belum selesai wanita itu berbicara, Jody langsung menyelonong masuk tanpa peduli bahwa ada seorang cewek yang sedang mengganti baju di dalam toilet dan marah-marah kepadanya. Ciri-ciri yang diberikan oleh cewek tersebut memang ciri-ciri Viana. Dan ternyata betul. Viana tergeletak lemas di lantai.
                “VIANA!!”
               Viana terbangun di mobil Jody. Ia baru sadar bahwa seharusnya ia tidak berada disini. Ia seharusnya berada di toilet. Viana memegang kepalanya yang masih nyut-nyutan. Jody yang melihatnya bangun, membawa mobilnya ke tepi jalan.
                “Kamu bohong kan?”tanya Jody.
                “Bohong apa?”tanya Viana cuek.
                “JAWAB!!’
                Viana terkejut sekali. Dipandanginya Jody dengan mata melotot. Baru kali itu Jody berteriak sekuat itu padanya. Jody menggeram. Dilihatnya amarah Jody yang terpancar dari matanya. Aku salah apa sih?batin Viana.
                “Kamu udah makan?”tanya Jody lagi. Namun kali ini dengan nada yang mengancam seperti pembunuh.
                “U…udah kok.”jawab viana dengan nada takut.
                “BOHONG!!”kali ini hentakan suara Jody lebih keras. Jody benar-benar marah.
                “Kamu kenapa sih?! Ini tuh masalah sepele. Aku emang belum makan, terus masalah kamu apa?! Emang aku kenapa? Pingsan doang kan? Bukan amnesia!”
                PLAK! Sebuah tamparan mendarat dari tangan Jody. Seperti halnya Viana, Jody juga heran kenapa ia bisa menampar gadis kesayangannya itu. Jody benar-benar menyesal. Ia lalu menarik tangannya jauh-jauh.
                Viana melotot. Ia menahan air matanya yang seperti menggedor-gedor untuk segera jatuh ke pipinya. Namun ia berpaling. Ia melihat raut wajah Jody yang sangat-sangat menyesal. Namun Viana sudah terlanjur sakit. Dipegangnya pipinya yang merah karena tamparan Jody.
                “Maaf, aku nggak…”
                Pintu mobil terbuka. Viana lari dengan tangis yang berderai. Ia tak menyangka Jody berbuat seperti itu padanya.
                “Viana!!” teriak jody mencoba mengejar gadisnya itu.
                Sebuah  taksi berhenti di depan Viana. Viana langsung masuk dan memberi perintah kepada supir taksi agar cepat meninggalkan tempat Jody. Taksi itu lalu berlalu dengan cepat. Jody lalu berlari kembali ke mobilnya dan mengejar taksi Viana.
                Sepanjang perjalanan, Jody terus-terusan menyesali perbuatannya. Semua kata-kata carut ia lemparkan untuk dirinya. Rasanya ia ingin memotong tangan yang sudah berani menampar Viana itu. Berulang kali ia menelpon Viana hingga Viana memutuskan untuk mematikan handphone-nya.  Untungnya taksi yang ditumpangi Viana berhenti di depan rumah Viana.
                Viana masih belum berhenti menangis. Kali ini Jody keterlaluan! Sungguh diluar dugaan! Viana sejenak memandangi mobil Jody yang masuk ke pekarangan rumahnya. Bi Umi yang sudah berdiri menyambut Viana sepertinya tahu ada yang salah.
                “Jangan biarkan si BRENGSEK itu masuk!”ujar Viana kepada Bi Umi. Bi Umi mengangguk gemetaran mendengar nada kata brengsek yang sengaja di tekankan.
                Jody lalu berlari menaiki tangga mengejar Viana, namun ia dihadang oleh satpam rumah Viana.
                “Bi! Bi Umi! Saya mau masuk Bi!”teriak Jody dari luar pintu rumah Viana.
                Bi Umi ngintip keluar jendela. “Maaf den, neng Viana nggak mau ketemu sama den Jody.”
                “Lepasin!!” teriak jody kepada satpam itu. Satpam itu menurut mendengar suara jody yang sangat-sangat menyeramkan.
                Jody memandangi jendela  kamar Viana. Tirainya tertutup rapat. Ia menyerah. Memang ia yang sudah keterlaluan kepada Viana. Jody  lalu masuk ke mobilnya dan pulang kerumah. Ia sama sekali nggak tahu bagaimana caranya untuk menebus semua perbuatannya.
                Viana mengurung diri di kamar. Ia menangis dan menjerit sekuat-kuatnya.
                “AKU BENCI KAMU JODY! BENCI BENCI BENCI!!!”
                Sudah dua hari Viana sakit dan tidak masuk sekolah. Jody semakin khawatir. Selama dua hari itu ia mencoba menelpon Viana. Namun  seisi rumah sepertinya tidak mengijinkan Jody untuk datang ataupun menelpon lagi.
                Jody semakin khawatir. Akhir-akhir ini pikirannya hanya tertuju pada Viana. Viana, Viana, dan Viana. Jody sama sekali lupa dengan tugas sekolah dan ulangan yang menumpuk. Ia bahkan lupa makan. Lalu ia nekat. Ia menelpon lagi rumah Viana.
                “Halo?”. Kini Jody bernapas lega. Untunglah Bi Umi yang angkat telponnya.
                “Bi, kasih tahu saya satu hal aja. Gimana kabar Viana bi? Dia beneran sakit atau hanya ingin menghindar dari saya bi? Jujur bi.”tanya Jody dengan nada mengancam.
                Bi Umi berpikir panjang. Tapi sepertinya Jody harus tahu keadaan yang sebenarnya tentang Viana. Akhirnya Bi Umi menjauh dari tempat papa dan mama Viana. Bi Umi mengambil telepon wireless tersebut dan membawanya ke dapur.
                “Dokter bilang, besok neng Viana udah bisa masuk sekolah den.”lanjut Bi Umi. 
Jody terkejut setengah mati. “Dokter? Jadi Viana beneran sakit Bi?”
                Bi umi mengangguk. “Iya den. Demam gitu. Katanya gejala demam berdarah den. Tapi ternyata bukan.”
                Apa?! Demam berdarah?! Jody diliputi rasa bersalah. Tapi syukurlah, ternyata bukan demam berdarah kan?
                “Makasih ya bi.”
                Tut tut. Telepon terputus. Jody menggeram. Bisa-bisanya ia tak ada di samping Viana disaat Viana kesusahan? Dan bisa-bisanya ia menampar Viana kemarin?
                “BODOH! Gue mesti gimana sekarang?”
                Jody menyerah. Seberapa besar ia menyakiti dirinya nggak bakal mengubah apapun. Toh tetap saja Viana yang merasakan sakitnya, bukan dia. Beribu-ribu kata maaf pun tak akan bisa menghapus kesalahannya. Jody benar-benar berada di jalan buntu. Apalagi saat ia mengetahui bahwa keluarga Viana sudah menutup jalannya untuk bertemu Viana. Jody mengambil nafas panjang. Ia menyerah. Benar-benar menyerah. Tanpa disadari ia menangis. Kali ini jody benar-benar menyadari betapa berharganya Viana untuk dirinya. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa.

                Viana terbangun dari mimpinya. Hidup terasa membosankan kalau di rumah terus seperti ini, batinnya. Karena itu, ia memutuskan untuk sekolah besok. Lagipula, ia juga kengen sekali dengan Jody. Dan ternyata, Viana perlahan sudah memaafkan Jody.
                “Eh, non udah bangun.”sapa Bi Umi ketika Viana menginjakkan kakinya di dapur.
                Viana mengangguk. “Bi, hmm, Jody ada nelpon nggak?”
                Bi Umi diam sejenak.  Ia tak ingin berbohong dan menyakiti hati Viana. Tapi disamping itu, ia dipaksa untuk tidak memberitahukan Viana bahwa jody sudah berulang kali datang dan menelpon oleh orang tua Viana.
                “Anu… non. Hmm, sebenarnya…”
                Bi Umi melirik ke ruamg tengah. Sepertinya kedua orang tua Viana belum pulang. Mungkin mama Viana sedang shopping.
                “Jujur ya bi, saya nggak suka sama pembohong.”tukas Viana.
              Bi umi pun menyerah juga. “Sebenarnya non, saya yang waktu itu memberi tahu den Jody kalau non belum makan.”
                Viana bengong, “Maksud bibi?”
                Bi Umi menarik napas panjang. “Waktu itu non Viana pingsan kan? Terus den Jody panik non. Panik banget. Dia nelpon ke rumah, nanyain mama sama papa non. Tapi mama sama papa non lagi nggak ada di rumah. Terus den Jody tanya, non Viana udah makan belom? Ya udah, bibi bilang aja belom. Eh, nggak tahunya den Jody marah-marah non.”
                Viana masih menyimak. “Jadi…”
                “Maaf non, bibi nggak tau kalau saat itu non bohong sama den Jody. Kalau bibi tahu kan mungkin bibi bisa bilang kalau non juga belom makan non.”
                Viana tersenyum. “Ya udah bi. Viana maafin. Terus?”
                 “Dari kemaren den Jody nanyain non mulu. Tapi…”
                Viana menunggu. “Tapi?”tanya Viana.
                “Mama papa non nggak ngijinin den Jody datang kesini lagi. Mereka juga ngelarang den Jody nelpon-nelpon lagi.”
                “APA?!”tanya Viana shock. Ia tak menyangka kedua orang tuanya sekejam itu.
                “Sabar non, sabar. Mereka itu nggak percaya lagi sama den Jody non. Mereka yakin non sakit karena den Jody non. Jadi mereka marah besar sama den Jody.”
                Viana terkejut. “Tapi kan Jody udah nolongin Viana bi…”
                “Nah, itu juga bibi udah bilang sama mereka non. Awalnya mereka maafin Jody, tapi pas tahu gejala penyakit non adalah gejala demam berdarah, mereka nyalahin den Jody lagi.”
                Astaga! Segitunya! Nggak. Jody nggak salah! pikir Viana. “Makasih bi.” Viana akhirnya tersenyum manis. “Nah, bibi sekarang mau bantu saya nggak?”bisiknya.
               
Telepon genggam milik Jody berdering. Dilihatnya nama yang ada dilayar kaca hp-nya itu.
                “Halo?”tanya suara dari seberang.
                “VIANA!!”pekik jody.
                Viana sampai harus menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya. “Iya iya. Ni aku. Biasa aja lagi.”
                “Thanks God! Astaga. Ni benar Viana? Viana, maafin aku ya, aku tau beribu-ribu maaf dari aku nggak mungkin mampu menghapus kesalahan aku. Aku minta maaf ya sayang. Aku udah nampar kamu, aku udah bikin kamu bete, aku terlalu protektif sama kamu, aku terlalu cerewet, aku yang buat kamu sakit…”
                Disaat-saat seperti ini pun Jody masih cerewet, batin Viana. Viana senyum-senyum sendiri mendengar pengakuan dari Jody. Namun ia sama sekali tak bicara. Ia terus melangkah maju menuju rumah coklat yang besar berada di ujung jalan Jitonegoro.
                “Viana? halo? Kamu masih disitu kan? Maafin aku, aku.. aku janji, aku bakal lebih baik. Aku hanya takut kalau-kalau…”
                Kalimat itu terputus. Viana mendengar isakan dari suara diseberang. Jody… nangis?
                “Aku takut Viana, aku takut kalau saja orang yang aku sayangi akan meninggal esok hari.”
                Viana tercengang. Ni anak ngomong apa sih? Meninggal? Siapa yang meninggal?
                “Viana, asal kamu tahu, aku over protektif gitu juga ada alasan. Aku pernah kehilangan seseorang yang aku sayang. Ia meninggal. Dan saat itu aku adalah orang yang paling bodoh. Aku nggak ada di sampingnya ketika ia minta pertolongan. Karena itu, aku selalu menjaga kamu, aku protektif banget sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu. Dan setiap harinya aku menjaga kamu karena aku selalu mikir, bagaimana kalau kamu bakal ninggalin aku esok hari? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan jika itu benar terjadi? Apalagi saat aku tahu gejala sakit kamu adalah demam berdarah…”
                Tau dari mana dia? Oh, pasti Bi Umi deh. Lagian, ni anak mikirnya jauh banget!
                “Viana, kamu masih disitu kan sayang? Viana, aku nggak bisa bayangin kalau aku bakal kehilangan kamu, kamu terlalu berharga buat aku. Dan aku sangat-sangat menyesal udah nampar kamu…”
                Jody, udah dong. Stop nangisnya. Cengeng banget sih? Hihi.
                “Viana? Halo? Ngomong dong sayang…”
                Tiba-tiba seseorang nyelonong masuk ke kamar Jody. Jody lalu memutar badannya. Dilihatnya Viana yang cengengesan melihat Jody berderai air mata.
                Jody melempar hapenya  ke kasur dan dalam dua detik langsung mendekap erat tubuh Viana. Ia tak henti-hentinya menangis. Hilang sudah harga dirinya di depan Viana. Tapi toh ia tak peduli. Jody merasa puas sekali. Bahagia, senang, terharu, heran, semuanya.
                “Jody, aku…”
                “Viana, aku nggak nyangka kamu bakal datang kesini. Kamu maafin aku kan?”Jody semakin mempererat pelukannya.
                Tubuh Viana tenggelam dalam tubuh Jody yang tentu saja lebih besar dari tubuhnya. Viana kehabisan nafas, tak disangka tubuh Viana lemas seketika.  Dan mata Viana perlahan-lahan terpejam. Viana benar-benar dalam keadaan diam.
                “VIANA!!”
                Jody lalu menggendong Viana dan membaringkan Viana di atas kasur dengan bedcover bola tersebut. Di guncang-guncangkannya tubuh Viana. Namun Viana nggak bangun juga. Jody panik. Ia mengira Viana pingsan.
                “Aduh! Viana! Jangan pingsan dong. Aku takut nih..”
                Viana nggak kunjung bangun juga. Lalu Jody memberanikan diri membuka mulut Viana.
                “Viana, maafin aku…”
                Jody bermaksud untuk memberi napas buatan pada Viana. Lalu Jody mendekatkan bibirnya ke mulut Viana dengan gemetaran. Dan hampir saja…
                “BAA!!”
                Jody terlonjak dari tempat duduknya. Jody mengelus-elus dadanya. Dilihatnya Viana yang tidak berhenti ngakak. Viana benar-benar telah mengerjai Jody.
                “Viana!”
                Viana tak peduli. Ia terus saja tak berhenti tertawa. Namun ia terkejut sekali ketika Jody hampir menindih tubuhnya. Saat itu Viana diam. Jody sama sekali tidak memasang muka bercanda. Viana semakin takut ketika Jody mendekatkan bibirnya ke mulut Viana.
                Dalam hati Jody berteriak senang. Kena kamu ya!
“Mungkin ini yang bakal aku lakukan kalau kamu mati besok.”
Saat hendak berteriak, entah kenapa bibir Viana seperti terkunci. Viana semakin takut karena bibir Jody semakin dekat. Viana hanya bisa mengejamkan matanya. Dan…
                Cup! Sebuah ciuman bibir mendarat di bibir Viana. Viana takut. Lalu ketakutannya berubah setelah…
                “HAHAHAHA”.
                Viana memandang Jody dengan kesal. Tapi entah kenapa hari itu adalah hari terindah dalam hidupnya. Begitupun dengan ciuman Jody yang merupakan ciuman pertamanya.
                “Kalau aku beneran mati besok, kamu bakal ngomong apa?”tanya Viana kesal.
                Jody menghentikan tawanya. Ia berfikir sejenak. Viana duduk di tempat tidur. Jody lalu mengambil tempat di samping Viana. Di pegangnya kedua tangan Viana dengan erat. Viana gugup ketika melihat Jody bersimpuh di depannya.
                “Viana, seandainya kalau kamu beneran pergi dari hidup aku besok hari, aku minta kamu buat jadi istri aku hari ini.”
                Viana melongo. Hah? Nikah gitu? Viana merunduk malu. Ia tak bisa membayangkan kalau seandainya ia memang beneran nikah sama…
                “KENA !!!”
                Viana mendengus kesal lagi.
Post a Comment